
Keduanya duduk terdiam saling menghadap di meja ruang privat restoran. Pesanan mereka pun juga sudah tiba namun keduanya masih tetap hening dalam keterdiaman. Saat Josh berusaha memecah suasana keheningan Alexa mengalihkan untuk mengajaknya makan siang bersama terlebih dahulu sebelum membicarakan tentang ajakan untuk bertemunya.
Josh seketika hanya mampu mengiyakan dan turut makan siang sesuai ajakan makan siang Alexa. Benak Josh penuh pertanyaan pikiran buruk namun segera ditepisnya. Dia berusaha berpikir positif kalau pembicaraan mereka mengarah ke lebih baik. Mengingat perpisahan terakhir mereka bertemu tidak baik.
Josh sudah selesai makan siangnya. Namun Alexa terlihat belum berpikir untuk mengakhirinya. Terlihat pelayan masih keluar masuk di ruang privat restoran tempat pesanan Alexa membawa berbagai jenis masakan dan makanan pencuci mulut dalam porsi kecil tapi banyak jenis.
Josh hanya menatapnya dengan penuh rasa heran dan bertanya-tanya. Entah kenapa Alexa terlihat makan dengan lahap, tidak bukan hanya lahap tapi lebih ke rakus. Alexa sama sekali tidak menawarinya untuk sekedar berbagi makanan itu untuknya. Meski sebenarnya Josh sendiri sudah lebih dari cukup dengan makan siangnya.
Mengingat nafsu makan seorang ibu hamil yang berganti-ganti mood membuat Josh merasa tenang. Karena kabar yang didengarnya terakhir kali. Nafsu makan Alexa hanya sedikit. Padahal sudah lewat masa tri semester awal kehamilan yang seharusnya nafsu makannya sudah normal. Namun sekarang yang dilihatnya Alexa begitu bernafsu untuk menyantap semua makanan yang memang sengaja dipesannya dan semua dihabiskan.
Josh meneguk ludahnya kasar melihat makanan terakhir juga habis dilahap oleh Alexa. Bukan karena infil terhadap cara makan Alexa yang rakus dan lahap. Tapi cemas dan khawatir jika perutnya sakit. Bagaimana pun juga dia sebagai ayah biologis janin yang dikandung Alexa merasa cemas jika setelah ini dia mendengar keadaan Alexa tidak baik-baik saja pasti dia yang akan merasa bersalah karena tidak mampu mengontrol porsi makan Alexa saat ini yang terlihat di luar batas.
Diam-diam Josh menghubungi no ponsel dokter Mira menanyakan porsi makan ibu hamil yang berlebihan dan tahu apa jawaban dokter Mira. Tentu saja dokter Mira memintanya untuk membiarkannya. Karena itu baik untuk ibu hamil dan janinnya. Apalagi sebelum tri semester pertama kondisi ibu hamil itu banyak mual dan kurang nafsu makan.
Dokter Mira menyarankan untuk mendukungnya saja. Josh sedikit cemas dengan balasan pesan dokter Mira. Meski dia juga seorang dokter, dia hanya dokter spesialis jantung bukan obgyn. Yang tentu saja hanya tahu sebagian kecil tentang ibu hamil. Atau lebih tepatnya dasar-dasarnya tentang ibu hamil bukan secara mendetail.
"Entah kenapa selalu merasa enak saat aku makan bersamamu." Ucap Alexa tiba-tiba setelah menghabiskan makanan terakhirnya.
"Eh... oh... benarkah?" Jawab Josh gelagapan yang tak mengira Alexa bicara dengan senyum manis terus terpatri di bibirnya mendengar ucapan Alexa yang membuat hatinya terasa hangat.
"Sebelumnya nafsu makanku tetap tak bis banyak meski sudah melewati tri semester pertama." Ucap Alexa lagi menyeruput jus alpukatnya.
"Begitukah?" Jawab Josh semakin menampilkan senyuman sejuta wattnya. Alexa menatap lekat wajah Josh dan entah kenapa dia mendapatkan ketenangan yang nyaman di relung hatinya. Janinnya juga terasa nyaman tak banyak ulah. Dan Alexa ingin terus menatap wajah Josh lebih lama. Padahal dia juga sering melihat wajah John yang memang sangat mirip dengan Josh itu. Namun rasa yang dirasakan di relung hatinya berbeda.
Mungkinkah karena Josh adalah ayah biologis dari janinnya? Batin Alexa masih menatap Josh lekat. Josh yang ditatap seperti itu sejak tadi terlihat gugup dan salah tingkah. Bahkan wajahnya kini merona memerah entah karena apa. Dia merasa terpesona pada Alexa.
