
Suara dering ponsel Josh mengalihkan keheningan canggung yang terjadi di meja makan. Setelah makan malam Josh yang hampir selesai, Josh segera beranjak dari duduknya menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Reaksi sedikit cemas karena nada dering yang dipakai khusus jika ada panggilan darurat dari rumah sakit jik terjadi sesuatu hal yang mendesak. Entah tentang operasi darurat atau situasi rumah sakit yang tidak terkendali.
"Ya?" Jawab Josh langsung sembari berdoa berharap tidak ada sesuatu yang gawat yang terjadi di rumah sakit tempat dia pimpin saat ini. Baru dua hari dia cuti, apakah ada situasi yang mengharuskan kedatangan dirinya? Batin Josh bertanya-tanya berharap apa yang dipikirkannya tidak terjadi.
"Maaf direktur, ada sedikit masalah di sini. Bisakah anda datang segera? Ada keluarga pasien mengamuk karena tidak terima dengan operasi darurat yang dilakukan seorang dokter. Dan keluarga pasien tidak terima dan menuduh kalau kami melakukan mal praktek. Jadi saya mohon direktur?" Ucap seorang perawat dari seberang ponselnya.
"Tentu. Sepuluh menit tidak lima menit aku datang." Jawab Josh tegas mengambil keperluannya, termasuk ponsel dan dompet serta kunci mobilnya.
Josh memakai coatnya dengan tergesa-gesa sambil keluar kamar. Hidup sendiri di apartemen yang dekat dengan rumah sakit membuat Josh terbiasa akan datang jika setiap saat dan setiap waktu dibutuhkan. Kadang Josh memilih untuk menginap di ruang kerjanya di rumah sakit jika sekiranya dia tidak perlu pulang.
Namun melihat Alexa yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang juga panik dan cemas membuat Josh terdiam. Dia hampir melupakan kalau sekarang dia adalah seorang suami. Bukankah seharusnya dia menyadari hal itu dan tidak sembarangan mengiyakan kabar dari rumah sakit yang mendesak.
Setidaknya dia perlu izin dari istrinya meski baru dua hari mereka sah sebagai pasangan. Josh mendekati Alexa yang menatapnya penuh harap untuk diberi tahu apa yang terjadi dari tatapan matanya yang terlihat cemas.
"Maaf. Aku harus ke rumah sakit. Ada sedikit masalah jadi aku..." Ucapan Josh penuh rasa bersalah langsung disela Alexa seolah tahu bagaimana kesibukan suaminya ini.
"Pergilah! Aku tak apa di sini sendirian." Sela Alexa tersenyum meski sedikit terpaksa. Dia memang tidak takut sendiri. Apalagi disini bukan tempat tinggal ibu tiri dan saudari tirinya yang selalu mencari masalah dengannya. Lebih baik tinggal sendiri tapi terpisah dengan mereka daripada bersama dengan mereka di tempat yang sama.
"Maafkan aku. Seharusnya aku masih dalam masa cuti." Sesal Josh merasa bersalah.
"No problem. Kau lebih dibutuhkan disana. Bagaimana pun kau seorang dokter juga direktur disana. Aku akan di rumah dengan baik." Jawab Alexa memaksakan senyumnya agar suaminya tidak semakin merasa bersalah. Padahal tadi mereka sudah semakin dekat untuk mengenal namun semuanya harus tertunda karena tugas suaminya sebagai seorang dokter.
"Terima kasih. Besok maid akan datang membantu dan menemanimu disini. Aku tak tahu apa aku akan segera pulang atau tidak. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu! Aku akan segera datang." Ucap Josh membenahi penampilan yang sedikit rapi meski tidak berpakaian formal.
"Okay." Jawab Alexa.
"Aku pergi." Jawab Josh menuju pintu apartemen yang diikuti Alexa mengantarkan keluar rumah. Alexa hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengiyakan tak melakukan tindakan apapun meski sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi suaminya harus segera pergi.
Alexa melambaikan tangannya saat suaminya sudah masuk ke dalam lift yang pintunya tertutup sehingga dia tidak tahu lambaian tangan istrinya. Alexa kembali menurunkan tangannya menatap nanar pintu lift.
"Apa yang kau harapkan Alexa? Suamimu mengecup keningmu seperti pasangan suami istri yang lainnya?" Guman Alexa membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam apartemen namun suara pintu lift terbuka membuat Alexa urung untuk masuk. Dan entah secepat apa Josh tiba-tiba menghampirinya yang bersamaan dengan Alexa kembali membalikkan tubuhnya.
Cup
Kecupan lama di keningnya membuat tubuh Alexa membeku dan rona wajah di pipinya memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Maaf, aku melupakannya." Ucap Josh kembali masuk ke dalam lift dan melambaikan tangannya pada istrinya yang masih terdiam dalam kebekuan tubuhnya. Hingga pintu lift sudah tertutup sempurna Alexa tersentak dari kebekuannya membuat dirinya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Manis sekali." Guman Alexa tersenyum sumringah.
Josh sendiri telinganya memerah hingga ke tengkuknya saat di dalam lift. Sebenarnya dia sangat malu sekali. Baru kali ini dia berinisiatif mengecup wanita dan wanita itu sekarang sudah menjadi istrinya. Saat pintu hendak menutup pertama kali tadi, samar mata Josh melihat istrinya melambaikan tangan dengan wajah sendu. Hingga Josh mencerna kenapa wajah istrinya seperti itu.
