
John beranjak dari duduknya saat melihat mata Alexa mengerjap setelah tidur panjangnya setelah dipindahkan dari ruang intensif. John tersenyum lebar saat Alexa menatapnya lekat. Mungkin dia sedang menilai kalau dirinya adalah adik kembarnya. Meski John merasakan rasa tak suka yang menyusup di hatinya.
"Kau bangun?" Tanya John lembut yang langsung dijawab Alexa dengan senyuman lebar saat tahu siapa pria di hadapannya ini. Pria yang sudah menjadi kekasihnya dua tahun ini. Calon suaminya.
"Kau datang?" Tanya Alexa terdengar masih lemah.
"Maaf... aku sibuk mengurus pekerjaan di luar kota." Jawab John merasa bersalah masih berusaha menunjukkan senyumannya.
"Terima kasih sudah datang." Ucap Alexa lemah membuat hati John mencelos merasa bersalah. Meski dia sakit beberapa waktu karena shock mengetahui perselingkuhan calon istrinya dan adik kembarnya namun John menyesal karena memilih untuk bersembunyi.
"Kau butuh sesuatu? Kau terlalu lama tidur, kau makan ya? Biar aku suapi?" Ucap John dengan memberondong. Alexa tersenyum mendengar suara John yang seperti sebelumnya, menunjukkan seolah tidak terjadi apa-apa pada mereka. Dan itu artinya dia belum tahu tentang ayah biologis janinnya.
"Kenapa?" Tanya John mengernyit heran melihat Alexa malah tersenyum.
"Boleh." Jawab Alexa sambil menganggukkan kepalanya lemah.
John tersenyum mendengar reaksi Alexa. Dia pun membantu Alexa duduk dengan hati-hati, bagaimana pun juga Alexa baru sadar dari masa kritisnya. Mesti dokter mengatakan sudah lebih baik, Alexa harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir keras. Atau akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Aa.... " Ucap John memberi contoh pada Alexa untuk membuka mulutnya sambil menyodorkan sesuap bubur yang dipesan khusus untuk pasien.
Alexa membuka mulutnya meski tidak bisa selebar biasanya karena masih merasakan tubuhnya lemah. Makanan bubur itu pun masuk ke dalam perut Alexa yang diterimanya dengan baik. Namun sudah setengah dari porsinya Alexa sudah merasakan perutnya kenyang. John tidak memaksa, dokter bilang asal bisa makan dengan benar keadaan Alexa dan janinnya akan baik-baik saja.
"Minumlah!" Pinta John sambil menyodorkan segelas air dengan sedotan agar memudahkan Alexa untuk minum.
"Terima kasih." Ucap Alexa dengan senyum yang terus terpatri di bibirnya.
"Apapun untukmu." Jawab John dengan senyum pula yang menular dari senyuman Alexa.
Josh terdiam di jendela ruang perawatan Alexa. Mengurungkan niatnya untuk masuk melihat interaksi kedua pasangan di dalam. Interaksi kemesraan yang ditunjukkan keduanya membuat hati Josh mencelos, kalau Alexa begitu sangat mencintai kakaknya meski dia sedang hamil anaknya.
__ADS_1
Dan sepertinya kakaknya akan tetap melanjutkan pernikahan mereka meski tahu siapa ayah biologis janin yang dikandung Alexa. Josh terdiam terlihat berpikir. Memikirkan jika dia merebut Alexa dari kakaknya demi janin mereka. Namun malah membuat Josh meringis saat tahu apa yang akan terjadi dengan Alexa selanjutnya.
Alexa tidak mencintainya dan mereka belum tentu bahagia. Meski John tidak keberatan dengan janin yang dikandung Alexa namun mereka saling mencintai. Sudah bisa ditebaknya kalau kehidupan rumah tangga mereka nantinya tentu akan bahagia. Dan anak itu tentu tak masalah akan dianggap seperti anak mereka sendiri.
Apa lagi-lagi aku harus merelakan mereka? Batin Josh berkecamuk terlihat mengepalkan jemari tangannya.
Mungkin itu lebih baik, toh jika dia berjuang tak akan mungkin bahagia karena tak ada cinta diantara mereka hanya karena janin itu mereka disatukan. Batin Josh memilih pergi untuk meninggalkan ruang perawatan Alexa dengan langkah lunglai yang tak bersemangat.
John hanya menyeringai dari tempatnya berdiri di sisi ranjang Alexa saat tahu seputus asa adik kembarnya itu. Katakanlah dia jahat, tapi dia tidak akan memaafkan seorang pengkhianat. Meski dia sebenarnya sudah tidak mampu berpura-pura untuk tidak terjadi apa-apa saat bersama Alexa. Namun dia harus melakukan hal itu karena mereka tega telah mengkhianatinya.
