Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 58


__ADS_3

"Kak!" Panggil Helena tidak sabaran saat dia sudah sampai di rumah orang tuanya.


"Helen." Anggita sontak menoleh menatap Helena masih dengan kesibukan membereskan barang-barangnya juga anak-anak. Dia tadi sudah memesan tiket pesawat ke Ne* York namun sayangnya masih empat jam ke depan.


Meski begitu Anggita sudah mempersiapkan barang-barangnya juga barang-barang anak-anak. Meski sebenarnya dia pernah membujuk sang adik untuk mengatakan kebenaran tentang Celine, namun Anggita tak setega itu melihat adiknya akan bersedih jika pria itu tahu siapa sebenarnya Celine. Bayangan dipisahkan dari anaknya membuat Anggita tahu bagaimana jika dirinya terpisah dari anaknya sendiri.


Untuk itulah dia memutuskan untuk segera kembali ke negara mereka selama ini tinggal. Sebelum Celine direbut paksa oleh ayah biologisnya. Meski sebenarnya Anggita ragu dengan ketakutan Helena. Ayah biologis Celine tidak akan tega melakukan hal itu. Bisa saja dia akan langsung menikahi adiknya. Namun adiknya bersikeras tetap ingin memperjuangkan seseorang yang dicintainya.


"Apa dia sudah bertemu muka dengannya?" Tanya Helena cemas menatap kakaknya yang juga ketakutan. Anggita hanya mengangguk penuh penyesalan.


"Bahkan keduanya sudah sempat bertatap muka. Kau tahu kan putrimu lebih dominan wajahnya meski seorang gadis?" Jawab Anggita membuat Helena semakin panik saja.


"Apa aku perlu mengundurkan diri kak dari pekerjaanku sekarang dan ikut kakak lagi disana saja?" Ucap Helena bimbang meski sebenarnya tak yakin juga. Dia masih ingin disini namun juga tak bisa jauh-jauh dari putri kecilnya.


"Helen." Ucap Anggita setelah lama terdiam dan berpikir serta menghembuskan nafas panjang.


"Iya kak?"


"Bagaimana kalau kau mengatakan yang sebenarnya padanya saja? Dia berhak tahu, dia mungkin akan..."


"Tidak kak, aku tidak mau disebut pelakor, dua hari mereka menikah kak. Dan calon istrinya juga sedang hamil." Jawab Helena lemah terduduk lemas di sofa kamar kakaknya. Anak-anak sedang diurus oleh pengasuh mereka.


"Huff... Setidaknya kau sudah mengatakan yang sebenarnya padanya meski tidak menuntut pertanggungjawaban lebih padanya." Saran Anggita.


Sebenarnya dia sudah lelah bersembunyi dan sering melarikan diri seperti ini. Dia tahu betul kekuasaan ayah biologis Celine. Kalau sampai mereka mengetahui kenyataan tentang Celine. Mereka tak mungkin lagi bisa bersembunyi.


"Tidak kak, kumohon! Bagaimana kalau dia mengambil putriku dan tetap menikah dengan wanita yang sekarang menjadi calon istrinya. Itu artinya kecil kemungkinan kami bisa bersama. Dan aku akan terpisah dengan putriku dan sulit untuk bertemu dengannya." Keluh Helena menggeleng-gelengkan kepalanya tak mau dipisahkan dengan putrinya. Bahkan sekarang air matanya sudah mengalir deras membayangkan dipisahkan dari putrinya.


"Kakak mengerti." Hibur Anggita mendekap tubuh adiknya yang gemetar ketakutan.


"Tolong rawat putriku dulu kak, aku akan mengurus pekerjaanku disini! Aku akan segera menyusul kesana. Sepertinya aku harus mengurungkan niatku untuk mengejar cintaku. Karena sepertinya dia tak bisa kujangkau." Ucap Helena dengan nada putus asa.


"Baiklah. Kakak akan mendukung apapun keputusanmu." Jawab Anggita.


.


.


"Apa ada yang anda keluhkan nona?" Tanya pegawai butik tempatnya fitting gaun pengantin.


