
Alexa masih terdiam tak menyadari kalau suaminya sudah pergi dari penthouse tempat tinggal mereka. Sampai maid hendak membereskan meja menegurnya membuat Alexa tersentak dari lamunannya yang otomatis memperlihatkan wajah meronanya.
"Apa nona baik-baik saja?" Tanya maid yang lebih tua.
"Ah ... eh .. iya .. aku baik-baik saja." Jawab Alexa salah tingkah.
"Oh iya, maafkan aku bi, kalian jadi ditegur oleh Josh." Ucap Alexa lagi penuh rasa bersalah menatap kedua maid itu bergantian.
"Tidak apa nona. Kami yang salah tidak melarang nona dengan tegas." Jawab salah satu maid itu dengan sopan dan ramah.
"Itu artinya tuan muda pasti sangat mencintai nona." Celetuk maid lainnya membuat pipi Alexa yang awalnya sudah tidak merona kembali merona lagi.
"Eh .. ah .. begitukah?" Ucap Alexa entah kenapa membuat hatinya perlahan menghangat.
Begitukah? Dan kenapa dadaku juga berdebar kencang? Apa semudah itu hatiku beralih? Atau hanya karena mereka berwajah sama sehingga aku tetap merasakan perasaan itu juga. Tak mungkinkan aku menjadikan Josh sebagai pelarianku? Batin Alexa berkecamuk.
"Sebaiknya nona istirahat, kami akan membereskan meja makan. Satu jam lagi kami akan mengantar potongan buah-buahan untuk kesehatan anda dan janin anda nona." Saran maid yang lebih tua yang sering dipanggil bibi May.
"Baiklah bi." Alexa memilih untuk menuruti apa kata maid itu karena tak mau membuat mereka bermasalah sesuai dengan ancaman yang diucapkan Josh tadi.
Karena hari masih pagi, Alexa memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah. Tak mungkin jika masih pagi dia akan tidur lagi meski sudah merasa mengantuk, mungkin karena hormon kehamilannya membuatnya lebih cepat mengantuk dari waktu yang tidak biasanya.
.
.
"Kau tidak kesambet kan?" Celetuk Bobby melihat sepupunya yang datang dengan wajah yang terlihat lebih bersinar atau itu hanya perasaan Bobby saja. Pasalnya beberapa hari ini mereka disibukkan dengan kasus yang menimpa rumah sakitnya membuat keduanya sempat frustasi karena sulit mendapatkan bukti yang lebih akurat.
"Apa maksudmu?" Tanya Josh balik tak paham dengan pertanyaannya sepupunya.
"Tidak. Kau seperti.... apa ya? Mendapat lotre." Ucap Bobby masa bodoh sambil melangkah menuju ruang kerjanya di mansion milik papanya.
__ADS_1
"Oh ya dimana uncle dan aunty?" Josh enggan menjawab pertanyaan Bobby lebih memilih melihat sekeliling mansion besar itu mencari-cari seseorang.
"Entahlah. Sejak pagi mereka sudah pergi entah kemana." Jawab Bobby yang memang terlihat cuek dan masa bodoh. Meski tadi dia sudah dipamiti oleh mommy nya, tapi dia lupa karena terlalu cuek dan masa bodoh.
"Masuklah!" Titah Bobby begitu mereka sudah sampai di dalam ruang kerja pribadi miliknya sendiri.
"Apa yang kau temukan?" Tanya Josh yang sudah duduk di kursi depan meja kerja Bobby, sedang Bobby sudah duduk di kursi kerjanya sendiri. Mereka duduk berhadapan terhalang meja sambil Bobby mengeluarkan berkas-berkas entah berisi apa.
Kini keduanya larut dalam pembahasan tentang kasus yang menimpa rumah sakit yang dikelola oleh Josh tentang dugaan tuduhan malpraktik yang dilakukan pada tim dokter rumah sakitnya kini. Sepertinya pembahasan itu sedikit lama dan alot karena banyaknya kekurangan bukti yang lebih akurat dan spesifik membuat Bobby sedikit kualahan.
