Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 31


__ADS_3

Josh terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Entah pura-pura sibuk atau memang sibuk. Bahkan sudah tiga hari ini dia tidak pulang ke mansion keluarganya dengan alasan sibuk itu pula. Selain di mansion keluarganya banyak orang yang sedang sibuk mengurus pernikahan kakaknya. Josh sendiri merasa tak nyaman bersama dengan orang asing meski itu di mansionnya sendiri.


Dia masih memikirkan kejadian beberapa waktu lalu saat diusir secara halus dengan penuh permohonan oleh calon istri kakaknya itu. Selain dia sedang mengandung anaknya, entah kenapa semakin kemari ada sedikit perasaan tak rela calon anaknya akan memanggil orang lain ayah sedang dirinya hanya harus menerima panggilan uncle untuknya.


Huff... Josh menghela nafas panjang dan berat. Mau tidak mau dia harus merelakan kebahagiaan untuk orang lain yang tak lainnya kakak kembarnya.


Suara getar ponselnya membuat Josh mengalihkan pikirannya menatap ponselnya di meja yang tiba-tiba menyala menandakan ada panggilan masuk.


Baru dipikirkan tiba-tiba menghubungi. Batin Josh.


"Ya kak?" Jawab Josh langsung.


"Assalamualaikum Josh." Jawab yang di seberang membuat Josh tersenyum.


"Wa'alaikum salam kak." Ucap Josh.


"Bisa aku minta tolong?" Pinta John ragu.


"Katakan saja kak!"


"Ku tidak sibuk kan?" Tanya John lagi.


"Akan ku tinggalkan pekerjaanku jika kakak membutuhkan bantuanku." Jawab Josh yakin membuat John tertawa di seberang.


"Thanks my brother." Ucap John yang disambut tawa akrab Josh.


"Apa yang kakak butuhkan?" Tawar Josh.


"Begini... kau tahu aku sedang sibuk mengurus perusahaan dan pekerjaanku kurang lebih banyak agar saat hari H pernikahanku pekerjaanku tidak mengganggu nantinya." Jelas John menjeda ucapannya.


"Katakan langsung kak!" Ucap Josh tidak sabaran.


"Ah kau benar. Bisa kau temui Alexa untukku?" Josh terdiam dengan tubuh menegang mendengar nama itu diucapkan.


"Kenapa kakak tidak kesana sendiri langsung?" Tanya Josh mencoba menghilangkan refleks terkejutnya.


"Kau kan tahu kami sedang dipingit."


"Kakak benar-benar melakukannya?"


"Jangan menggodaku Josh! Kau akan mengalaminya sendiri nanti." Kesal John pura-pura membuat tawa Josh di seberang terdengar renyah.


Semoga aku mengalaminya nanti, apa itu mungkin? Batin Josh terdiam setelah tawanya berhenti.


"Apa yang bisa kulakukan kak?"


"Tolong antarkan makanan pesanan untuk Alexa! Dia sedang menyidam sekarang. Kau tahu kan mual dan muntahnya semakin parah saja." Keluh John membuat Josh terkejut. Dia tidak mencari tahu informasi tentang keadaan Alexa setelah dia diusir beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Kenapa kakak tidak menyuruh asistenmu?" Usul Josh.


"Pekerjaanku banyak Josh. Aku tak mau mengerjakannya sendiri. Aku ingin segera cepat selesai, tapi kau tahu sendiri seperti apa pekerjaanku." Keluh John beralasan. Bukan karena asistennya banyak pekerjaan dan dia tak mau menyuruhnya. Ada yang ingin dipastikan mengenai kecurigaannya.


"Baiklah. Apa yang harus kulakukan setelah menemuinya?" Tanya Josh akhirnya meski dengan setengah terpaksa. Dia tak yakin akan diterima dengan baik oleh Alexa setelah kejadian beberapa waktu lalu.


"Kau memang saudara yang bisa kuandalkan, thanks Josh." Ucap John lega.


"Jangan sungkan kak!"


"Oh ya, Alexa sudah pulang ke mansion keluarganya." Ucap John menunggu respon Josh.


"Kak, apa kau yakin aku diizinkan menemuinya? Bukannya kalian dipingit? Mereka pasti akan mengira aku adalah kamu?" Ucap Josh teringat sesuatu.


"Tak masalah Josh, kau iyakan saja semua ucapan mereka. Kau hanya perlu menemui Alexa sambil mengantar pesanannya. Akhir-akhir ini dia tak bisa makan selain makanan ini." Keluh John lagi membuat Josh mengernyit.


"Makanan apa itu?" Tanya Josh.


"Telur rebus bumbu balado dan es krim rasa stroberi." Ucap John menunggu reaksi Josh yang entah bagaimana responnya. Josh adalah pria yang berwajah datar yang tidak bisa ditebak suasana hatinya dari ekspresi wajahnya.


