
Josh menunggui Alexa dengan sabar di kursi dekat ranjang perawatan Alexa.
Untung saja nona Alexa segera di bawa kemari, sehingga kami masih bisa menyelamatkan janinnya. Sepertinya nona tidak ingin orang tahu dengan keadaannya. Dan sudah beberapa hari ini sepertinya nona kehilangan asupan makanan bergizi untuk dirinya juga janinnya. Penjelasan dokter Mira, dokter kandungan pribadi Alexa membuat Josh terdiam.
Sepertinya sudah beberapa hari tuan muda John tidak menghubungi non Alexa. Apalagi saat fitting gaun pengantin. Non Alexa hanya ditemani asisten tuan muda John. Perkataan orang kepercayaannya untuk mengawasi Alexa membuat Josh mengusap wajahnya gusar. Dia turut andil dalam masalah ini. Kakaknya sudah tahu tentang siapa ayah biologis dari janin yang dikandung Alexa. Dan sampai saat ini kakaknya masih betah menyembunyikan dirinya. Bahkan dia tak menemui Alexa dan tak mungkin kakaknya tidak tahu kondisi Alexa saat ini.
Saat dirinya sibuk bergelut dengan pikirannya, ponselnya kembali berdering dan dia pun segera mengangkatnya sambil keluar dari dalam ruang perawatan Alexa. Saat tahu orang kepercayaannya yang menghubunginya.
"Ada apa?" Tanya Josh.
"Sepertinya tuan muda John sudah kembali ke perusahaan." Jawab orang kepercayaannya itu.
"Kau yakin?" Tanya Josh dengan dahi mengernyit heran. Dia pun bertanya-tanya kenapa kakaknya tidak menemui Alexa. Apa kakaknya marah dan enggan untuk bertemu dengan Alexa? Apa dia juga mengira kalau kami sudah berkhianat? Batin Josh berkecamuk.
"Baiklah. Awasi terus!"
"Baik tuan."
Josh menutup ponselnya menatap nanar layar ponselnya. Dia sedikit ragu untuk menghubungi kakaknya.
.
.
John melirik ponselnya yang berdering, nama adik kembarnya tertera di layar ponselnya. Dia menatap sinis ponselnya karena dia tahu apa tujuan adiknya menghubunginya. Apalagi kalau bukan memberi tahu tentang Alexa.
John mengacuhkan ponselnya tak berminat untuk mengangkat panggilan itu. Ponselnya dibiarkannya berdering di dalam sakunya. Evan hanya terdiam tak berani berkomentar apapun. Karena dia tahu bagaimana perasaan tuan mudanya saat ini. Tapi dia tak bisa berdiri di salah satu kubu bersaudara itu.
Josh menatap nanar layar ponselnya, panggilannya sudah lebih dari lima kali diabaikan kakaknya. Dia tahu semarah apa kakaknya itu. Siapa yang tak marah dan sakit hati yang dikhianati oleh seseorang, apalagi oleh orang terdekatnya. Bahkan adik dan kekasihnya sendiri.
Josh pun pasti akan melakukan hal yang sama jika hal itu terjadi padanya. Tapi semua itu bukan niat hatinya ingin mengkhianati kakaknya. Mereka melakukannya karena kecelakaan dalam ketidak sengajaannya. Namun seolah sang kakak enggan menerima kejelasan apapun karena sudah terlanjur sakit hati.
__ADS_1
Dia sudah berusaha membujuk Alexa untuk berterus terang pada kakaknya mengenai hal itu. Namun Alexa terlalu keras kepala dan enggan berpisah dari John. Mereka sangat saling mencintai. Namun janin itu tetaplah miliknya. Tujuannya menghubungi kakaknya adalah untuk menemui Alexa. Karena dia tahu, hal pertama yang ingin dilihat Alexa adalah John, pria yang dicintainya.
Lagi-lagi Josh menghela nafas panjang. Apa yang akan dikatakannya jika Alexa siuman dan bertanya dimana kakaknya. Alexa sudah terlalu mengenal mereka hingga bisa membedakannya. Mungkin hormon kehamilannya membuat Alexa merasa nyaman di sisinya.
