
Bel pintu apartemen Josh berbunyi pagi itu membuat Alexa sontak terbangun terkejut karena mendapati dirinya masih berada di sofa ruang tengah dengan televisi masih menyala. Alexa mencoba mengumpulkan nyawanya dari keterkejutannya di tempat yang asing. Namun suara bel pintu kembali berbunyi membuat Alexa sontak berdiri saat sudah mengingat kalau dirinya berada di apartemen seorang diri.
Cklek
"Selamat pagi nona." Sapa kedua perempuan sopan dan ramah sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Alexa.
Alexa hanya terdiam balas mengangguk menatap keduanya bergantian. Dua orang perempuan setengah baya dengan pakaian hitam putih mirip seorang maid mengingatkan dirinya saat tinggal di apartemen John. Dan salah seorang dari mereka Alexa mengenalinya. Wanita itu adalah maid yang melayaninya saat itu.
"Tuan muda Josh meminta pada kami untuk datang kemari melayani anda nona. Tuan muda belum bisa memastikan kapan kepulangannya mengingat ada sedikit masalah di rumah sakit. Sehingga beliau meminta kami untuk datang kemari melayani anda nona." Jelas maid paruh baya yang dikenalinya tadi. Alexa tampak mengernyit kecewa karena suaminya memilih untuk mengabari maidnya ketimbang dirinya.
Wajah penuh rasa kecewa itu tertangkap di mata maid paruh baya yang peka itu.
"Tuan muda sudah berusaha menghubungi nona, namun sepertinya nona masih istirahat sehingga beliau menghubungi mansion utama untuk meminta kami segera datang kemari." Jelas maid tadi yang langsung memahami situasi keterdiaman Alexa.
Alexa sontak mendongak menatap maid itu tak percaya.
"Benarkah?" Alexa sontak mencari ponselnya yang berada di ruang tengah tempatnya tidur tadi.
Senyum di bibirnya langsung mengembang membaca pesan dari nomor ponsel yang belum tersimpan di ponselnya karena dia belum memiliki nomor ponsel suaminya. Segera Alexa membuka pesan itu dan membacanya, sontak senyumnya semakin lebar saja saat membaca pesan panjang dan banyak dari suaminya mengungkapkan rasa bersalah dan permintaan maafnya karena sempat lupa menghubunginya.
Dada sesak Alexa seketika menguap membaca pesan tersebut. Dan tak lupa lima puluh panggilan tak terjawab membuat Alexa menganga tak percaya juga merasa bersalah. Tertera waktu dini hari dan pagi ini panggilan itu dilakukan. Wajah rasa bersalahnya terlihat jelas sekarang.
"Bagaimana mungkin aku tidak mendengar ponselku berdering sama sekali? Dan pesan-pesan ini... Oh my..." Guman Alexa menutup mulutnya merasa bersalah.
"Ah, ternyata ku silent. Bagaimana aku melupakannya?" Guman Alexa lagi masih terus menatap ponselnya, bahkan melupakan keberadaan dua maid yang masih menunggu di luar pintu tak berani masuk karena Alexa belum mempersilahkannya.
"Nona!" Panggil maid tak sabaran meski masih terdengar ramah.
"Nona!" Panggil maid itu lagi, namun lagi-lagi Alexa tak merespon atau lebih tepatnya tak mendengarnya karena sibuk dengan pesan-pesan yang dikirim suaminya membuat dadanya menghangat bahagia.
"Nona!" Panggil maid itu lebih kencang membuat Alexa tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Ya ampun. Maaf bi. Masuklah!" Seru Alexa merasa bersalah karena mengabaikan keberadaan kedua maid tersebut bahkan lupa menyuruh mereka masuk ke dalam apartemen.
"Kami akan melakukan pekerjaan kami nona." Ucap maid itu yang diikuti rekannya.
"Iya bi, tolong ya!" Jawab Alexa tersenyum ramah menatap kedua maid dengan penuh rasa bersalah.
"Sudah menjadi tugas kami nona." Jawab keduanya membungkuk sopan berbarengan.
