Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 49


__ADS_3

John turun dari mobilnya setelah Evan membuka pintu. Setelah merapikan jasnya yang tidak kusut, dia pun bergegas menuju ruang intensif, ruang dimana Alexa dirawat. Sesuai informasi Evan tadi, tanpa basa-basi John bergegas menuju ruang yang sudah diketahui lokasinya itu karena dia sering pergi ke rumah sakit milik keluarga besarnya itu untuk sekedar meeting pemegang saham.


Meski dia tidak diberi kekuasaan penuh di rumah sakit itu karena dia lebih dipilih sebagai CEO di perusahaan. John tetap memiliki hak kuasa dalam meeting terkait pemegang saham di rumah sakit itu karena masih keturunan Alensio. Jadi sedikit banyak dia tahu dimana letak ruang-ruang itu.


"Maaf tuan, anda dilarang masuk!" Tegas seorang perawat yang berjaga di sekitar ruang intensif sesuai perintah dokter Mira sekaligus dokter kandungan penanggung jawab pasien Alexa. Meski perawat itu tahu siapa pria ini, dia mengira kalau yang datang tersebut adalah direktur utama rumah sakit tempatnya bekerja.


Namun peraturan khusus untuk ruang intensif membuatnya harus tegas karena menyangkut nyawa pasien yang ada di dalam. Dia sudah mendengar karena keteledoran perawat yang menjaga pasien yang sama. Pasien tersebut harus mengalami drop. Jadi, meskipun dia takut karena melihat siapa yang dia tegur, dia pun lebih baik dimarahi meski sebentar dari pada menerima efek berlanjut.


John berhenti, mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang intensif itu. Sejenak dia lupa kalau jika ingin masuk ke ruang intensif harus dengan pakaian khusus karena harus steril.


"Dimana dokter Mira?" Tanya John menatap perawat itu dengan wajah datar.


"Dokter Mira ada di ruangannya direktur." Jawab perawat itu yang seketika membuat John berdecak sebal.


Biasanya dia hanya tersenyum simpul saat ada orang yang salah paham siapa dirinya. Dia sering dikira sebagai Josh jika berada di lingkup rumah sakit. Karena kebanyakan orang yang di rumah sakit tahunya adalah Josh.


Namun sejak dia mengetahui kecurangan hubungan antara adik kembarnya dengan kekasihnya itu membuat John sekarang kesal, namun saat perjalanan menuju ke rumah sakit tadi dia ingin berdamai dengan keadaan dan menerima hubungan keduanya serta akan merestui keduanya untuk menikah saja.


Dan merelakan mereka agar hidup bahagia bersama anak mereka. Dia menganggap bahwa semua ini adalah karmanya karena pernah melakukan hal yang sama pada seorang gadis dulunya meski sekarang keduanya baik-baik saja atau berpura-pura baik-baik saja.


"Okay." Jawab John melangkah menuju ruang dokter Mira yang sudah diketahuinya. Karena dia pernah menemui dokter tersebut untuk menjadi dokter pribadi khusus Alexa.


"Maaf dokter, ada yang mencari anda di luar." Ucap perawat yang membantu dokter Mira mengurus pasien.


"Siapa?" Tanya dokter Mira mengernyit. Jadwal periksanya sudah selesai. Pasiennya sudah habis juga, sekarang dia berniat untuk memeriksa kondisi pasien VIP nya.


Perawat itu terlihat ragu untuk bicara. Dia pun mendekati meja dokter Mira sambil berbisik ragu.


"Saya kira direktur utama rumah sakit dok. Tapi terlihat beda, tapi .... entahlah..." Bisik perawat itu langsung beranjak kaget mendengar jawaban perawatnya.

__ADS_1


"Ke-kenapa tidak disuruh langsung masuk?" Ucap dokter Mira merasa gugup dan panik. Dokter Mira tahu mengenai silsilah keluarga Alensio, pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Eh?" Perawat itu langsung mengikuti langkah dokter Mira yang tergesa-gesa keluar dari ruangannya.