Gaun pengantin yang dicoba beberapa waktu lalu ternyata kekecilan dibagian perutnya karena yang sedikit lebih membuncit. Dan John melarangnya untuk memakai dan memutuskan untuk memesan yang baru dengan kondisi janinnya. Alexa hanya menurut, kini dia sudah ada di butik langganan keluarga Alensio.


"Tidak. Ini sudah pas. Aku merasa nyaman memakainya." Jawab Alexa entah kenapa merasa perasaannya buruk.


Dia sekarang sendiri dengan ditemani salah seorang maid dan sopir yang merangkap bodyguard John. John nanti akan menyusul setelah urusannya selesai nanti. Namun sudah hampir dua jam Alexa menunggu tapi tak kunjung datang meski John sudah menghubungi dan meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa datang.


"Kita mau kemana lagi nona?" Tanya sopir setelah Alexa duduk di kursi penumpang mobil.


"Kita pulang!" Jawab Alexa. Mood nya benar-benar buruk saat ini. Setelah pertemuannya dengan seorang wanita bernama Anggita tadi yang mengaku sebagai kakak dokter Helene. Dokter teman kuliah kembar bersaudara calon suaminya juga calon adik iparnya.


Flashback on

__ADS_1


Alexa keluar dari mobil yang sudah diparkir di halaman butik tempat gaun pengantinnya dipesan. Namun tak sengaja dia menabrak seorang gadis kecil.


"Aduh..." Ringis Alexa hampir saja di jatuh terjerembab kalau saja maidnya tidak menahan tubuhnya yang hendak jatuh ke belakang.


"Maaf Tante." Ucap gadis kecil itu menunduk sopan takut-takut kalau nanti dia dimarahi oleh orang yang ditabraknya.


"Tidak apa sayang, hati-hati!" Jawab Alexa tersenyum ramah.


"Terima kasih Tante baik." Jawab gadis kecil itu tersenyum senang karena tidak dimarahi.


"Oh iya, siapa namamu nak?" Tanya Alexa berusaha ramah pada gadis kecil yang masih menepuk-nepuk dresnya.


Deg


Dada Alexa berdesir saat gadis kecil itu mendongak menatapnya. Seolah wajah familiar gadis kecil itu pernah dilihatnya. Namun dalam versi rambut pendek.


"Namaku Celine Tante cantik." Jawab Celine sambil tersenyum manis.


"Oh... eh.. nama Tante..."


"Celine sayang, dimana nak?" Seru seorang wanita yang terdengar familiar di telinga Alexa.


"Mommy." Seru Celine melambaikan tangannya saat melihat mommy dan bundanya di kejauhan bersama dengan Juan. Alexa mengikuti arah pandang Celine tersentak kaget dan pikirannya pun mulai berkelana.


Helena dan Anggita beserta Juan mendekat. Helena belum menyadari kalau putrinya sedang bersama Alexa, calon istri John.


"Kau dimana saja?" Seru Helena sedikit marah dan kesal.


Padahal dia tadi sudah diperingatkan oleh Helena untuk tidak bermain jauh-jauh. Mereka tadi habis membeli boneka barbie yang ditagih putrinya. Karena tak mau kembali ke mall kemarin. Helena dan Anggita mengajaknya ke toko boneka. Dan toko itu bersebelahan dengan butik yang dikunjungi Alexa.


"Lain kali dengan mommy, paham!"


"Okay mommy."


"Dokter Helena." Sapa Alexa merasa Helena tidak sadar dengan keberadaannya membuat tubuh Helena menegang saat mengenali suara Alexa.


"Alexa. Ah maaf nona... Alexa..." Jawab Helena gugup.


"Dia putrimu kah?" Tanya Alexa mencoba tenang meski pikiran buruk menggelayutinya sejak tadi, penasaran dengan gadis kecil bernama Celine tadi.


"Dia ke-keponakan. Putri kakakku. Perkenalkan dia kakakku Anggita." Jawab Helena gugup. Anggita yang merasa disebut sontak mengulurkan jemari tangannya berkenalan dengan Alexa.


"Anggita."


"Alexa."


