
"Istirahatlah! Aku akan kembali ke kantor. Untuk sementara tugasmu akan digantikan Evan." Ucap John setelah selesai membenahi selimut Alexa.
"Besok aku sudah bisa bekerja." Jawab Alexa menatap John penuh harap.
"Bisakah kau istirahat lebih banyak? Bukankah kita akan segera menyiapkan pernikahan juga? Aku tak mau kau kecapekan." Bantah John.
"Aku belum mengatakan iya?" Jawaban Alexa membuat John terdiam. Keduanya pun sama-sama terdiam tak ada yang bicara. Alexa merasa bersalah, tapi dia tak mau memanfaatkan perasaan kekasihnya untuk bertanggung jawab atas bayinya.
"Aku tak mau dibantah." Jawab John mengecup kening Alexa tanpa membiarkan Alexa untuk membantah lagi.
"John?" Panggilan Alexa bahkan tidak digubris John yang langsung pergi meninggalkan apartemennya.
.
.
John menghela nafas panjang menatap tabletnya. Dia menghentikan pekerjaannya karena kembali terngiang dengan penolakan Alexa tadi. Dia sudah memikirkan beberapa hari yang lalu mengenai bayi dalam kandungan kekasihnya. Dia sudah meminta orang kepercayaannya untuk menyelidiki siapa ayah biologis bayi kekasihnya. Namun hasilnya nihil, seolah bukti dan cctv di tempat kejadian sudah dihapus untuk menghilangkan jejak.
Karena perasaannya pada kekasihnya, dia berniat berbesar hati untuk menerima bayi dalam kandungan wanita yang dicintainya asal itu anaknya yang entah siapa ayah biologisnya.
"Apa kau tidak menemukan apapun disana Evan?" Tanya John setelah teringat titahnya pada Evan.
"Maaf tuan, semuanya nihil. Sepertinya dia memang ahli di bidangnya." Jawab Evan penuh penyesalan. Bahkan dia sudah memperkerjakan IT terbaik, namun tetap gagal.
John lagi-lagi menghela nafas panjang.
"Apa persiapannya sudah selesai?" Tanya John tentang hal lain yang tentu saja sudah dapat langsung dimengerti oleh Evan.
"Sudah sembilan puluh persen tuan."
"Terima kasih Van."
"Sudah menjadi tugas saya tuan."
"Kau memang bisa diandalkan."
__ADS_1
"Terima kasih tuan."
.
.
"Tuan muda John." Panggil seorang wanita saat John hendak masuk ke dalam lift menuju ruangannya.
"Camila?" Ucap John mengernyitkan keningnya.
"Maaf tuan, bagaimana kabar Alexa? Sudah tiga hari ini dia sulit dihubungi. Ponselnya juga mati. Kudengar dia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit? Apa sakitnya parah? Saya tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, apartemennya juga kosong." Ucap Camila beralasan dengan suara lembut yang mendayu-dayu seperti biasanya jika mereka bertemu saat bersama Alexa juga.
Namun karena Alexa sangat menyayangi sahabatnya itu, dia tidak curiga. Namun John bukan orang yang bodoh karena kepolosan kekasihnya tentang sahabatnya itu. Dia tahu betul sahabatnya itu sedang merencanakan hal licik untuk menarik perhatiannya. Namun dia tetap diam selama tidak merugikannya.
"Kalau kau sahabatnya, seharusnya kau tahu apa yang terjadi padanya." Jawab John dingin tidak seperti saat bersama Alexa dan Camila. Camila merasa terkejut dengan reaksi dingin John padanya. Namun dia tidak akan menyerah.
"Ah, setelah malam sebulan lalu, saya..." John melotot mendengar ucapan Camila, itu artinya kemungkinan besar sahabat kekasihnya itu tahu tentang siapa ayah biologis.
"Apa yang terjadi malam itu?" Ucap John menyentak Camila tiba-tiba. Camila yang sudah mengira kalau John belum mengetahui yang terjadi malam itu tersenyum seringai tipis meski tak ada yang menyadarinya.
"Kita bicara di ruanganku." Ucap John setelah melihat sekeliling, para karyawan pura-pura bekerja dengan mencuri pandang pada mereka.
