Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 72


__ADS_3

"Ya?"


"..."


"Aku akan segera kesana." Jawab Josh pagi itu saat hendak menuju meja makan. Dia berhenti di tangga terakhir setelah turun dari kamarnya.


Setelah menutup panggilannya, Josh menuju meja makan terlihat istrinya sudah ada disana membantu maid untuk menyiapkan sarapan. Dan sepertinya dia sudah terbiasa setiap hari membantu meski kedua maidnya terlihat sungkan karena dibantu. Bagaimana pun juga tuan mudanya saat ini ada di rumah dan dia sudah mewanti-wanti pada mereka untuk tidak membuat sang nona melakukan pekerjaan apapun yang mungkin dapat memicu kecapean.


"Tu-tuan muda." Sapa maid yang lebih muda menundukkan kepalanya merasa bersalah melihat nona mereka ikut membantu tanpa bisa dicegahnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Josh menatap Alexa tegas dengan dingin. Dia sungguh tidak menyukai pandangan pagi itu. Istrinya membantu menyiapkan makanan meski hanya sekedar menata meja atau menyajikan masakan maidnya.


"Oh, aku membantu mereka." Jawab Alexa santai tak merasa bersalah tak menyadari tatapan dingin dan tidak suka Josh padanya. Alexa tetap melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


"Duduklah! Kau tak perlu melakukannya. Ada mereka yang akan melakukannya!" Tegas Josh mulai duduk di kursi makan tempatnya biasa makan saat sarapan. Raut wajahnya masih belum berubah karena sepertinya istrinya sering melakukan pekerjaan sepele seperti itu.


Tujuannya dia membawa maidnya dari mansion utama adalah untuk melayani istrinya yang sedang hamil. Sehingga istrinya tidak perlu mengerjakan apapun sembari berada di penthouse nya. Apalagi sekarang keadaannya sedang hamil. Dia masih ingat bagaimana istrinya itu mengalami morning sickness yang begitu parah hingga pingsan dan dirawat. Dan Josh tak mau hal itu terjadi selama masa kehamilan sebagai istrinya.


Dia akan sangat merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya selama masa kehamilan. Apalagi banyak masalah yang sedang dihadapi rumah sakit yang sedang dibawah pimpinannya itu.


"Aku hanya membantu." Jawab Alexa duduk di kursi tempatnya. Dia masih belum menyadari raut dingin suaminya. Dia hanya berpikir untuk membantu karena diam saja bukanlah dirinya. Dia bosan tadi hanya duduk-duduk sambil menatap kedua maid itu memasak. Dia memang sudah dilarang oleh kedua maid itu karena ada tuan muda yang sedang pulang.


Mereka sudah diwanti-wanti untuk melarang Alexa mengerjakan apapun. Bahkan tuan mudanya mengancam mereka akan memulangkan ke rumah mereka masing-masing dan enggan memperkejakan mereka lagi dimanapun. Dengan kata lain dipecat secara tidak hormat dan mem-blacklist nama mereka.


Tentu saja mereka takut dan tak menganggap enteng ucapan tuan mudanya. Mereka tahu betul ucapan mereka tidak main-main. Apalagi mereka merupakan keluarga terhormat dan terpandang di negeri ini. Namun sebaliknya pula, jika mereka bekerja dengan sangat baik tanpa membantah. Mereka memberikan bonus yang pantas untuk bawahan mereka dengan tidak sedikit. Itulah harga yang harus dibayar mereka untuk kesetiaan mereka yang bekerja di bawah keluarga Alensio.


"Makanlah!" Hibur Alexa tersenyum sumringah menyodorkan piring yang sudah diisi sarapan untuk suaminya itu.


Mereka sarapan nasi goreng seafood. Makanan kesukaan Alexa dan sekarang dia memang ingin sarapan itu. Senyum manis Alexa membuat Josh terdiam dan hatinya menghangat. Seketika marahnya hilang berganti bahagia karena hubungan mereka sedikit demi sedikit mengalami perubahan yang lebih baik meski keduanya masih memilih untuk pisah kamar.

__ADS_1


"Kuharap kau suka!" Ucap Alexa lagi yang belum menerima jawaban dari suaminya. Dia mulai menyuapkan nasi gorengnya sendiri.