"Kakak, dia Alexa, dia... calon istri John." Ucap Helena ragu membuat Anggita mengernyit melihat adiknya gugup.


"Oh begitukah?"


"Kak, aku ke mobil dulu bersama anak-anak akan membawa mobilnya kemarin." Jawab Helena cepat menghindari Alexa sambil menggandeng tangan Celine dan Juan yang hanya menurut. Anggita tak mencegah. Dia sudah tak tahan untuk mengatakan yang sebenarnya tentang Celine. Mungkin bicara dengan calon istrinya John bisa membantunya sedikit.

__ADS_1


Alexa mencoba tidak berpikir berat tentang gadis kecil tadi.


"Baiklah kak. Saya pamit dulu." Pamit Alexa mengenyahkan pikiran buruknya.


"Tunggu!" Suara Anggita menghentikan langkah Alexa.


"Ada apa ya?" Tanya Alexa berusaha tenang dan sopan kemudian membalikkan tubuhnya menatap Anggita yang terlihat ragu ingin bicara sesuatu padanya.


"Bisa bicara berdua saja!" Pinta Anggita.


.


.


Kini keduanya, Alexa dan Anggita sudah duduk berhadapan di cafe dekat butik. Anggita tadi sudah menghubungi Helena untuk membawa pulang dulu anak-anak karena ada sesuatu yang harus dibeli dan meminta Helena mengajak anak-anak pulang lebih dulu.


"Apa yang ingin anda katakan?" Tanya Alexa tanpa basa-basi.


"Begini. Aku dengar kau akan menikah dengan John?" Ucap Anggita tak tahu harus memulai bicara apa.


"Aku bisa memberikan undangan kepada anda, jika..."


"Bukan itu. Aku hanya ingin mengatakan kalau John memiliki seorang anak dengan Helena."


Deg


Jantung Alexa terasa diremat oleh tangan tak kasat mata saat mendengar ucapan yang sudah ditebaknya itu.


"Celine. Dia putri Helena dan John." Ucap Anggita lagi. Alexa masih terdiam tak merespon tapi tatapan matanya mulai berkaca-kaca.


"Katakan!"


"Mereka terlibat one night stand lima tahun lalu. Tapi John tidak tahu kalau ada anak yang hadir. Dan Helena yang tidak mau mengganggu pendidikan John saat itu sehingga tak berani mengatakan yang sebenarnya." Ucap Anggita yang membuat jemari tangan Alexa mencengkeram kuat namun belum mengeluarkan kata-kata.


"Helena bersikeras tetap tak mengatakan meski John akan menikah karena takut John akan mengambil putrinya dan memisahkan mereka. Jadi..."


"Kenapa anda mengatakan pada saya, bukan pada John langsung?" Tanya Alexa menatap Anggita lekat.


"Karena... karena... ada yang ingin kupinta dari anda." Ucap Anggita membuat wajah Alexa pias.


"Apa maksud anda?" Tanya Alexa tajam.


"Kami lelah terus bersembunyi dan melarikan diri bahkan tidak berani pulang ke tanah air dengan tenang karena takut bertemu dengan John. Dan akan mengambilnya sewaktu-waktu dari kami. Mungkin kau bisa mempertimbangkan pernikahan kalian demi gadis kecil itu yang terus menerus menanyakan ayah biologisnya." Jelas Anggita menundukkan kepalanya merasa bersalah karena terlalu banyak tahu tentang yang bukan urusannya.


"Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Keputusan ada di tanganmu. Kalau kau memutuskan untuk menghentikan pernikahanmu, kami akan memperkenalkan Celine. Tapi jika anda memutuskan untuk melanjutkan pernikahan. Tolong, bujuk John nanti untuk tidak mengambilnya saat dia tahu siapa gadis kecil itu. Biarkan kami merawatnya dengan tenang dan tak akan mengusik kehidupan rumah tangga kalian nanti." Ucap Anggita panjang lebar. Alexa masih terdiam tak menjawab apapun.


"Saya permisi. Terima kasih sudah mendengar keluhan saya." Anggita meninggalkan cafe dan pergi.


Flashback off


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2