"Bukannya..." Josh tak melanjutkan ucapannya.


"Kau pasti juga menebaknya kan? Makanan itu adalah makanan kesukaan Daddy, tak mungkin kan Alexa hamil anak Daddy? Daddy bukan pria yang akan selingkuh meski mommy sudah tiada." Ucap John membuat Josh tertohok. Entah kenapa ucapan John terdengar menuduh kalau Alexa sedang mengandung bayinya. Dan kebetulan juga kalau memang makanan kesukaannya memang mirip dengan makanan kesukaan daddynya.


Apa John tahu? Batin Josh bimbang.


"Apa maksudmu kakak? Aku tak mau kau suruh jika kau mengatakan hal itu lagi."


"Terima kasih Josh."


"Sama-sama kak."


"Oh y Josh, tolong kau tunggui dia sampai menghabiskan semua makanan itu. Pastikan dia makan dan menghabiskan semua itu tanpa mual ataupun muntah." Peringat John.


"Kenapa permintaanmu semakin banyak saja kak?" Canda Josh.


"Hahaha... Thanks my brother."


"You're welcome brother."


.


.


Disinilah Josh, berdiri di depan pintu gerbang mansion keluarga Ramirez. Josh menatap bungkusan yang ditentengnya. Dua paper bag berisi telur rebus bumbu balado dan es krim rasa stroberi yang ditebaknya akan segera mencair jika tidak segera dikonsumsi.


"Tuan muda Alensio!" Sapa penjaga gerbang, sekuriti mansion itu.

__ADS_1


"Bisa saya bertemu dengan Alexa pak?" Pinta Josh dengan wajah datar namun ramah.


"Tentu tuan muda, silahkan masuk!" Ucap sekuriti itu tanpa tahu prosedur pemingitan pengantin. Dia langsung membukakan gerbang pintu untuk Josh yang langsung kembali masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya di halaman mansion keluarga Ramirez itu.


.


.


"Silahkan masuk tuan muda! Akan saya panggilkan nona Alexa." Ucap seorang maid kembali masuk ke dalam setelah mengantar Josh ke ruang tamu. Josh hanya mengangguk mengikuti langkah maid itu.


"Non!" Panggil maid tadi sampai di kamar Alexa di lantai dua.


"Iya bi?" Jawab Alexa terdengar lemah karena mualnya.


"Ada tuan muda di depan nona?" Jawab maid itu setelah membuka pintu kamar Alexa setelah diizinkan dan memang tidak dikunci oleh Alexa.


"John?" Tanya balik Alexa menatap maid tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Betul nona. Sekarang sedang menunggu di ruang tamu." Jawab maid itu tersenyum melihat senyum sumringah bahagia di wajah pucat nonanya.


"Bantu aku ganti baju bi, aku ingin menemuinya." Jawab Alexa antusias menuju walk in closednya dibantu maid tadi.


"Baik nona."


Bukannya dia bilang waktu itu kami dipingit untuk tidak boleh saling bertemu? Kenapa di tiba-tiba datang kemari? Apakah dia sedang mencemaskanku? Batin Alexa tersenyum sumringah tak lepas dari bibirnya.


"Mari nona!" Ajak maid itu membantu Alexa yang masih terlihat lemas pasca mualnya beberapa waktu lalu.


Tap


Tap


Tap


"John! Kau datang!" Seru Alexa berlari kecil menghampiri Josh yang langsung berdiri melihat keceriaan serta antusiasnya yang seolah mengharapkan kehadirannya.


"Aku merindukanmu. Kau tahu aku berkali-kali mual dan muntah beberapa hari ini, apalagi setelah pulang dari apartemen." Cerita Alexa antusias sambil memeluk tubuh Josh yang dikiranya John itu. Bahkan tak terlintas di pikiran Alexa kalau dia sedang salah orang. Dia sudah mengusir pria itu beberapa waktu lalu, itulah sebabnya dia yakin kalau pria yang didekapnya ini adalah John bukan Josh.


Alexa mencoba menghirup aroma tubuh yang entah kenapa membuatnya nyaman dan rasa mualnya tadi tiba-tiba hilang berganti dengan kenyamanan membuat Alexa terbuai. Josh terdiam ikut merasakan nyaman pula dengan dekapan ibu dari janinnya.


"Aku mengantar pesananmu." Jawab Josh tak berusaha untuk menyangkal bahwa dia adalah Josh. Karena pesan John tadi untuk mengikuti apa kata orang-orang di mansion Ramirez.


"Benarkah?" Jawab Alexa antusias dengan senyum sumringah yang terus terpatri di bibirnya.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2