Dan dia pun segera menekan tombol pintu lift terbuka dan segera berlari menghampiri istrinya yang hampir saja masuk ke dalam apartemen. Entah keberanian dari mana dia yakin kalau istrinya menunggunya untuk mengecup entah kening, dahi, pipi atau bibir sebagai salam pamitnya.
"Kenapa dia sangat imut?" Guman Josh tertawa sendiri di dalam lift yang hanya ada dirinya.
.
.
Alexa masuk ke dalam apartemen menuju dapur untuk membereskan makan malam mereka tadi. Dia bahkan masih menyisakan sedikit makanannya karena ikut cemas melihat wajah cemas suaminya saat mendapat panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Alexa senyum-senyum sendiri sambil membereskan meja makan. Wajahnya yang sudah kembali normal kembali tersipu saat mengingat kecupan manis di keningnya dari suaminya tadi.
Bukankah itu artinya hubungan kami makin dekat? Atau apa aku sudah mulai menyukainya? Batin Alexa menghangat mengingatnya.
.
.
"Apa yang terjadi?" Tanya Josh melihat seorang wanita paruh baya mengamuk di depan ruang operasi berteriak menyalahkan dokter disana. Dan juga sudah ada dua orang pengacara yang ikut bicara.
"Direktur, anda sudah datang?" Ucap seorang perawat.
"Aku akan bicara pada mereka." Jawab Josh menghampiri mereka, keluarga pasien juga dua pengacara yang mendampinginya sedang menyerang tim dokter yang menangani operasi putra keluarga mereka yang meninggal dan tidak terima putranya meninggal di meja operasi. Beberapa sekuriti juga sudah ada disan juga yang tidak bisa berkutik karena dihadang bodyguard keluarga itu yang lumayan. Sumpah serapah, cacian dan makian terdengar dari bibir wanita paruh baya yang ditebaknya ibu dari pasien meninggal itu.
"Ada apa ini?" Tanya Josh menyela diantara mereka.
"Siapa kau? Kau juga dokter seperti mereka?" Tuduh ibu paruh baya tadi.
"Direktur." Tim dokter sontak menyapa sopan Josh yang sudah muncul, Josh berdiri di depan tim dokter tersebut.
__ADS_1
"Oh anda adalah direktur rumah sakit ini?" Ucap salah seorang pengacara keluarga itu maju ke depan untuk bicara dengan Josh.
"Bagaimana kalau kita bicara di ruangan saya?" Tawar Josh menunjuk ruang kerjanya ke arah kirinya yang memang tidak jauh dari ruang operasi.
"Kenapa? Anda takut rumah sakit anda terbukti bersalah dan diketahui banyak orang yang melihatnya?" Seru wanita paruh baya yang sudah murka sejak tadi.
"Maaf nyonya. Ini rumah sakit. Banyak pasien yang butuh ketenangan. Tidak etis rasanya jika kita berisik di sini dan mengganggu kenyamanan pasien lain." Ucap Josh bijak dengan penuh ketenangan.
"Kalian membunuh putraku. Kembalikan putraku! Kalau memang kalian tak sanggup menyelamatkannya seharusnya bilang saja tidak mampu. Dan kami akan membawa putraku pergi." Seru wanita itu histeris yang langsung ditenangkan oleh suaminya yang sedikit sabar tidak seemosi istrinya.
Josh menatap pengacara yang tiba-tiba mengernyitkan dahi merasa familiar dengan wajah Josh. Seketika wajahnya tersentak kaget dan tiba-tiba dia bersikap sopan dan membungkuk hormat pada Josh yang hanya diangguki sekilas oleh Josh.
"Nyonya, akan lebih baik jika kita bicara baik-baik di ruang kerja direktur. Mungkin akan lebih jelas duduk permasalahannya." Ucap pengacara tadi yang sudah mengenali Josh sebagai putra pewaris salah seorang konglomerat tanah air yang terkenal dengan kemurahan hati dan kejujuran itu. Pengacara itu yakin kalau dugaan mal praktek yang dituduhkan kliennya itu pasti salah.
"Bukankah kau tadi yang menyarankan untuk langsung menyerang mereka!" Seru wanita paruh baya itu berbalik menunjuk wajah pengacaranya. Pengacara tadi langsung salah tingkah merasa tak nyaman dihadapan Josh. Josh yang sejak tadi masih diam menyimak semuanya. Bahkan dia memberikan lirikan pada dua pengacara tersebut yang membuat mereka menundukkan kepalanya sedikit menegang.
"Kita bicarakan baik-baik di ruang kerja saya saja." Ajak Josh lagi sambil melirik pada pengacara tadi yang menatapnya seolah mendesaknya untuk membujuk kliennya.
"Ba-baiklah tuan." Jawab pengacara tadi takut-takut sambil terus membujuk kliennya itu dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam ruang kerja Josh. Sebelumnya Josh masuk ke dalam ruangannya, Josh meminta salah seorang tim dokter yang mengoperasi tadi memberikan berkas laporan detail tentang riwayat penyakit juga rekam medis pasien dan hasil operasi tadi.
"Baik direktur." Jawab dokter yang memimpin operasi tadi.
.
.
TBC
Beri terus rate, like dan vote nya
Beri dukungannya..
Beri poinnya untuk mendapatkan hadiah even give away...
Terima kasih
__ADS_1