"Ba-baik tuan." Jawab Camila tak kalah bahagia melihat reaksi pria idamannya itu.
Camila ikut masuk ke dalam lift khusus eksekutif itu dengan senyum kemenangan. Dia akan menggunakan hal itu jika bisa menarik perhatian John. Sudah sangat lama dia menginginkan pria ini, apalagi saat mendengar bagaimana romantis dan perhatian pria dingin yang tak lain adalah CEO di tempatnya bekerja itu.
Ting
Pintu lift pun terbuka, John keluar lebih dulu diikuti Evan lalu berikutnya Camila yang menatap tempat keluar lift sangat menarik perhatiannya. Dia memang tak pernah datang ke kantor CEO meski hanya untuk menemui Alexa. Dia lebih banyak ditugaskan di luar kantor sesuai pekerjaannya.
Cklek
Evan membukakan pintu ruang kerja John yang langsung diikuti Camila. Namun Evan memilih untuk kembali ke ruangannya menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena sering ditinggal untuk mengurus titah tuannya menyiapkan acara peringatan kematian mendiang nyonya besar.
"Duduk!" Titah John sambil duduk di sofa single, sofa utama.
__ADS_1
"Ba-baik tuan." Jawab Camila pura-pura gugup dan duduk dibuat seanggun dan seelegan mungkin demi menarik perhatian John.
"Apa yang terjadi malam itu? Malam kapan itu? Katakan semuanya yang kami ketahui!" Titah John menatap dingin dan intens pada Camila membuat Camila semakin besar kepala diperlakukan seperti itu.
"Bu-bukankah Alexa sudah mengatakan semuanya pada anda tuan?" Ucap Camila balik bertanya dan tentunya itu semua strategi Camila untuk tarik ulur.
"Katakan dari sudut pandang mu." Jawab John beralasan tak mau diperlakukan seperti orang lain oleh kekasihnya karena setahu Camila mereka saling mencintai. Meski dia yakin yang dikatakan Camila tidak sepenuhnya benar, tapi dia ingin mencoba mencari tahu apa yang akan dikatakan Camila padanya.
"Sebenarnya.. ehm..." Ucap Camila ragu menatap John lekat. John hanya mengangkat alisnya seolah bertanya 'apa'.
"Apa aku boleh mengatakannya? Aku juga belum bertanya pada Alexa apa boleh mengatakannya pada anda." Ucap Camila berteka-teki membuat John semakin mencurigai sesuatu meski kebenaran ucapan Camila harus dicari kebenarannya.
"Bukannya kalian bersahabat?" Ucap John.
"Justru karena kami bersahabat, saya tidak mungkin mengatakannya. Tapi, jika Alexa sudah mengatakannya pada anda, saya akan mencoba bicara dari sudut pandang saya." Ucap Camila membuat John tak sabar.
"Kau mau mengatakannya atau tidak?" Tanya John menatap Camila dingin. John mulai kehilangan kesabarannya.
.
.
Josh terdiam di ruang kerjanya. Dia menatap kosong ke arah depan. Dia bahkan tak sempat bertemu dengan Alexa untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka. Apalagi kakaknya berniat tanggung jawab pada calon anaknya dan berjanji untuk menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Itu mungkin karena dia belum tahu, kalau dia lah ayah biologis bayi itu. Bagaimana kalau dia tahu hal itu?
Josh mengusap wajahnya kasar merasa frustasi. Menurutnya, asal tidak ada yang bicara, kakaknya pasti tidak akan tahu tentang hubungan mereka. Tapi, bagaimana pun juga mereka saudara, intensitas pertemuan mereka tentu saja akan lebih sering. Dan kemungkinan calon bayi itu mirip dengannya fifty fifty.
Lagi-lagi Josh menghela nafas panjang dan berat. Dia mencoba berpikir positif mungkin kakaknya akan tetap menyayangi calon bayi tersebut.
"Tidak. Kau harus menemuinya." Tegas Josh melepas jas dokternya dan memakai jas kerja formalnya. Kakinya melangkah menuju tempat dimana seseorang yang ditujunya berada.
.
.
TBC
__ADS_1