
Sampai tengah malam, Josh belum beranjak dari ruang kerjanya. Dia sedang meneliti hasil laporan operasi yang dituduhkan malpraktek oleh keluarga pasien tadi. Apalagi laporan tadi belum sepenuhnya jadi karena dibuat dadakan. Seluruh tim dokter yang mengoperasi pasien meninggal tadi juga belum pulang. Mereka harus membuat laporan tentang operasi darurat yang mereka lakukan tadi.
Padahal lebih dari delapan jam operasi yang mereka lakukan tadi. Bisa terbayangkan rasa capek, kesal dan mengantuk begitu mendominasi mereka. Namun Josh tak mau tahu tentang semua itu. Meski dirinya juga lelah dan mengantuk namun matanya harus terus terjaga demi mencari bagian mana kesalahan pihak tim dokter dalam operasi.
Josh berpikir bagaimana mungkin keluarga pasien mengatakan dugaan malapraktik hanya karena operasi gagal dan pasien meninggal. Sebenarnya tidak ada yang aneh tentang pasien tadi, pasien tersebut kecelakaan parah hingga harus dilakukan operasi karena kondisi kritis.
Sebenarnya persetujuan dari pihak keluarga sudah ada yang berisi pihak keluarga menyetujui operasi tersebut apapun resiko yang terjadi seusai operasi pihak keluarga harus bersiap dengan resiko apapun yang terjadi. Namun entah kenapa tim dokter terlihat berbelit-belit saat Josh meminta surat persetujuan keluarga. Dengan alasan tidak menyimpannya atau belum ditemukan.
Josh menghela nafas panjang dan berat, melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Entah kenapa dia seperti melewatkan sesuatu namun dia tidak tahu apa. Hingga dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit yang buka dua puluh empat jam untuk meminta kopi supaya tetap terjaga.
Lorong rumah sakit terlihat sepi meski hanya beberapa orang yang berlalu lalang di lorong. Josh mengernyit dalam perjalanan ke kantin. Dia benar-benar melupakan sesuatu tapi dia tidak ingat tentang apa. Bahkan setiap orang yang menyapa seperti dokter dan perawat tk dihiraukannya. Benaknya masih memikirkan sesuatu yang dilupakan otaknya.
"Direktur!" Sapa pemilik kantin yang sudah mengenal Josh.
"Selamat malam pak." Sapa balik Josh sambil tersenyum sopan.
"Lembur tuan?" Tanya pemilik kantin basa-basi.
"Iya pak." Jawab Josh singkat sambil mengeluarkan dompetnya. Entah kenapa dia masih merasa firasat buruk, ada sesuatu yang dilupakan.
"Silahkan tuan!" Ucap pria paruh baya pemilik kantin karena sudah malam dia sendiri tak terlihat istrinya yang biasanya membantu di pagi hari hanya seorang pemuda yang ditebaknya adalah anak pria paruh baya itu.
"Terima kasih pak." Jawab Josh menyodorkan selembar uang berwarna merah.
"Sebentar tuan." Ucap pria itu hendak mengambil kembaliannya.
"Untuk bapak saja." Jawab Josh tersenyum ramah.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. terima kasih tuan. Semoga selalu diberi kesehatan. Istri saya selalu bilang kalau tuan selalu memberikan uang lebih. Terima kasih tuan."
Deg
Josh terdiam membeku saat mendengar ucapan pria itu.
"Apa yang anda katakan barusan?" Tanya Josh tiba-tiba membuat pria itu terkejut ketakutan.
"Sa-saya..."
"Ucapkan sekali lagi apa yang anda katakan terakhir kali!" Ucap Josh mendesak dengan suara dingin membuat pria itu ketakutan melihat sikap Josh yang berubah tiba-tiba.
"Alhamdulillah.. terima kasih tuan. Semoga selalu diberi kesehatan. Istri saya ..."
