Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 36


__ADS_3

John membuka matanya perlahan menatap kamar hotel presiden suite tempatnya tinggal sementara ini. Tempat tinggal sementara untuk menenangkan dirinya dari masalah yang sedang menimpanya. Sengaja ingin melarikan diri dari orang-orang yang telah mengecewakannya.


"Kau sudah bangun?" Suara seorang wanita mengejutkan John karena merasa tak ada orang-orang kepercayaannya seorang perempuan.


"Helen?" Guman John memejamkan mata lagi mencerna kalau yang dilihatnya hanyalah mimpi.


"Sepertinya selera makanmu mulai buruk." Ucap Helena lagi sembari mengecek infus John.


Lagi-lagi John berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai apa yang didengarnya adalah hanya mimpi. Dia tak mau dilihat orang lain dalam keadaan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja. Hanya Evan yang diizinkan untuk selalu berada di sisinya apapun keadaannya.


"Buka matamu! Kau harus makan. Aku tak mau dinilai buruk sebagai seorang dokter karena tidak bisa merawat pasienku." Ucap Helena mulai kesal melihat John acuh padanya.


John menghela nafas panjang.


"Evan!" Teriak John meski masih belum dengan suara maksimal karena kondisi tubuhnya yang belum sembuh benar.


"Dia tidak ada. Dia sedang menggantikanmu mengurus perusahaan juga... mengurus pernikahanmu." Jawab Helena yang membuat John langsung menoleh menatap Helena yang juga menatapnya.


"Aku tak pernah memintamu untuk datang kemari." Jawab John sarkas.


"Aku kemari atas panggilan dari orang-orangmu sebagai seorang dokter yang merawatmu. Dokter Frederick sudah tidak muda lagi sehingga tubuhnya sudah mulai melemah. Sekarang dia sedang istirahat menikmati mas tuanya. Jadi.... akulah sekarang yang menggantikannya." Jawab Helena panjang lebar mulai memeriksa tubuh John dengan stetoskopnya. Namun John menolak.


"Ben!" Seru John.


"Siap tuan muda." Jawab pria yang dipanggil Ben, orang kepercayaannya Evan yang diminta Evan sementara dia tidak berada di sisi John.


"Aku ingin dokter pria. Sekarang!" Titah John tegas tanpa menghiraukan protes Helena. Entah kenapa John juga ikut kesal pada wanita itu. Seolah semua orang sudah bersekongkol mengkhianatinya meski sebenarnya Helena belum tahu apa-apa.


"John!" Seru Helena kesal.

__ADS_1


"Ben!" John bukannya mengindahkan seruan Helena malah ikut berteriak pada Ben.


"Jangan kekanak-kanakan!" Teriak Helena menangkup kedua pipi John yang juga menatapnya juga. Helena menatap tajam pada John, namun tatapan mata John terlihat sendu dan penuh kekecewaan membuat Helena bukannya marah malah kasihan pada pria pertamanya itu.


"Pergilah!" Lirih John memutus pandangan mata Helena.


"Aku kemari bukan sebagai teman tapi aku datang kemari sebagai seorang dokter yang merawat pasiennya. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padamu. Namun aku sebagai seorang dokter berkewajiban menyembuhkan pasienku bagaimana pun caranya. Karena itu adalah sumpah janjiku saat disumpah menjadi seorang dokter." Jelas Helena panjang lebar terus menatap John yang membuang pandangannya.


"Percuma kau disini." Jawab John lemah. Helena terdiam menatap John yang masih enggan untuk menatapnya. Dia pun menghela nafas panjang.


"John!" Masih diam.


"Jika kau tak mau melakukannya untuk dirimu sendiri, lakukan demi orang lain. Orang yang ku sayangi mungkin atau orang yang kau cintai. Seperti mendiang mommy mu, beliau pasti sedih melihat putranya terpuruk seperti ini. Padahal aku yakin semasa beliau hidup pasti tak pernah berharap kalau putra putrinya akan terpuruk dan putus asa seperti ini. Lakukan untuk Daddy mu yang aku tahu sekarang juga sedang memikirkanmu. Apalagi selama beberapa hari ini kau tidak muncul di mansion orang tuamu." John masih terdiam, tapi Helena tahu John sedang mencerna ucapan Helena.