"Apa ada yang nona inginkan? Mungkin makanan yang diinginkan anda?" Tanya maid membuat Alexa terdiam merasa tidak nyaman dengan pertanyaan maid.
Apa Josh juga mengatakan tentang kehamilanku juga? Apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tahu kalau aku hamil sebelum menikah? Batin Alexa bergejolak merasa tidak nyaman.
"Maaf nona. Tuan muda meminta saya bertanya pada anda tentang makanan yang sekiranya diinginkan anda." Ucap maid itu lagi seolah tahu kecemasan Alexa.
Dan Alexa pun langsung menghembuskan nafas lega mendengar penjelasan maid itu yang artinya mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu membuat Alexa masih belum menjawab ucapan mereka.
"Apa saja bi, saya tidak akan menolaknya." Jawab Alexa akhirnya.
Alexa menghela nafas panjang merasa berdebar dan takut. Berdebar karena pesan suaminya, takut karena keberadaan maid tadi. Apalagi saat ini mereka pisah kamar. Bukankah seharusnya suami istri tidur di kamar yang sama. Bukan Josh yang menginginkan pisah kamar tapi dirinya yang langsung menolak untuk sekamar karena langsung meminta untuk pisah kamar saat tiba disini kemarin.
Seketika rasa bersalah menyelimuti hati Alexa karena langsung menyuarakan isi hatinya meski tidak secara langsung diungkapkan membuat Alexa lagi-lagi merasa bersalah dan menyesal. Namun dia terlanjur gengsi untuk meminta tidur di kamar yang sama.
Alexa memutuskan untuk segera membersihkan diri. Hari ini dia akan mencoba melakukan pendekatan pada suaminya saat dia pulang bekerja nanti. Tekad Alexa sudah bulat untuk mencoba memperbaiki kecanggungan hubungan mereka. Apalagi harapan untuk tetap bersama dengan John hal itu tidak mungkin. John ternyata sudah memiliki seorang putri dari wanita lain yang bahkan belum John ketahui.
Kini dia memutuskan untuk menerima Josh sebagai ayah biologis dari janin yang dikandungnya dengan senang hati dan akan berusaha mencintai pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Maafkan aku Josh. Maaf." Guman Alexa di bawah kucuran shower kamar mandi setelah berendam dalam bathtub agak lama.
.
.
__ADS_1
"Josh!" Sapa bibinya saat dia datang berkunjung.
"Apa kabar aunty?" Sapa balik Josh tersenyum ramah pada wanita tua yang sangat mirip dengan mendiang mommy nya itu.
"Kabar baik nak. Bagaimana kabarmu? Pengantin baru kenapa keluyuran? Dimana istrimu?" Tanya Katrina, saudari kembar Karina, mendiang mommy si kembar.
"Aku datang karena pekerjaan aunty. Ada sesuatu yang meski aku tanyakan pada uncle." Ucap Josh masuk kedalam mansion dengan digiring Katrina masuk.
"Oh... masalah semalam kah?" Tanya Katrina juga sudah mendengar kasus yang diceritakan suaminya semalam.
"Begitu lah aunty. Mereka sulit diajak damai. Jadi aku butuh bantuan uncle untuk menyelesaikannya." Jawab Josh duduk di sofa ruang tamu mansion auntynya.
"Tunggulah disini! Unclemu sebentar lagi turun. Kau sudah sarapan?" Tanya Katrina menatap keponakannya tulus.
"Nanti saja aunty, aku belum tenang sebelum bicara pada uncle."
"Baiklah."
"Hai Josh!" Sapa seorang pria lebih tua beberapa tahun dari Josh yang baru muncul dari dalam.
"Hai Bob." Sapa balik Josh bersalaman ala manly.
"Daddy menunggu di ruang kerjanya. Ayo kita kesana!" Ajak Bobby putra Katrina dari suami pertamanya dulu. Putra tiri uncle Bram.
"Okay." Josh berdiri mengikuti langkah Bobby yang masuk ke dalam ruang kerja Bram.
.
.
TBC
__ADS_1