"Oh my God..." Desis Josh memotong ucapan pria yang sudah ketakutan itu. Bagaimana pun juga Josh adalah direktur rumah sakit, dia tak mau diusir karena melakukan kesalahan.
"Terima kasih pak, terima kasih." Ucap Josh antusias sambil menyalami pria itu yang menatap penuh keheranan hanya mengangguk-angguk tak mengerti namun dia hanya mengikuti keantusiasan Josh saja yang awalnya mengira dimarahi.
Josh segera meninggalkan kantin dengan senyum terus terpatri di bibirnya. Bahkan Josh belum pernah menunjukkan senyum itu selama dia bekerja di rumah sakit milik keluarga besarnya. Josh setengah berlari tergesa-gesa menuju ruangannya tanpa membalas sapaan semua orang yang berpapasan dengannya.
Nafas ngos-ngosan Josh terdengar sambil terus tersenyum dan meraih ponselnya di meja kerjanya. Kopi yang dibawanya lupa diteguk diletakkan begitu saja di meja kerja karena ponselnya lebih penting sekarang.
Namun lebih dari tiga kali panggilan dilakukan tak ada jawaban dari nomer ponsel yang dihubungi. Josh mengernyit heran ada apa gerangan dengan ponsel orang yang dihubunginya itu, begitulah kira-kira yang dipikirkan di benaknya.
Saat melirik detik jam digital pada sisi pojok layar ponselnya membuat Josh sontak menepuk dahinya.
"Pantas saja tidak di angkat. Kau kira ini jam berapa Josh kau menghubungi seseorang di waktu dini hari, tentu saja dia sudah tertidur." Guman Josh tersenyum bodoh mengingat betapa bodoh dirinya.
__ADS_1
Josh memutuskan untuk mengetik pesan untuk dikirim.
'Maaf, pekerjaanku ternyata belum selesai. Jadi, aku tak bisa pulang malam ini. Maaf. Maafkan aku.' Isi pesan Josh disertai emot penyesalan dan permintaan maaf membuat Josh senyum-senyum sendiri membaca pesannya. Bahkan dia seumur hidup baru hari ini baru sekali ini berkirim pesan pada seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah istrinya yang dia lupakan sejak usai makan malam.
"Maaf. Aku sempat melupakanmu." Guman Josh merasa bersalah. Karena pekerjaannya yang menyita pikiran dan waktunya membuat Josh lupa kalau dia sudah beristri meski baru dua hari tidak lebih tepatnya dua setengah hari.
.
.
Alexa duduk gelisah di depan ruang tengah apartemen sambil menonton televisi. Tidak, lebih tepatnya televisi yang menonton Alexa karena konsentrasinya dalam menonton televisi buyar. Matanya terus menerus melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam membuat Alexa cemas karena tak kunjung melihat kepulangan suaminya.
Meski suaminya tadi mengatakan belum tentu pulang malam ini. Alexa tetap saja berharap suaminya pulang karena bagaimanapun juga ini hari pertama dirinya tinggal di apartemen itu. Dan sekarang seorang diri, bukannya Alexa takut tapi entah kenapa dia menginginkan untuk selalu bersama dengan suaminya. Mungkin karena faktor hormon kehamilannya, janinnya menginginkan untuk selalu dekat dengan ayah biologisnya.
Alexa juga berkali-kali melirik layar ponselnya berharap akan ada pesan atau panggilan dari suaminya. Namun seketika dia ingat belum menyimpan nomor ponsel suaminya membuat dia terlihat menyedihkan. Dia pun kembali duduk sambil menonton televisi tapi pikirannya tetap tidak bisa fokus. Hingga entah pukul berapa Alexa sudah terlelap di sofa ruang tengah dengan televisi masih menyala menonton dirinya.
.
.
TBC
Beri dukungannya...
Beri rate, like dan vote nya
Jangan lupa kopinya... terima kasih...
__ADS_1