Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 74


__ADS_3

Perjalanan menuju rumah sakit yang sebenarnya tidak lebih dari lima belas menit berjalan lancar. Meski sedikit macet di beberapa tempat karena memasuki jam makan siang. Namun semuanya kembali lancar dan tidak lebih cepat.


Setelah sopir membukakan pintu mobil belakang Alexa keluar setelah mengucapkan terima kasih pada sang sopir yang ditanggapi dengan senyuman pula. Alexa menatap rumah sakit tempat suaminya bekerja itu. Banyak pasien juga perawat dan dokter lalu lalang di lorong rumah sakit. Karena hari kerja rumah sakit itu sangat ramai. Alexa berjalan menuju ruang kerja Josh sambil menenteng paper bag makan siang tadi.


Sebelum berjalan jauh ke dalam, Alexa menghentikan seorang perawat perempuan yang kebetulan lewat menanyakan dimana ruangan Josh. Karena dia tentu saja belum tahu dimana ruangannya berada.


"Permisi sus?" Tanya Alexa.


"Ada yang bisa dibantu nona?" Tanya perawat itu ramah.


"Ee.. dimana ruangan dokter Josh?" Tanya Alexa ragu.


"Dokter Josh?" Tanya perawat itu balik mengernyit. Menatap Alexa curiga, karena banyak orang yang melakukan hal itu. Sok kenal sok dekat pada direktur utama rumah sakit hanya karena ingin merayunya.


Alexa terdiam kaku merasa diperhatikan dari atas hingga bawah tubuhnya. Namun dia berusaha tenang masih dengan senyum manisnya.


"Siapa anda?" Tanya perawat itu curiga memicingkan tatapannya.


"Ah, saya..."


"Suster Alma?" Panggil seseorang dari belakang tubuh Alexa membuat perawat yang ditanyai Alexa tadi menoleh ke arah suara.


"Ya dok?" Jawab suster yang dipanggil Alma itu.


"Bisa bantu saya? Ada pasien darurat, asisten saya sedang saya minta melakukan hal lain." Pinta seorang pria berpakaian jas dokternya yang tampak gagah.


"Tentu dok." Keduanya langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Alexa yang membuat Alexa tiba-tiba merasa kesal dan ingin meneriaki seseorang. Namun dia segera sadar dimana dia berada. Hingga Alexa pun memutuskan untuk kembali melangkah ke dalam rumah sakit dan berencana untuk bertanya pada orang lain.


Namun sejauh matanya memandang tak ada perawat yang tidak sibuk. Dia pun menatap sekeliling dan menemukan seorang cleaning servis dan segera menghampirinya.


"Permisi." Sapa Alexa sopan.


"Ya nona." Jawab pria paruh baya berpakaian cleaning servis rumah sakit. Bagaimana Alexa tahu, karena dulu Alexa pernah dirawat di rumah sakit itu dan melihat pakaian pria itu sama.


"Bisa beritahu dimana ruangan dokter Josh?" Pinta Alexa ramah dan sopan.


"Ah, maksud anda direktur utama?" Tanya balik sang cleaning servis.

__ADS_1


"Ah... tentu." Jawab Alexa yakin. Betapa bodohnya dirinya, Josh adalah pimpinan yang mengelola rumah sakit, tentu saja dia seorang direktur utama. Bagaimana dia begitu bodohnya tidak tahu.


"Anda bisa lurus kesana dan belok kanan, ruang kedua adalah ruang direktur utama. Ada tulisan disana." Jawab cleaning servis paruh baya itu.


"Terima kasih pak." Jawab Alexa ramah dan membungkuk tanda kesopanan.


"Sama-sama neng."


Alexa melangkah menuju ruang yang ditunjuk pria paruh baya tadi. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit lagi.


"Seharusnya belum terlambat kan?" Guman Alexa melangkah menyusuri lorong rumah sakit.


Hingga tibalah di depan ruang yang bertuliskan ruang direktur utama. Dokter Josh Terry Alensio Sp.JT.


"Jadi dia spesial jantung?" Guman Alexa hendak mengetuk pintu ruang itu namun dihentikan karena ada suara dari dalam.


"Dokter suka?" Tanya seorang wanita karena terdengar centil.


"Terima kasih. Ini sangat enak." Jawab Josh.


