
"Bayinya sehat, detak jantungnya kuat. Janinnya berusia sebelas minggu." Ucap dokter Mira setelah memeriksa perut Alexa dengan alat USG sambil menatap layar yang menunjukkan gambar sebesar kacang tanah.
Alexa terlihat berkaca-kaca melihat ke layar mirip komputer itu. Dia seperti tak percaya ada nyawa lain yang tumbuh dalam rahimnya.
"Kita bisa mencetaknya jika anda mau nona?" Tawar dokter Mira tersenyum ramah melihat antusiasme Alexa saat ditunjukkan janin yang ada di dalam kandungannya.
"Bisakah itu dok?" Tanya Alexa antusias.
"Tentu saja nona." Jawab dokter Mira yakin.
"Te-terima kasih dok." Jawab Alexa sumringah.
"Mari saya bantu untuk duduk kembali!" Tawar dokter Mira setelah membersihkan perut Alexa dari gel dingin untuk alat USG tadi.
Alexa tak menolak, namun dia masih terlihat lemas. Tapi raut wajah kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Tangannya menerima uluran potret hasil USG dari perawat yang mendampingi dokter itu memeriksa tadi. Alexa menatap antusias bulatan kecil dalam foto tersebut.
Dokter Mira memapah Alexa untuk duduk di kursi depan meja pemeriksaan pasien setelah membuka lebar kelambu yang digunakan untuk memisahkan ranjang pemeriksaan dan tempat duduk pasien setelah diperiksa.
"Bagaimana dok?" Pertanyaan Josh yang ternyata masih menunggui Alexa dibalik kelambu ranjang pemeriksaan menyadarkan atensi Alexa dari foto hasil USG.
Sontak Alexa menatap Josh dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dan hal itu pandangan keduanya bersirobok tanpa sadar saling bertemu. Namun Alexa segera memutus pandangannya ke arah lain. Meski wajah yang sama yang diharapkan hadir di sisinya namun Alexa tak mampu untuk menghindar. Selain pria yang mirip calon suaminya itu, pria itu juga ayah si jabang bayi yang sedang dikandungnya.
Mungkin saat itu Alexa meminta persetujuan Josh untuk melepasnya pada kakaknya. Namun Josh meminta satu hal untuk terus diberi tahu kabar tentang perkembangan janinnya. Meski hanya secara diam-diam. Atau Josh akan berbuat nekat untuk mengambilnya dari kakaknya. Baik itu calon bayinya atau dengan ibunya sekalipun.
Alexa terdengar shock saat itu saat menatap mata Josh yang menajam yang seolah akan nekat melakukan segala cara untuk dapat mengabulkan ucapannya.
"Izinkan aku tahu perkembangan janin itu!" Pinta Josh sebelum pergi dari apartemen Alexa waktu itu.
"Akan lebih baik jika kau melepasnya." Tolak Alexa membuang pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Bagaimana pun juga aku adalah ayah janin itu, kau tak berhak melarang ku untuk tahu perkembangannya." Tekad Josh.
"Dan membuat John tahu dan berakhir membenci kita semua?" Seru Alexa.
"Aku sudah memohon memintamu untuk melepaskanku untuk kakakmu karena kami saling mencintai. Setidaknya lepaskan semuanya!" Seru Alexa lagi dengan lagi-lagi aliran air matanya semakin deras saja.
"Aku akan melakukannya diam-diam. Kakak tak akan menyadarinya." Ucap Josh pergi meninggalkan apartemen Alexa tak peduli aksi protesnya lagi.
"Janinnya baik-baik saja. Morning sicknees memang seperti itu. Hal itu wajar dialami oleh ibu hamil. Tapi janinnya kuat." Jelas dokter Mira secara garis besar. Dia sendiri heran untuk apa direktur utama rumah sakit tempatnya bekerja ingin tahu, bukannya dia hanya adik ipar.
Ah, mungkin dia melakukannya demi keponakannya. Batin dokter Mira tersenyum ramah pada sang direktur.
"Apa kau sudah baik-baik saja? Masih mual? Masih pusing?" Tanya Josh terlihat protektif menatap Alexa intens membuat Alexa terlihat tidak nyaman. Apalagi ada dokter Mira yang menatap mereka bingung.