"Terima kasih." Jawab Josh terdengar lebih ramah dan lembut. Tak menunjukkan rasa kesalnya tadi.


.


.


.


"Kau akan ke rumah sakit?" Tanya Alexa setelah menyelesaikan sarapannya. Kini dia sedang menikmati susu hamilnya setelah selesai sarapan.


"Aku akan pulang tepat waktu." Jawab Josh setelah menyelesaikan sarapannya juga. Kini dia menyeruput kopi hitam kesukaannya.


"Selesaikan pekerjaanmu! Tak perlu terburu-buru." Jawab Alexa menghibur Josh agar tak merasa bersalah karena meninggalkannya bekerja sampai lembur.


"Sungguh. Aku akan pulang tepat waktu hari ini." Yakin Josh menatap Alexa penuh keyakinan.


Alexa mendongak setelah menghabiskan satu gelas susu hamilnya.


"Aku akan menunggumu." Jawab Alexa demi melegakan ucapan suaminya meski dia tak terlalu berharap banyak kalau suaminya akan menepati ucapannya. Bagaimana pun suaminya sedang sibuk mengurus pekerjaan penting. Dan dia harus rela dijadikan nomer dua dari pekerjaan suaminya.


"Aku berangkat." Pamit Josh setelah menghabiskan kopinya.


"Hati-hati." Jawab Alexa ikut berdiri saat suaminya juga berdiri bersiap untuk meninggalkan meja makannya.


"Istirahatlah! Jangan mengerjakan apapun!" Titah Josh tegas sambil menatap kedua maidnya yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja makan. Keduanya sontak menundukkan kepalanya bersamaan merasa bersalah karena gagal mencegah Alexa untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah.


"Aku mengawasi kalian!" Ancam Josh dengan entengnya menatap kedua maidnya yang saat ini ketakutan.

__ADS_1


"Baiklah. Jangan salahkan mereka! Salahkan aku yang memaksa mereka untuk membantu!" Bela Alexa tak mau kedua maid itu disalahkan.


"Kalau pun ku yang memaksa mereka tanpa bisa mencegahmu, aku akan tetap menyalahkan mereka. Ingatlah itu!" Tegas Josh menatap istrinya yang terdiam menatapnya.


"Aku pergi. Cup." Satu kecupan diberikan Josh pada kening istrinya. Alexa yang tadi terdiam merasa bersalah pada kedua maidnya. Kini tubuhnya membeku menerima kecupan secepat kilat suaminya membuat Alexa terdiam yang bibirnya tak mampu mengeluarkan suara.


.


.


.


Josh tersenyum tipis saat duduk di kursi kemudi mobilnya. Menyentuh bibirnya yang dengan berani mengecup kening istrinya. Josh nekat melakukannya karena sejak semalam pelukannya tidak ditolak istrinya. Dia yang akan lebih agresif pada istrinya demi melakukan pendekatan.


Dia tak peduli meski harus sedikit memaksa dengan cara mencuri-curi kecupan ataupun pelukan agar hubungan mereka lebih dekat. Meski belum ada perasaan diantara keduanya. Dia berharap saat anak mereka lahir, perasaan mereka akan lebih dekat. Dan anak mereka nanti tidak akan merasa kecewa kalau dia adalah anak yang ada sebelum pernikahan orang tuanya terjadi.


Setidaknya saat dia lahir nanti, dia tahu kalau kedua orang tuanya saling mencintai.


"Dia sungguh menggemaskan." Guman Josh mengingat wajah beku dan pipi merona istrinya saat dia mengecupnya tadi.


Josh mulai menyalakan mobilnya dan melajukan menuju uncle nya. Dia tadi sudah berjanji untuk bertemu dengan sepupunya, Bobby. Dia ingin segera menyelesaikan kasus itu dan ingin kehidupan normalnya kembali. Sehingga bisa pulang tepat waktu setiap hari dan menemani istrinya di masa kehamilan yang terhitung terlambat diperhatikannya karena penolakan istrinya saat ingin dia menikahinya saat baru pertama kali tahu tentang kehamilan itu diketahui.


Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan anak dan istrinya nanti membangun keluarga kecil mereka. Senyum di bibir Josh tak pernah selama perjalanan menuju mansion uncle nya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2