Semalam dia sudah berunding dan meminta petunjuk pada papanya namun papanya seolah enggan untuk membantunya karena jika dia membantunya Bobby tidak akan bisa mandiri sendiri. Dan akan selalu bergantung pada papa tirinya itu. Bram sendiri sudah memilih untuk pensiun dari firma hukumnya dan memilih untuk menyerahkan pada anak tirinya itu meski sebenarnya putra istrinya itu keberatan karena dia ingin mendirikan firma hukum sendiri atas jerih payahnya sendiri.
Namun karena adik Bobby terlahir perempuan dan enggan mengikuti jejak ayahnya. Bobby terpaksa menerima mandat sang papa itu. Meski juga sesekali dia meminta pendapat, saran atau kritik dari papanya tentang pekerjaannya. Namun kali ini paparnya benar-benar angkat tangan enggan menolongnya. Karena waktunya akan dihabiskan berdua saja dengan istrinya yang tak lain mommy nya.
Bobby menghela nafas panjang dan berat membuat Josh mengernyit melihat sepupu tirinya itu lagi-lagi menghela nafas berkali-kali tanpa disadari olehnya membuat Josh yang tidak melihat Bobby seperti biasanya.
"Sepertinya kau tampak keberatan dengan kasus ini? Apa kau yakin sanggup?" Meski ucapan Josh terdengar menyindir itu pedas di telinga Bobby, namun Bobby tahu kalau sepupunya itu hanya bercanda. Kedua kembar bersaudara itu memang beda sifat beda penyampaian kecemasan mereka pada dirinya.
"Tidak. Tapi kulihat kau sejak tadi berkali-kali menghela nafas panjang. Ada masalah lain yang bukan tentang kasus ini?" Tanya Josh ikut dingin.
"Lupakan! Hanya masalah papa dan mommy." Jawab Bobby menghela nafas lagi.
"Lagi. Ada masalah apa dengan mereka?" Tanya Josh meletakkan berkas yang dipegangnya sejak tadi itu sejenak.
"Biasalah mereka pergi bulan madu." Jawab Bobby memilih kembali fokus dengan berkas kasus itu lagi.
"Lagi?" Tanya Josh tak percaya mendengar kelakuan pasangan sejoli itu yang sudah sering melakukan perjalanan romantis ke luar negeri berulang kali dengan tujuan berbeda dan bulan madu.
"Kau bilang tadi entahlah kemana mereka?"
"Aku baru ingat tadi."
__ADS_1
"Huh." Dengus Josh menatap sepupunya kesal.
Keduanya pun melanjutkan memeriksa berkas-berkas tadi tanpa kembali membahas tentang orang tua Bobby.
.
.
"Biar diantar sopir nona!" Saran bibi May saat Alexa bersiap untuk keluar penthouse.
"Iya bi." Jawab Alexa sudah ketiga kalinya bibi maid bicara.
"Apa saya perlu ikut anda nona?" Tanya bibi May menatap cemas pada Alexa.
Pertanyaan ini sudah ketiga kali pula diucapkan bibi May membuat Alexa tersenyum.
"Aku bisa sendiri bibi. Jadi, percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya mengantar makan siang untuk suamiku." Jawab Alexa entah kenapa hatinya lagi-lagi menghangat menyebut kata "Suamiku".
"Baiklah nona, saya akan mengantar sampai tempat parkir." Keluh bibi May tanpa sadar. Dia takut jika tuan mudanya marah karena membiarkan sang nona pergi meninggalkan penthouse nya. Meski tujuannya adalah mengantar makan siang ke rumah sakit tempat tuan mudanya bekerja.
"Baiklah jika hal itu bisa membuat bibi lebih baik." Jawab Alexa terpaksa mengizinkan karena tak mau membuat wanita paruh baya itu mencemaskannya.
.
.
TBC
Beri dukungannya
Terima kasih
__ADS_1