
"Alexa!" Seru Josh mengejar langkah Alexa yang sempat diburunya. Dia langsung menghentikan lift yang hampir saja tertutup. Alexa menatap Josh sedih dengan deraian air mata.
Josh mendekat tak berani melakukan apapun selain membiarkan Alexa menangis. Ingin sekali dia mendekap tubuh ringkih itu yang terisak pilu membuat hati Josh berdenyut nyeri.
Apa benar yang dilakukannya? Memisahkan dua sejoli yang saling mencintai? Batin Josh terdiam sendu.
Saat lift sudah berhenti di lantai bawah tujuan mereka, Josh kembali menutup lagi meski ada orang yang ikut hendak masuk. Alexa berjongkok karena merasa sudah tak kuat lagi berdiri merasakan tubuhnya lemas. Josh segera meraih tubuh Alexa refleks.
"Alexa." Panggil Josh menatap sedih Alexa. Entah kenapa seketika pandangan sekeliling Alexa berubah gelap dan dia sudah tidak ingat apa-apa. Hanya seruan panggilan Josh yang terdengar cemas membuat Alexa sedikit tenang merasa diperhatikan.
.
.
"Josh." Panggil Helena saat melihat Josh melamun.
"Eh... ya?" Jawab Josh membuyarkan lamunannya.
"Terima kasih atas semuanya. Aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku yang sudah berada pada tanggung jawabku sebelum aku resmi mengundurkan diri." Jelas Helena yang diangguki Josh.
"Maaf." Lirih Josh yang diangguki Helena pula.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Josh pada ponselnya. Suara alarm untuk mengingatkan dirinya berkunjung pada seseorang. Senyum lebar terpatri di bibirnya, dia pun segera beranjak dari ruangannya setelah melepas jas dokternya karena waktu jam makan siang telah tiba. Dia tadi sudah ada janji makan siang dengan seseorang.
Tak sampai lima belas menit dia sampai di apartemennya yang sekarang dihuni Alexa sendiri. Setelah tangisan semalam Alexa yang nyaris pingsan membuat Josh mau tak mau membawa Alexa ke apartemennya. Dia tak mungkin membawa Alexa ke apartemen kakaknya setelah memutuskan untuk menikah dengannya dan melihat murka kakaknya semalam. Sejak semalam pula dia bertekad untuk memperjuangkan Alexa juga calon anaknya yang ada dalam kandungan Alexa meski harus bermusuhan dengan kakaknya.
Tit
Suara pintu apartemennya terbuka setelah dia memasukkan kode sandi pintu apartemen. Josh antusias masuk ke dalam apartemen dan mendapatkan Alexa sedang sibuk di dapurnya.
"Selamat siang." Sapa Josh membuat Alexa yang sedang sibuk memasak menoleh menatap Josh yang tersenyum sumringah melihatnya.
__ADS_1
"Se-selamat siang." Jawab Alexa gugup. Meski dia sering bersama John dan sekarang bersama Josh entah kenapa dia merasa canggung meski mereka memiliki wajah yang sama. Namun kentara sekali dia saat mengetahui kalau pria itu adalah mantan calon adik iparnya.
"Kau masak apa?" Tanya Josh setelah keluar dari dalam kamar mandi mencuci tangan.
"Ah maaf, aku memaksamu untuk makan masakanmu. Aku tak tahu apa makanan kesukaanmu. Aku hanya membuat semur daging. Kalau kau keberatan..."
"Aku suka. Aku akan menyukai apapun masakanmu." Potong Josh yang mampu menebak apa kelanjutan kalimat Alexa.
"Ah, syukurlah." Jawab Alexa salah tingkah diperhatikan Josh seintens itu.
"Tidak. Seharusnya kau tidak memaksakan diri untuk memasak sendiri. Kau sedang tidak sehat." Sesal Josh yang pagi tadi mengizinkannya menggunakan dapurnya padahal dia baru sadar dari pingsannya semalam.