"Benarkah? Aku sudah memasaknya tadi karena memang ingin diberikan pada dokter." Jawab wanita itu yang tidak diketahui Alexa.


"Bagaimana kalau setiap hari saya membawakan makan siang untuk anda?" Tawar wanita itu terdengar menggoda membuat Alexa terdiam kaku. Dan dia pun melirik paper bag yang dibawanya.


"Terima kasih. Itu pasti akan merepotkan sekali."


"Tidak kalau itu untuk dokter. Saya suka membawakannya."


"Hahaha..." Suara tawa Josh membuat Alexa entah kenapa hatinya merasakan berdenyut nyeri.


Alexa mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan ruang kerja Josh. Dia memilih untuk pergi untuk menjaga hatinya agar tidak terlalu sakit. Alexa sendiri bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa dia merasa sakit di dadanya saat Josh yang notabene suaminya diberi perhatian oleh wanita lain.


*Apa aku mulai menyukainya?


Apa aku sedang cemburu?


Kenapa dadaku harus sakit saat dia bersama wanita lain.

__ADS_1


"Apa nona ingin mengantar makan siang untuk tuan muda?" Tawar bibi May siang itu.


"Makan siang?"


"Iya. Tuan muda pasti senang nona mau mengantar makan siang untuknya."


"Bukannya dia akan makan siang di kantin rumah sakit?" Jawab Alexa polos.


"Pasti akan sangat spesial untuknya karena diantar oleh istrinya sendiri." Bujuk bibi May.


"Tidak usah bi, aku takut dia akan menolaknya." Jawab Alexa tidak yakin namun dia entah kenapa merasa senang dengan saran bibi May.


"Tidak akan. Tuan muda sangat menyayangi nona. Dia pasti bahagia jika diantar makan siang oleh anda, istrinya." Bujuk bibi May.


Alexa terdiam menimbang-nimbang saran bibi May. Karena hubungan mereka masih dalam pendekatan. Mereka buru-buru menikah pun karena janin yang dikandung Alexa. Alexa takut kalau ternyata Josh terpaksa baik padanya hanya karena janin mereka. Apalagi sejak awal saat Josh berniat untuk bertanggung jawab padanya dia menolak mentah-mentah malah mempertahankan hubungannya dengan saudara kembarnya.


Dan mereka menikah pun karena permintaan Alexa yang tiba-tiba mengajukan pernikahan pada Josh demi janin mereka tanpa mengatakan alasan Alexa yang sebenarnya pada Josh. Meski Josh menerima dengan senang hati. Alexa takut terlalu berharap pada hubungan mereka. Bagaimana pun tidak ada cinta diantara mereka hanya rasa tanggung jawab pada janin mereka yang takut tidak akan bisa merasakan kasih sayang kedua orang tua kandungnya.


"Bagaimana nona? Saya akan menyiapkannya." Tawar bibi May lagi berusaha mendekatkan kedua sejoli pengantin baru itu.


"Baiklah bi." Jawab Alexa akhirnya.


Kurasa tidak apa kalau aku duluan yang mendekatinya. Hitung menebus kesalahanku dulu yang sempat menolaknya untuk bertanggung jawab*.


"Apa tidak ketemu nona?" Sapa seorang cleaning servis paruh baya yang ditanyai Alexa tadi. Dia sedikit terkejut karena dia tadi melamun selama perjalanan keluar dari lorong rumah sakit.


"Ah, sepertinya dia tidak ada di ruangannya. Ini untuk anda saja pak." Ucap Alexa menyodorkan paper bag itu pada cleaning servis paruh baya itu.


"Neng yakin?" Alexa hanya mampu menganggukkan kepalanya yakin. Hatinya berdenyut sakit, matanya berkaca-kaca seolah-olah air matanya hendak menetes kalau dia berkedip. Sehingga dia memiliki tak menjawabnya.


"Terima kasih neng, kebetulan saya belum makan siang, mau makan siang. Terima kasih sekali lagi neng." Jawab pria itu membuat Alexa terharu yang hanya mampu mengangguk-angguk yakin.


Alexa menghela nafas panjang melangkah meninggalkan rumah sakit sebelum sakit hatinya semakin sakit. Dia tak mau dipergoki sedang menangis.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2