"Aku baik-baik saja." Jawab Alexa tak terlalu antusias mengalihkan pandangannya pada dokter Mira yang sedang menyiapkan resep untuknya setelah terlihat salah tingkah mendapat tatapan mata dari Alexa.
Josh tanpa menghela nafas panjang merasa lega mendengarnya. Dia bahkan tak sadar dengan rasa cemasnya membuat dokter Mira dan perawat yang mendampinginya heran dengan kecemasan yang terlihat berlebihan dari direktur utama. Namun keduanya hanya bisa berpikir positif.
"Sementara ini tidak ada yang serius. Mungkin morning sicknees akan sering anda alami sampai trisemester pertama berakhir. Namun saya sudah memberikan resep obat khusus ibu hamil mencegah mual dan muntah berlebihan untuk anda. Namun masih aman dalam waktu tertentu." Jelas dokter Mira menyerahkan resep obat.
"Terima kasih dok." Ucap Alexa berdiri dari tempat duduknya.
Josh langsung bereaksi untuk memapah Alexa namun langsung ditepis meski tidak kasar. Alexa masih tahu diri kalau mereka sedang di hadapan dokter Mira. Dokter obgyn yang khusus menangani masa kehamilannya. Dokter Rizal yang menanganinya terakhir kali terpaksa ditolak oleh John karena bukan seorang wanita.
"Aku bisa sendiri." Tolak Alexa yang langsung dipahami oleh Josh dan hanya mengikuti dari belakang.
Setelah cukup jauh dari ruang pemeriksaan kandungan. Josh masih terus mengikuti langkah kaki Alexa.
"Saya bisa sendiri, tolong tinggalkan saya sendiri!" Ucap Alexa lirih membalikkan tubuhnya menatap Josh yang menatapnya khawatir.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu." Tegas Josh tanpa bantahan. Alexa terlihat menghela nafas panjang.
"Please Josh!" Ucap Alexa penuh permohonan. Josh terdiam menatap Alexa cemas. Mata mereka saling menatap tak ada yang mau mengalah.
"Aku akan mengantarmu sampai mobil." Josh kembali melangkah ke luar rumah sakit.
"Kau berjanji untuk melepasnya dan membiarkan aku bahagia dengan kakakmu. Kau ingin kakakmu mencurigai hubungan kita?" Ucap Alexa kesal.
"Aku hanya menggantikan kakak untuk menemanimu." Elak Josh masih di posisi membelakangi Alexa.
"Dan membiarkan semua orang curiga pada kita. Kau tak sadar banyak mata menatap kita aneh?" Ucap Alexa membuat Josh tersadar dan menatap sekeliling banyak pasang mata menatap mereka. Baik dokter, perawat ataupun pengunjung rumah sakit yang memang lumayan ramai karena hari itu hari Selasa.
"Kau berjalanlah dulu! Aku akan mengikutimu dari belakang agak jauh." Putus Josh meski sebenarnya dia tak peduli dengan tatapan semua orang.
"Josh, ayolah! Jika kau tak terlalu memikirkan semua ini. Tolong pikirkan aku yang butuh ketenangan batin! Hal itu akan berpengaruh juga pada janinku jika aku banyak pikiran?" Ucap Alexa semakin kesal.
"Kau merasa terbebani dengan yang kulakukan?"
"Tentu saja." Jawab Alexa cepat meski setelahnya dia terlihat menyesal karena tatapan mata Josh yang menyorotkan kekecewaan yang dalam.
"Ok. Maaf. Hati-hatilah!" Ucap Josh akhirnya dan kemudian dia pergi meninggalkan Alexa sendiri di lorong rumah sakit menuju pintu keluar. Entah kenapa dada Alexa terasa nyeri berdenyut merasa ada yang salah. Dan dia seperti menyesali semua itu. Namun dia segera menepis jauh-jauh perasaannya itu.
Begini lebih baik. Batin Alexa mencoba menghibur diri.
Sopir pun membukakan pintu mobil belakang dan Alexa langsung masuk tanpa banyak bicara. Resep obat akan dia pinta seseorang untuk mengambilnya nanti. Entah kenapa dia ingin segera pergi dari tempat itu. Namun tanpa dia sadari air matanya menetes tanpa dimintanya. Dan hatinya mendadak sedih dan ingin menangis.
.
.
__ADS_1
TBC