"Tidak. Aku senang kau mengizinkanku menggunakan dapurmu. Aku sudah lama menginginkan masakan sendiri. Selama ini John tidak..." Alexa terdiam tak melanjutkan kalimatnya karena dia tanpa sadar telah membandingkan kedua kakak beradik kembar itu.
"Maaf." Ucap Alexa lagi membuat Josh tersenyum karena Alexa berusaha menjaga hatinya.
"Tidak masalah. Aku tahu berapa kau mempunyai hubungan dengan kakak. Seharusnya aku yang tahu kalau tidak semudah itu melupakannya." Jawab Josh berusaha melapangkan hatinya.
"Te-terima kasih. Aku akan berusaha lagi." Jawab Alexa melanjutkan masakannya yang tinggal menuangkannya dalam piring saji. Josh segera mendekati refleks membantu Alexa untuk menyajikan masakan itu ke meja makan.
"Ayo kita makan!" Ajak Alexa mengalihkan pembicaraan, dia pun duduk di kursi makan diikuti oleh Josh. Alexa berusaha melayani Josh meski sedikit gugup dan canggung.
"Biar kubantu." Tawar Josh.
"Tidak. A-aku akan melakukannya." Tolak Alexa cepat meski tetap saja gugup.
"Terima kasih." Jawab Josh memperhatikan setiap detail yang dilakukan Alexa dengan senyum terus mengembang di bibirnya.
.
.
__ADS_1
"Kami akan pergi dulu." Ucap Anggita sore itu saat Helena mengantarnya ke bandara.
"Hati-hati kak! Aku akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaanku. Aku sudah mengajukan surat permohonan pengunduran diri dan akan disetujui setelah aku menyelesaikan tanggung jawab yang terlanjur kutanda tangani." Ucap Helena yang diangguki Anggita.
"Mommy." Panggil gadis kecil Helena menatap sedih pada sang mommy.
"Hai princess mommy." Sapa Helena berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Celine.
"Kita akan berpisah lagi mom?" Tanya Celine sedih.
"Maaf princess. Ini tidak akan lama. Mommy akan segera menyusulmu. Sekarang princess ikut bunda dulu ya?" Ucap Helena dengan senyum yang dipaksakan.
"Mommy janji?" Tanya Celine sambil mengulurkan jari kelingkingnya untuk mengikat janji.
"Janji." Helena membalas uluran jemari kelingking putri kecilnya.
"Aku akan merindukan mommy." Lirih Celine sambil mengalungkan lengannya di leher Helena yang dibalas pula oleh Helena menatap sedih.
"Mommy juga princess." Lirih Helena dalam pelukan putrinya.
Suara microphone panggilan pesawat yang ditumpangi Anggita berseru membuat Helena mau tak mau harus menyudahi pelukan haru ibu anak itu. Setelah memeluk Juan dan Celine bergantian Helena melambaikan tangannya kepada kakaknya serta Juan dan Celine untuk masuk ke dalam pesawat karena hendak berangkat.
Satu tetes air mata mengalir di pipi Helena yang langsung diusapnya karena tak mau membuat putrinya cemas. Senyum terpaksa yang berbalut kesedihan dipaksakan saat dia melihat pesawat mulai naik ke angkasa setelah hampir setengah jam Helena menunggunya di bandara seolah memastikan kalau putrinya sudah meninggalkan tanah air agar tidak ada yang berani mengambilnya darinya.
Seseorang menatap lamat-lamat langit angkasa saat pesawat yang juga ditumpangi mulai meninggalkan landasan pacu bandara tanah air. Pikirannya menerawang membayangkan interaksi kedua perempuan beda usia yang terlihat dekat seolah seperti ibu dan anak tadi. Tidak. Bukan seolah tapi keduanya memang ibu dan anak. Dan anak perempuan itu entah kenapa tidak begitu asing di matanya. Dia merasa familiar dengan gadis kecil tadi.
"Ada yang anda butuhkan tuan muda?" Sela seseorang membuat lamunan pria itu buyar.
"Tidak. Aku akan tidur sejenak." Jawab pria itu yang diangguki pria tadi dan dia pun langsung menutup matanya merasakan lelah dan mengantuk.
.
__ADS_1
.
TBC