
"Tuan, nona Alexa pingsan." Ucap suara maid di seberang setelah membawa Alexa ke rumah sakit. Maid itu tidak tahu yang dihubungi adalah Josh, bukan calon suami majikannya. Maid itu juga tidak tahu kalau Alexa sedang hamil karena dia masih sangat muda untuk menjadi seorang maid di keluarga Ramirez atas perintah Leonardo.
"Apa? Dimana sekarang bi?" Tanya Josh bergegas melepas jas dokternya untuk pergi setelah menyambar kunci mobil dan dompetnya.
"Saya sekarang sudah di rumah sakit kota tuan, nona Alexa sedang ditangani di UGD." Jawab maid itu takut-takut.
Dia mendapat nomor ponsel Josh dari maid yang lain yang tidak sengaja memberikan nomer ponsel Josh karena keluarga Ramirez tahunya hanya John apalagi para maid yang bekerja di keluarga Ramirez.
Beberapa hari lalu saat Josh mengantar makanan yang diinginkan Alexa berdasarkan perintah sang kakak. Josh meninggalkan nomer ponselnya karena dia cemas melihat wajah pucat Alexa karena mual dan muntah karena hormon kehamilannya. Itulah sebabnya maid itu mengira kalau Josh adalah orang yang sama, calon suami sang nonanya.
"Aku segera kesana!" Putus Josh melangkah lebar menuju ruang UGD yang terletak di lantai satu dan dia kini sedang ada di ruangannya yang berada di lantai delapan sungguh jauh, batin Josh mengeluh.
Josh terus menatap nomer lantai yang dirasakannya sangat lambat berganti. Dia sudah merasa cemas dengan keadaan Alexa. Padahal dia mendapat kabar kalau sudah dua hari ini Alexa tidak mual dan muntah lagi.
Ting
Lift terbuka tepat di lantai satu, Josh segera berlari menuju ruang UGD. Tak ada penumpang yang ada di dalam lift karena dia memakai lift khusus pegawai yang saat itu memang sedang jam kerja sehingga para perawat dan dokter sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Drap
Drap
Drap
__ADS_1
Josh berlari sekencang mungkin ke arah ruang UGD dengan perasaan tak sabar. Bahkan dia berkali-kali menabrak orang lewat dan langsung meminta maaf dengan tergesa-gesa. Beruntung bukan pasien yang ditabraknya sehingga dia tidak membuat celaka orang yang ditabraknya.
Josh melihat seorang wanita muda memakai pakaian maid berdiri dengan gelisah di depan ruang UGD yang sedang mondar-mandir di depan ruangan. Josh sudah bisa menebaknya kalau dialah maid yang menghubunginya tadi.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Josh dengan raut wajah kecemasan.
"Nona masih diperiksa tuan, dokter bahkan belum keluar setelah setengah jam di dalam." Jawab maid itu gugup merasa takut disalahkan. Padahal dia tidak lama meninggalkan nonanya setelah makan saat dia membawa piring bekas makan sang nona ke dapur.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Josh berusaha sabar meski dia ingin marah tapi tak tega melihat wanita yang ditebaknya berusia jauh di bawahnya.
"Nona habis makan tuan, nona juga sudah tidak mual dan muntah. Saat saya sedang meletakkan bekas piring makan nona, saat saya kembali nona sudah pingsan di lantai." Jelas maid itu takut-takut sambil terus menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Josh menghela nafas panjang, dia ingin sekali menerobos masuk ke dalam ruang UGD tersebut meski sebenarnya dia berhak karena dia adalah direktur utama rumah sakit. Namun belum sampai dia memaksa masuk, dokter Mira keluar dari dalam ruang UGD menghampiri maid dan Josh.
"Sepertinya nona banyak pikiran. Terlihat dia kelihatan stres dan tertekan. Entah apa yang nona pikirkan, seharusnya ibu hamil tidak boleh banyak berpikir di saat kondisinya lemah seperti ini." Jelas dokter Mira membuat Josh terdiam.
"Apa? Alexa hamil?" Pekik seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Josh hingga Josh dan sang maid serta dokter Mira mengikuti arah suara yang terdengar melengking.
"Maaf nyonya, ini rumah sakit. Tolong kecilkan suara anda!" Tegur dokter Mira menatap wanita paruh baya yang berpakaian glamor penuh kemewahan.
"Apa yang dokter katakan tentang anak itu? Benar dia sedang hamil? Pantas saja akhir-akhir ini dia sering mual. Meski dia selalu mengelak untuk mengaku. Dasar gadis murahan." Kesal Maria tanpa tedeng aling-aling tak peduli ada Josh juga di situ. Tadi dia sibuk menyiapkan persiapan pernikahan untuk Alexa yang harusnya akan dilaksanakan besok. Namun tak disangka ternyata dia mendengar kabar yang menurutnya sangat menyenangkan untuk digosipkan.
"Jaga ucapan Tante! Lebih baik segera pergi dari sini! Saya tidak membutuhkan tante untuk ikut campur urusan Alexa!" Ancam Josh menatap Maria dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Huh.. ternyata tebakanku benar saat hari itu dia pulang pagi. Untung saja kau mau bertanggung jawab. Membuat malu nama baik keluarga saja." Ucap Maria dengan ejekan yang terdengar menyakitkan itu. Dokter Mira dan maid tadi yang tidak sengaja ikut mendengarkan hanya terdiam memikirkan hal-hal yang entahlah.
"Bisa aku menemuinya?" Pinta Josh menatap dokter Mira setelah Maria pergi.
"Dia masih dalam pengaruh obat bius dok. Jadi biarkan dia istirahat sebentar. Biarkan dia bangun dengan sendirinya!" Saran dokter Mira.
"Aku hanya akan melihatnya." Pinta Josh sekali lagi setengah memaksa.
"Ba-baiklah. Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jawab dokter Mira akhirnya.
Sedang maid tadi diminta pulang oleh Josh karena dia bisa merawatnya sendiri. Josh menatap ranjang yang didorong oleh beberapa perawat menuju ruang VIP yang dipesan Josh yang berada di lantai lima.
Josh mengikuti langkah mereka sambil menatap sendu wajah Alexa yang memucat dengan pipi yang semakin tirus. Tiba-tiba dia merasa bersalah karena tak bisa menjaganya di sisinya. Dan kakaknya seolah menghilang tak mau walau hanya sekedar melihat Alexa.
Untung saja janinnya masih bisa diselamatkan. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin dia tidak akan tertolong. Kondisi tubuhnya sungguh sangat lemah. Josh kembali terngiang-ngiang ucapan dokter Mira tentang kondisi janin Alexa dan lagi-lagi dia merasa bersalah pada keduanya.
Kau harus sembuh. Kau harus kuat. Batin Josh menyemangati dalam hatinya.
.
.
TBC
__ADS_1