"Meski kau tak menginginkan dirimu, lakukan demi orang terdekatmu yang mungkin saja mencemaskanmu jika hal buruk terjadi padamu. Aku tak tahu masalahmu apa, tapi lari dari masalah tidak membuat semua masalahmu berakhir. Kau harus berani menyelesaikannya meski hal itu membuatmu marah ataupun bersedih." Ucap Helena menatap John yang masih belum bereaksi apa-apa.


.


.


"Tuan muda sedang mengurus pekerjaan nona." Bohong Evan demi menjaga perasaan calon istri tuan mudanya.


"Seharusnya dia datang juga sat fitting baju pengantin kan?" Tanya Alexa lagi menatap Evan tajam meminta penjelasan.


"Saya sudah berusaha membujuknya nona. Tapi tuan muda bersikeras untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum hari H pernikahan." Bohong Evan.


"Kapan pekerjaannya akan berakhir?" Tanya Alexa lemah.


Sudah beberapa hari ini dia menghubungi ponsel John tapi tidak aktif. Alexa juga tak mendapat kabar sesuai yang diinginkan dari asisten calon suaminya itu. Entah kenapa perasaannya tidak enak dengan pernikahan mereka. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi. Namun Alexa segera menepis semua pikiran buruknya itu. Mungkin inilah yang dinamakan rintangan menjelang pernikahan.

__ADS_1


"Kalau begitu, besok saja aku melakukan fittingnya." Alexa beranjak dari kursi butik langganan keluarga Alensio itu.


"Kumohon nona, jangan membuat saya dihukum karena tidak menjalankan perintah tuan muda!" Pinta Evan memelas saat Alexa hendak meninggalkan butik.


"Tapi...."


"Tuan muda hanya berharap saat bulan madu dia tidak mau diganggu dengan pekerjaannya. Oleh karena itu beliau ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum hari H pernikahan." Jelas Evan dengan penuh permohonan membuat Alexa tak tega dan akhirnya menuruti keinginan asisten John.


"Baiklah." Jawab Alexa setelah menghela nafas panjang.


"Terima kasih nona." Jawab Evan tersenyum sumringah.


Sudah dua hari terakhir ini mual dan muntah Alexa sedikit berkurang karena hormon kehamilannya. Sehingga dirinya terlihat lebih baik sekarang. Tenaganya juga sudah lebih baik dari sebelumnya juga. Sehingga dia bersemangat untuk menemui John saat fitting gaun pengantin namun dia harus menelan kekecewaan, calon suaminya sibuk mengurus pekerjaannya sehingga dirinya terpaksa melakukan fitting gaun pengantin sendiri.


Alexa mulai masuk ke dalam ruang fitting dengan dibantu beberapa karyawan butik setelah dia memilih gaunnya. Meski sedikit sesak dalam bagian perut namun masih bisa dimaklumi. Kehamilan trimester pertama pada Alexa memperlihatkan sedikit buncit pada bagian perut karena kehamilannya. Alexa tersenyum sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


"Mari nona!" Ajak seorang karyawan butik untuk menunjukkan gaun pengantin Alexa dari dalam ruan ganti.


"Ya." Jawab Alexa, tirai pun dibuka.


Evan terpana melihat kecantikan yang terpancar dari calon pengantin tuan mudanya itu. Gaunnya juga terlihat cantik dan menawan membuat Alexa terlihat anggun dan elegan. Alexa sedikit kecewa karena gaunnya tidak bisa ditunjukkan pada kekasihnya. Namun dia segera menepis lagi perasaan buruknya itu. Moodnya saat ini benar-benar buruk mengingat dia seolah tidak diperhatikan oleh calon suaminya.


"Bagaimana tuan?" Tanya salah seorang karyawan butik pada Evan yang menatapnya tak berkedip.


"Bagus." Jawab Evan salah tingkah karena sempat terpesona oleh kecantikan Alexa.


"Sa-saya tunggu di luar nona." Jawab Evan gugup merasa bersalah sempat mengagumi sosok cantik wanita tuan mudanya itu. Alexa hanya menganggukkan kepalanya merasa kecewa.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2