
"Dokter Helena!" Panggil Josh dari kejauhan terlihat terburu-buru menghampiri dokter Helena yang terlihat juga terburu-buru hendak pergi sambil membawa peralatan dokternya.
"Iya dok?" Jawab Helena berusaha profesional meski sebenarnya dia sedang terburu-buru untuk pergi.
"Anda mau keluar?" Tanya Josh melihat Helena ribet dengan barang bawaannya tanpa memakai jas dokternya padahal ini masih jam kerjanya.
"Ah, ada pasien pribadi saya yang sedang membutuhkan saya, saya juga sudah meminta izin pada profesor penanggung jawab pekerjaan saya ingin keluar sebentar." Jawab Helena tersenyum ramah.
"Ada yang ingin saya bahas dengan anda tentang operasi tadi pagi." Jawab Josh setelah berpikir lama yang sebenarnya juga enggan menahan Helena kalau tidak mengingat tentang pembahasan operasi tadi untuk menentukan langkah selanjutnya.
Helena tampak melirik jam tangannya sudah hampir dua puluh menit dia membuang waktu sementara yang menghubunginya mendadak tadi agar segera datang karena pasien sedang gawat membuat Helena sedikit terkejut dan kelimpungan. Untungnya operasi jantung yang dilakukan bersama Josh tadi sudah selesai meski juga memakan waktu yang lama.
"Apa bisa kita tunda nanti saja setelah saya kembali dok? Karena pasien saya sedang darurat. Saya takut terjadi sesuatu dengan pasien saya jika sampai saya terlambat datang." Pinta Helena menatap Josh penuh harap. Meski Josh temannya, dia tetaplah direktur utama rumah sakit dia tidak mungkin pergi sebelum mendapatkan izin darinya.
Sebenarnya prosedurnya dia harus izin pada direktur namun tak ingin ribet, Helena hanya minta izin pada profesor yang bertanggung jawab di atasnya dan berjanji kalau sudah selesai akan segera kembali, bagaimana pun juga ini berhubungan dengan nyawa pasien juga. Bukankah seorang dokter harus mengutamakan nyawa pasien yang sedang gawat juga? Profesor pun mengizinkan dan dia pun segera bergegas namun Josh ternyata mengetahui dirinya yang hendak 'melarikan diri'.
"Apa pasien pribadi anda sedang kondisi gawat dok?" Tanya Josh mengernyitkan dahi.
"Ah, sebenarnya dia pasien langganan papaku, namun karena kondisi tubuh papaku sudah tidak memungkinkan untuk segera dan cekatan. Saya menawarkan diri untuk menjadi pengganti papa." Jelas Helena yang berkali-kali melirik jam tangannya terlihat gelisah ingin segera pergi.
"Baiklah. Jika anda sudah kembali, temui saya di ruangan saya!" Tegas Josh tak mau menahan Helena lebih lama karena pasiennya sedang dalam keadaan darurat meski sebenarnya dia penasaran siapa pasiennya itu dan perasaan pekanya memaksanya untuk berpikir negatif namun Josh segera menepis pikiran buruknya dia hanya berharap pasien dokter Helena bisa segera ditangani jika dalam kondisi darurat.
Seingatnya dokter Frederick, papa dokter Helena adalah juga dokter pribadi keluarga Alensio. Selain semua keluarga besar Alensio, dokter Frederick hanya menjalankan prakteknya di rumahnya. Itupun hanya jam tertentu. Sempat tadi dia berpikir kalau Daddy nya lah yang sakit. Tapi tidak mungkin, daddynya lebih suka memanggilnya untuk memeriksa karena itu juga merupakan pesan dari mendiang mommy nya. Karena tak mau daddynya menyembunyikan penyakitnya dari sang putra.
"Uncle Rian?" Panggil Josh dari sambungan ponselnya setelah terhubung.
"Iya tuan muda kedua." Jawab Rian, asisten daddynya.
"Dimana uncle?" Tanya Josh.
"Uncle sedang bersama tuan besar tuan muda." Jawab Rian mengernyit mendapatkan pertanyaan yang tidak biasanya.
__ADS_1
"Daddy baik-baik saja kan uncle?" Tanya Josh terdengar nada cemas dalam suaranya.
"Tuan besar baik-baik saja tuan muda, sekarang beliau sedang beristirahat setelah menandatangani beberapa berkas yang mendesak." Jawab Rian terdengar nada suaranya juga santai tanpa ada yang ditutupi.
