
Mei merasa bingung kenapa sampai malam kedua orang yang begitu dia takuti tak datang.
sedang di gudang itu, Javis sedang duduk melihat kedua orang itu, "kalian yang membuat tubuh Mei penuh luka?"
Deni dan Topan saling melihat, mereka bingung bagaimana Javis bisa tau tubuh Mei terluka.
Javis memberi kode pada Iwan untuk membuka lakban di mulut pria itu.
"memang kenapa, dia itu cuma wanita yang tak tau di untung, kami menganggap dirinya sebagai saudara meski dia cacat, tapi dia merebut semua harta orang tuaku, jadi kami ingin membunuhnya, tapi sepertinya dia itu bukan manusia, karena bisa bertahan dengan semua siksaan yang aku berikan, ha-ha-ha-ha," kata pria itu
"dia bodoh sepertinya," gumam Fery.
"sudah diamlah," saut Lukman.
"kalian membuat tubuhnya penuh dengan goresan dan luka yang dalam, kalian bahkan membuatnya minder dan tak ingin menikah, kalian benar-benar menghancurkan dirinya," kata Javis yang masih mencoba tenang.
"memang apa urusannya dengan ku, salah dia sendiri tak mati, dan sebenarnya kamu itu siapa? kenapa kamu ingin tahu segalanya tentang dia?" marah pria itu.
"mau tau, aku adalah pria yang akan melindunginya, dan di mulai dari menyingkirkan kalian berdua," kata Javis yang bangkit dari kursinya.
"lepaskan kami, ambil saja wanita itu, tapi jangan menyulitkan kami,"
"tapi sayangnya, aku tak ingin ada masalah di kemudian hari, jadi lebih baik kalian mati menyusul kedua orang tua kalian, anak-anak bereskan seperti biasa," kata Javis.
"sialan, kamu sebenarnya siapa, aku tak pernah mengusik mu,"
"ingat nama ini sebelum kamu mati, Javis Priyambudi."
pria itu kaget mendengar nama itu, "kamu berandal yang jadi momok menakutkan semua preman di kota Jakarta," kata pria itu.
"kamu mengenalku, berarti harusnya kamu tau bagaimana aku bertindak," terang Javis yang memberi kode pada anak buahnya.
kedua orang itu langsung di tarik dan di siksa dengan pukulan dan cambukan.
akhirnya mereka merasakan apa itu kesakitan sebelum ajal, dan dengan mudah Javis dan seluruh anak buahnya cuci tangan dan melempar kesalahan pada orang lain.
malam itu polisi mendapatkan laporan tentang peredaran narkoba di sebuah rumah mewah.
__ADS_1
dan saat para polisi menggerebek rumah itu tengah menjadi pesta narkoba yang begitu mewah.
bahkan polisi menemukan berbagai jenis narkoba yang jarang di gunakan di Indonesia.
polisi menggeledah semuanya, dan merek menemukan dua mayat di dalam ruang bawah tanah.
di sana juga ada tumpukkan ganja jenis tembakau gorila dan juga sabu dua kilo.
akhirnya polisi pun menangkap pemilik rumah dan semua orang yang ada di dalamnya.
"bos polisi pasti senang bisa menggrebek tempat itu, karena semua bukti kuat, pasti pemilik rumah tak bisa berkutik," kata Deni.
"itulah kenapa kalian harus menjaga kepercayaan, karena aku tak segan untuk membuat mereka berakhirnya seperti ini, apalagi kalian," kata Javis.
ya pemilik rumah itu ternyata ketahuan mengelapkan uang tempat judi milik Javis.
jadi dia mengambil semuanya dengan cara seperti ini, dan itu sangat menguntungkan di banding jika harus membunuhnya begitu saja.
pria itu juga tak bisa buka mulut karena semua keluarganya bisa dalam bahaya karena Javis.
terlebih dia tau jika pria itu tak segan menjual wanita dan anak-anak yang telah melakukan penghianatan.
Javis datang bersama anak buahnya untuk sarapan di tempat Mei, Javis menerima pesan dari Mei.
"loh bos," kata Lukman yang ingin menghentikan pria itu.
tapi Iwan menghentikannya, "biarkan, sepertinya bos sedang kasmaran,"
benar saja, Javis menemui Mei yang ada di bagian dalam warung, terlihat dia sedang menyiapkan pesanan.
"tunggu di dalam, ada yang ingin aku sampaikan," kata Mei.
"baiklah nona," jawab Javis yang langsung masuk kedalam rumah.
Mei selesai membuatkan pesanan, dan membuatkan sarapan untuk Javis, dan membawanya masuk.
Mei duduk di sebelah pria itu, "mas beberapa hari ini sepertinya ke luar kota ya, tak datang ke warung,"
__ADS_1
"kan aku sudah bilang, kenapa kamu merindukan ku?" tanya Javis menggoda Mei.
"ha-ha-ha, mas bercanda nih, sudah makan dulu gih, dan mas masih punya hutang bercerita tentang apa yang mas pernah alami, jika memang masih berniat menikahi ku," kata Mei pada Javis.
"tentu, tapi tidak sekarang, tunggu aku siap ya sayang," kata Javis tersenyum.
Mei pun mengalihkan pandangannya, dia tak bisa melihat wajah Javis seperti itu.
tapi tiba-tiba dia mendapatkan telpon dari nomor tak di kenal, "iya selamat pagi,ada apa ya pak,"
"apa ini benar keluarga dari pak Indrajit dan ibu Sumirah, kami dari kepolisian ingin mengabarkan, jika keduanya telah menjadi korban pembunuhan, dan sekarang jenazah keduanya ada di rumah sakit, bisa anda kesini untuk memastikan dan menyelesaikan semua adminitrasi," kata polisi itu.
"iya pak," jawab Mei.
Javis sudah makan habis semua nasinya, "ada apa Mei?"
"aku dapat kabar kalau paman dan bibiku menjadi korban pembunuhan," kata Mei.
"hah... benarkah, ayo aku antar," kata Javis yang mengajak Mei pergi.
dia membawa mobil L300 yang sebenarnya akan di buat membawa hasil panen kacang tanah, tapi ini lebih penting.
sesampainya di rumah sakit, mereka menuju ke ruang administrasi dan di arahkan ke ruang jenazah.
Mei mendengar semua penjelasan polisi, dan Javis juga menemani, toh polisi tak tau wajah asli seorang ketua berandal terkenal itu.
Mei berdiri menatap kedua orang yang terbujur kaku itu, "aku berterima kasih pada orang yang membunuh kalian, setidaknya sekarang kalian tak akan menyusahkan aku lagi," batin Mei.
Javis pun merasa puas karena semua pekerjaan anak buahnya sangat sempurna.
tak butuh waktu lama, semua sudah di urus dan mereka bisa pulang membawa dua jenazah itu.
dan mereka akan menguburkannya sesuai dengan apa yang seharusnya, di bantu Javis dan semua anak buahnya.
pemakaman itu berjalan lancar tanpa kendala, dan setelah itu mereka pun pamit pergi.
sedang Javis menemani Mei yang lanjut ziarah ke makam kakek nenek serta kedua orang tuanya.
__ADS_1
"apa aku boleh memperkenalkan mu mas?"
"tentu Mei, salam kenal Semuanya, saya adalah calon suami Mei, semoga kalian semua bisa bahagia menyaksikan semua dari surga," kata Javis yang mengenggam tangan wanita itu.