"Kau tak kerja?" Dua kali Alexa menanyakan hal itu pada John yang terlihat melamun.
"Eh... i-iya... aku bekerja dari sini sambil menjagamu." Jawab John tersenyum lebar menatap Alexa. Meski Alexa melihat John sedikit berbeda dari biasanya namun Alexa menepis hal itu dia memilih untuk berpikir positif demi janinnya baik-baik saja. Dia akan merasa bersalah jika sampai terjadi apa-apa dengan janinnya.
"Dokter Mira mengatakan aku sudah mulai membaik. Kau pergilah untuk bekerja!" Usir Alexa halus karena tak mau merepotkan John karena dia tahu sesibuk apa John di kantor karena dia pernah menjadi sekretaris yang mendampinginya lebih dari tiga tahun.
"Terima kasih. Aku mencintaimu John." Ucap Alexa menggenggam jemari tangan John dengan lembut sambil mengecupi punggung tangan itu.
John terdiam tak mampu menjawab ungkapan pernyataan cintanya. Entah karena perasaan John sudah menghilang atau karena dia sudah merasakan hambar hubungan mereka. John hanya tersenyum.
"Boleh... aku... bertanya sesuatu?" Tanya Alexa ragu setelah John terlihat menatap tabletnya untuk mulai bekerja dan Alexa disuruhnya istirahat karena baru saja minum obat setelah sarapan tadi.
"Katakan saja!" Jawab John menatap Alexa.
"Apa... pernikahan kita... batal?" Ragu sebenarnya Alexa untuk menanyakannya karena beberapa waktu lalu selain karena ucapan ayahnya dia juga kaget mendengar pernikahan mereka diundur.
John terdiam sebentar mendengar pertanyaan yang Alexa ajukan. Dia menatap Alexa lekat, tentu saja rasa cintanya masih banyak untuk wanita yang sedang hamil anak pria lain ini. John pun menghela nafas panjang dan berat.
"Apa kau ingin membatalkannya?" Tanya balik John menatap Alexa lekat. Alexa terdiam menatap intens wajah John.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa menerima janinku?" Tanya Alexa.
"Apa maksudmu?"
"Aku dengar kau... menunda pernikahan kita... karena tidak bisa menerima janinku. Apa kau.."
"Apa maksud dari pertanyaanmu? Apa aku setega itu menyuruhmu untuk menggugurkan kandunganmu meski itu bukan milikku? Huh... aku tidak sejahat itu Alexa. Aku menerimamu juga janin yang ada di kandunganmu. Tunggu! Apa pria itu sudah mau bertanggung jawab atas janinku?" Ucap John masih berusaha tenang tak mau membuat Alexa kembali drop.
"Bu-bukan seperti itu. A-aku tidak bertemu dengannya. A-aku takut kau ... terpaksa menerima janin ini." Jelas Alexa gelagapan.
Sampai kapan kau akan berbohong Alexa, bahkan aku sudah tahu siapa ayah biologis janin itu. Kenapa kau tak jujur saja. Batin Alexa.
"Lalu, apa jika aku mengatakan tidak menerima janin itu kau akan menggugurkannya? Dan apa kau ingin aku jadi pria paling jahat di dunia karena ingin menggugurkan janin tidak bersalah itu? Dan aku pasti akan menyesal seumur hidupku. Aku tidak setega itu seperti ayahmu Alexa. Tidak." Hati Alexa mencelos ayahnya disinggung. Memang ayahnya mengatakan untuk menggugurkan kandungannya agar pernikahan mereka tetap berjalan.
"Maaf John. Maafkan aku. Bukan maksudku seperti itu. Kau salah paham. Dan... mengenai ayahku. Meski dia memintaku untuk mengugurkan kandunganku agar pernikahan... tetap berjalan. Aku akan tetap mempertahankan janin ini. Dan jika..."
"Dan jika aku tidak menerima janin ini kau akan membatalkan pernikahan kita begitu?" Ucap John membuat Alexa menundukkan kepalanya merasa bersalah merasa tebakan dibenarkan John.
"Huff... dengar aku!" John menangkup kedua pipi Alexa dan mendongakkan kepalanya padanya. Mereka pun saling menatap satu sama lain.
"Aku... mencintaimu. Apapun yang ada dirimu aku akan terima semuanya. Kau mengerti?" Ucap John menatap Alexa tajam meyakinkannya. Alexa menganggukkan kepalanya berkali-kali hingga air matanya mengalir karena merasa terharu dengan ucapan John. Pria baik hati yang sangat mencintainya.
John mendekap tubuh ringkih itu merasa bersalah. Sesaat saat dirinya mengatakan cinta pada Alexa tadi, sekelebat bayangan Josh dan tak lama bayangan Helena juga muncul tadi membuat John hendak mengurungkan pernyataan cintanya tadi.
.
.
TBC
__ADS_1