.
.
Alexa membuka matanya perlahan menatap sekeliling yang ditebaknya adalah rumah sakit. Bau obat-obatan yang menyengat membuatnya menoleh menatap tangannya yang berdenyut terdapat infus yang dipasang disana.
Alexa menatap getir dirinya. Tak ada siapapun yang ada disisinya saat dia dalam keadaan lemah. Tidak John calon suaminya ataupun Josh ayah biologis janinnya.
Apa semua orang membenciku? Batin Alexa dengan wajah sendu.
Cklek
Pintu ruang perawatan terbuka membuat Alexa refleks kembali menutup matanya. Enggan untuk melihat siapapun yang datang. Dia sudah merasa frustasi, beberapa hari diabaikan oleh John. Dan sekarang dia tak peduli dengan siapapun. Dia mencoba menutup hatinya jika itu yang diinginkan John. Dan Alexa merasa John menghindarinya.
Namun dia masih enggan membuka matanya. Dia hanya menajamkan pendengarannya saat orang yang masuk tadi duduk di kursi samping ranjangnya. Dia masih menebak-nebak pikirannya siapa gerangan orang itu. Namun berdasarkan penciumannya, aroma tubuhnya dia sangat mengenalnya.
Josh. Batin Alexa merasa nyaman menghirup aroma tubuh Josh yang dirindukannya.
Apa kau begitu merindukan ayahmu sehingga merasa nyaman disisinya? Batin Alexa merasa getir.
Terdengar suara helaan nafas panjang berkali-kali dalam ruang perawatan itu. Alexa tetap setia menutup mata meski dia kembali merasa mengantuk karena merasakan kenyamanan dari aroma tubuh Josh.
Bolehkah dia tidur lagi, ini membuatku sedikit nyaman. Batin Alexa kembali tidur dan tak lagi mendengar suara hembusan nafas Josh yang menungguinya dengan cemas karena Alexa tak kunjung membuka matanya.
Padahal sudah sejak pagi tadi terhitung hampir lima jam Alexa pingsan. Dan dokter mengatakan kalau beberapa jam Alexa akan siuman. Dan seharusnya sekarang kalau memang keadaan Alexa sudah baik-baik saja.
.
__ADS_1
.
"Tuan muda, apa besok pernikahan tetap dilanjutkan?" Tanya Evan setelah selesai membereskan pekerjaannya. John terdiam, menghela nafas panjang dan berat.
"Antar aku menemui orang tua Alexa. Aku akan membatalkannya." Jawab John tegas.
"Tapi tuan..." Belum selesai Evan bicara ponselnya berdering, panggilan ayahnya membuatnya tidak bisa menunda karena pasti ada berita penting jika ayahnya sampai menghubungi sore itu.
"Ya ayah." Jawab Evan sambil melirik John yang juga ikut menyimak perbincangan Evan yang sengaja di loud speaker.
"Tuan besar memutuskan untuk menunda pernikahan tuan muda John. Karena nona Alexa belum siuman sejak pagi tadi." Beri tahu Rian yang langsung diiyakan oleh Evan, seolah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Mata John sempat bergetar terkejut mendengar wanita yang dicintainya tidak juga bangun dari pingsannya sejak pagi tadi.
"Iya ayah." Jawab Evan menutup panggilannya.
Evan terdiam menunggu titah John selanjutnya. Namun John seolah enggan mencari tahu. Dia pun kembali pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Meski sebenarnya perasaan penasaran dengan keadaan Alexa.
Dia baik-baik saja kan? Janinnya juga baik-baik saja kan? Batin John berkecamuk.
"Saya akan mencari informasinya sebentar tuan muda." Ucap Evan akhirnya seolah tahu tuan mudanya juga merasa penasaran.
"Jangan!" Cegah John membuat Evan terhenti dan berbalik menatap tuan mudanya yang menatap sendu berkas-berkas di mejanya.
"Tapi tuan..."
"Sudah ada orang lain yang akan menjaganya." Jawab John merasa tercekat dengan kata-katanya sendiri.
Evan pun terdiam.
.
.
__ADS_1
TBC