
"Biar kubantu!" Tawar John mengulurkan jemari tangannya untuk membantu Alexa keluar dari kamar perawatan ke parkiran mobil.
Esok harinya, Alexa benar-benar sudah diizinkan pulang karena kondisinya memang lebih baik dari sebelumnya. Hanya keluhan mual di awal trimester kehamilan, dokter memberikan obat pencegah mual.
Josh menatap kedua pasangan itu berjalan menuju lift lantai lima kamar VIP rumah sakit. Josh ingin mendekat tapi dia tak punya keberanian untuk menyapa pasangan itu. Dia akan merelakan semuanya demi kakaknya yang berjanji akan menyayangi anak dalam kandungan kekasihnya itu.
Flashback on
"Kakak yakin akan bertanggung jawab pada bayi itu?" John menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Aku mencintainya Alexa Josh, aku akan berusaha menerima anak itu juga." Jawab John.
"Kakak tak berusaha mencari ayah kandungnya?" Tanya Josh lagi.
"Tidak. Aku tak akan sanggup berpisah dengannya."
"Apa dia menerima lamaran kakak?" keduanya kini duduk di bangku taman rumah sakit menatap ke depan, banyak pasien yang sedang mencari udara segar di taman tersebut juga.
"Aku tak menerima penolakan Josh. Aku akan memaksanya."
"Itu artinya dia menolak kakak?" John menggelengkan kepalanya.
"Dia butuh waktu untuk menjawabnya. Aku pun perlu bicara pada Daddy dulu." Josh terdiam, dia tak bisa menjawab apa lagi.
"Bagaimana jika suatu saat ayah kandung anak itu datang? Bisa saja dia ingin bertanggung jawab tapi Alexa tak bisa menerimanya karena masih menjadi kekasih kakak." Tanya Josh membuat John seketika menoleh ke arah sang adik mencerna ucapan adiknya.
"I-itu... Alexa tak mengatakan apapun." Ucap John mengusap rambutnya kasar merasa frustasi. Membenarkan ucapan adiknya.
__ADS_1
"Apa dia tak mengatakan siapa ayah kandung bayi itu?" John lagi-lagi menggeleng bingung.
"Semoga seandainya Alexa menerima lamaran kakak, kakak bisa menyayangi bayi itu seperti bayi kandung kakak." Hibur Josh.
"Aku berharap begitu juga Josh."
Flashback off
"Kita sudah sampai." John segera turun dari mobil membantu Alexa turun.
"Terima kasih." John lagi-lagi memapah Alexa meski sebenarnya Alexa menolak. Namun John memaksakan diri.
"Hati-hati." Titah John berulang kali saat menuju apartemen Alexa.
"Kau sudah berkali-kali mengatakan hal itu John, aku sampai bosan." Kesal Alexa yang merasa mood nya mendadak buruk.
"Biarkan aku jalan sendiri saja." Alexa menyentak papahan John.
"Bisakah kau menurut?" Ucap John lembut setelah menyadari kesalahannya dan menghela nafas panjang mencoba mengendalikan dirinya.
"Asal kau tidak mengomel seperti ibu-ibu." Ucap Alexa.
"Baiklah. Maafkan aku." Ucap John mengalah membuat mood Alexa seketika kembali senang.
.
.
__ADS_1
"Selamat datang nona." Sapa beberapa maid dari dalam apartemen Alexa membuat Alexa menganga mendapati ada lima maid di apartemen sempitnya.
"Si-siapa mereka?" Tanya Alexa kembali mendekati John. Dia tak tahu akan ada maid berjajar rapi di depan pintu masuk apartemen sempitnya.
"Mereka maid dari mansion Daddy, mereka akan melayani semua kebutuhamu." Jawab John santai.
"John, apa kau gila! Mana mungkin apartemen sempit ku bisa menampung mereka semua." Tolak Alexa.
"Tenang saja mereka bisa tidur di mana saja." Jawaban John santai.
"Bukan masalah itu, pasti apartemenku yang sudah sempit semakin sempit." Keluh Alexa.
"Sudah kukatakan untuk sementara tinggal di apartemenku kan?" Ucap John.
"Tidak, terima kasih. Bagaimana kalau satu maid saja?" Tawar Alexa karena tak mungkin menolak keinginan John yang selalu memaksakan kehendaknya.
"Tidak."
"Please John. Atau tidak sama sekali." Tawar Alexa lagi.
"Dua."
"Baiklah." Jawab Alexa menghela nafas berat.
.
.
__ADS_1
TBC