__ADS_1
Eh...Batin Josh segera menepis perasaannya itu. Merasa tak pantas dan tidak boleh memiliki perasaan lebih pada calon istri kakaknya itu. Tapi baru kali ini Josh merasa dadanya berbeda saat berhadapan dengan seorang wanita. Bahkan saat dengan wanita lainnya. Dia tidak seperti itu. Tapi kenapa harus dengan wanita yang dicintainya kakaknya dia merasakan perasaan yang salah.
Pasti karena dia sedang hamil anakku. Kalau tidak... Batin Josh tak melanjutkan kata hatinya malah semakin menantang tatapan mata Alexa yang semakin dalam padanya. Entah kenapa dia merasa bahagia mendapatkan tatapan intens itu dari ibu calon anaknya.
"Josh!" Panggil Alexa yang kedua kalinya terasa lembut di pendengarannya membuat Josh tersenyum namun belum merespon panggilan Alexa. Entah kenapa hal itu membuat Alexa tersipu dan tenang juga nyaman.
"Josh!" Teriak Alexa galak membuat Josh tersentak kaget dan salah tingkah serta gelagapan.
"Eh .. oh... iya?" Jawab Josh gugup membuat Alexa tertawa kecil.
"Bagaimana kalau kita menikah?" Tanya Alexa membuat Josh terdiam merasa linglung dengan pertanyaan Alexa.
"Ya?" Tanya Josh sekali lagi memastikan pendengarannya. Sepertinya dia terlalu banyak berkhayal sehingga mendapatkan pertanyaan yang tidak mungkin diucapkan Alexa beberapa waktu lalu.
"Bagaimana kalau kita menikah?" Ucap Alexa sekali lagi dengan jelas dan tegas.
"Kukira kau senang saat aku mengajakmu menikah. Padahal aku seorang wanita yang sudah merendahkan diri untuk melamar seorang pria." Ucap Alexa tersipu malu dan sakit hati mendengar jawaban Josh.
"Eh.. ja-jadi kau serius?" Ucap Josh menganga tak percaya yang didengarnya tadi adalah serius bukan hanya sekedar candaan.
"Huff... kukira aku sedikit berusaha menurunkan egoku demi calon anak kita. Aku tahu bagaimana rasanya tidak bersama dengan orang tua kandung. Itu sangat tidak menyenangkan dan merasa tersisih meski orang tua kita bukan orang tua kandung." Jawab Alexa panjang lebar menundukkan kepalanya merasa kecewa dan sedih.
"Kau serius?" Ucap Josh lagi antusias melebarkan matanya.
Alexa menganggukkan kepalanya membuat senyum lebar Josh semakin lebar saja. Bukannya beberapa waktu lalu Josh masih diusir untuk tidak menemuinya?
__ADS_1
"Kau yakin?" Tanya Josh sekali lagi masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.
Alexa mendongak menatap wajah Josh yang terlihat berbinar.
"Apa sebaiknya aku menikah dengan John?" Ucap Alexa menatap wajah Josh sendu.
"Eh?" Josh terdiam dia kembali menundukkan kepalanya merasa dijatuhkan dari ketinggian.
"Sudah kuduga kau bercanda. Seharusnya aku tahu diri untuk tidak pantas bersanding denganmu." Jawab Josh lemah menjatuhkan bahunya yang tadinya semangat dan antusias.
"Josh!"
"Ya?" Jawab Josh tidak semangat.
"Aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu dan merawat bayi kita bersama sebagai orang tua yang mencintai anaknya. Meski perasaan kita belum sama-sama saling mencintai. Dan aku berjanji akan mencintaimu nanti setelah menikah. Apakah mau berjuang bersamaku?" Ucap Alexa memperjelas dan menegaskan lagi maksud hatinya. Josh terdiam terbengong lagi-lagi mendengar penjelasan yang sudah benar-benar jelas.
"Aku serius dan aku tidak bercanda. Jika kau menolakku.."
"Baiklah. Ayo kita lakukan!" Ucapan Alexa dipotong langsung oleh Josh.
Sebelumnya dia mempertimbangkan tentang kakaknya. Namun karena ini adalah ajakan langsung dari Alexa, dia merasa perlu mengiyakan tanpa rasa bersalah pada kakaknya. Toh Alexa juga menginginkan bersama dengannya. Meski semuanya demi anak mereka yang ada dalam kandungan Alexa sekarang.
Senyum Alexa tampak bersemangat meski terlihat secuil rasa terpaksa. Namun dia sudah memutuskan kalau inilah keputusannya yang terbaik diambilnya.
.
__ADS_1
.
TBC