"Terima kasih uncle." Jawab Josh.
"Sama-sama tuan muda." Rian menatap layar ponselnya mengernyit heran karena tumben-tumbenan tuan muda keduanya itu menghubunginya menanyakan kondisi tuan besar padahal biasanya dia langsung menghubungi ponsel tuan besar sendiri. Dan mereka pun juga baru bertemu tadi pagi untuk sarapan bersama.
"Siapa Rian?" Tanya Jo sambil masih memejamkan matanya namun belum tidur dan menyimak asistennya itu bicara di ponselnya.
"Tuan muda Josh tuan." Jawab Rian sopan.
"Sepertinya laporan yang kau berikan tentang John sudah tembus ke perasaannya." Ucap Jo. Rian hanya diam menyimak.
"Apa kondisi John sudah lebih baik?" Tanya Jo.
"Sepertinya belum tuan, dokter Helena baru saja dihubungi lagi dihubungi lagi untuk segera datang." Jawab Rian.
"Jaga emosi anda juga tuan, bagaimana keadaan anda juga sedang tidak baik-baik saja!" Nasehat Rian ramah dan sopan karena kondisi tubuh Jo memang baru saja diperiksa oleh dokter Frederick yang terpaksa datang karena Jo tak mau diwakilkan siapapun pengganti dokter Frederick. Bahkan biasanya dia memanggil Josh untuk memeriksanya namun setelah kejadian dua kembar bersaudara itu Jo enggan memanggil Josh untuk memeriksanya.
"Bagaimana persiapan pernikahannya?" Tanya Jo mengalihkan pembicaraan.
"Sudah siap sembilan puluh persen tuan." Jawab Rian.
"Besok pagi bawa aku menemui John jika dia tidak pulang malam ini!" Titah Jo tegas dan mutlak.
"Tapi kondisi tuan..."
"Tidak ada bantahan!" Kesal Jo pura-pura tidur lagi.
"Baik tuan." Jawab Rian meninggalkan kamar pribadi tuan besarnya menuju ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan tuan besarnya.
__ADS_1
.
.
"Apa yang terjadi?" Tanya dokter Helena saat muncul di kamar hotel presiden suite John. Evan terlihat cemas menatap Helena penuh harap.
Evan tak menjawab hanya menoleh menatap ke arah John berbaring dengan mata terpejam dengan wajah penuh keringat dingin.
"Ada apa ini?" Seru Helena cemas segera mendekati ranjang John menyentuh dahi John memeriksa suhu tubuhnya.
"Saya mau membangunkannya untuk sarapan tapi tuan muda mengigau beberapa kali dan saya memaksanya untuk bangun tapi tidak segera bangun. Malah tuan muda berkeringat dingin menggigil seperti itu sejak tadi dan sulit untuk dibangunkan." Jelas Evan dengan raut wajah cemas dan khawatir.
"Seharusnya kamu menghubungiku sejak pagi kenapa baru sekarang?" Kesal Helena menatap Evan jengkel.
"Saya sudah menghubungi anda sejak pagi namun ponsel anda mati. Saya juga menghubungi rumah sakit langsung katanya anda sedang sibuk melakukan operasi gawat yang tidak bisa ditinggalkan menyangkut nyawa pasien juga." Seru Evan tidak terima disalahkan. Helena terdiam merasa bersalah karena yang dikatakan Evan benar adanya.
"Maaf." Dokter Helena segera mengeluarkan peralatan medisnya untuk memeriksa John.
"Ambilkan handuk dan air hangat!" Titah Helena yang langsung disanggupi Evan dan segera berlari ke luar kamar.
"Alexa.. Kenapa kau... setega itu..." Guman John dalam pejaman matanya. Helena terdiam tergugu mendengar igauan John menyebut nama calon istrinya.
"Kalau kau merindukannya seharusnya kau menemuinya!" Lirih Helena merasa kasihan pada pria pertamanya itu.
"Jika masalah itu membebanimu seharusnya kau mencari solusi untuk memecahkannya bukan memendam dalam dirimu sendiri." Lirih Helena lagi sambil tangannya tidak diam mengecek tubuh John dengan mengusap-usap telapak tangan John yang bebas dari infus memberikan rasa hangat agar tidak menggigil.
.
.
TBC
__ADS_1