"Se-selamat pagi menjelang siang tuan." Sapa dokter Mira gugup hingga dia gelagapan.


"Boleh saya bicara berdua saja dok?" Jawab John langsung tak mau basa-basi. Dia hanya menganggukkan kepalanya menjawab salam dokter Mira.


"Ba-baik tuan, silahkan masuk!" Persilahkan dokter Mira dan langsung memberi kode pada perawatnya untuk meninggalkan mereka berdua saja.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya dokter Mira setelah mereka duduk di kursi kerjanya berhadapan terhalang meja kerjanya.


"Saya hanya ingin tahu kondisi calon istri saya." Ucap John menatap dokter Mira datar, John yang biasanya ramah dan banyak senyum kini tak terlihat, setelah kecurangan tentang adiknya membuat John melupakan bagaimana caranya tersenyum ramah. Kini dia lebih banyak diam, dingin dan datar.


"Maaf harus saya sampaikan. Kondisi non Alexa sekarang sedang kritis. Saya sudah berusaha memberikan pertolongan pertama pada beliau tadi. Namun kondisinya sekarang masih kritis. Kita hanya bisa menunggunya sampai satu kali dua puluh jam, jika non Alexa tidak siuman dan baik-baik saja kondisinya. Saya dan tim dokter spesialis kandungan terpaksa harus menggugurkan kandungannya karena hal itu dapat membahayakan kondisi sang ibu." Jelas dokter Mira sudah mulai tenang dan bersikap profesional layaknya seorang dokter seperti biasanya.


John terdiam tampak berpikir dan sedikit terlihat raut wajah cemas dan rasa bersalah. Namun John bisa menutupinya dengan tetap menunjukkan wajah datarnya. John menghembuskan nafas panjang setelah sedikit berpikir.


"Direktur sudah mengetahuinya. Beliau pun berharap kalau tindakan tersebut jangan sampai terjadi. Beliau berharap tidak terjadi apapun diantara keduanya. Namun untuk memutuskan menggugurkan kandungan jika ibu bayi tidak segera siuman beliau masih berpikir." Jelas dokter Mira sedikit ragu sambil melihat reaksi John, selaku calon suami pasien.


Huff...


Suara nafas berat John terlihat galau.


"Saya akan menemuinya dulu. Setelah ini saya ingin melihat calon istri saya." Jawab John meninggalkan ruang dokter Mira begitu saja.


Semua orang membungkukkan badan memberi hormat pada John mungkin mengira kalau John adalah Josh sang direktur utama rumah sakit. John hanya terdiam melanjutkan langkahnya tanpa membalas sapaan semua dokter ataupun perawat karena dia tahu bahwa semuanya menganggap Josh.


"Direktur, ada yang ingin saya tanyakan?" Ucap seorang dokter mendekati John. Dokter itu sedikit ragu kalau pria di hadapannya itu adalah direkturnya karena terlihat berbeda. John menatap dokter itu lekat dan batinnya mengatakan kalau lagi-lagi dia dikira Josh.

__ADS_1


"Saya bukan direktur anda." Jawab John datar.


"Ta-tapi..."


"Maaf direk..."


"Sudah saya katakan saya bukan direktur." Tegas John terlihat marah membuat keduanya terdiam karena memang John bukan terlihat seperti direkturnya. Meski dengan wajah sama dan aura yang sedikit sama.


"Suster!" Sapa perawat yang tadi dibentak John.


"Iya?" Jawab perawat yang kebetulan melintas.


"Apa anda tahu dimana direktur?" Tanya perawat. Perawat yang ditanya malah mengernyit dan sontak melirik pada John, seolah berkata. Kenapa direktur ditanyakan kalau beliau ada di depan mereka.


"Saya bukan direktur. Saya kakaknya. Apa semua orang di rumah sakit tidak tahu dan tidak bisa membedakan kami." Sela John membuat semua orang yang ada disitu bergidik ketakutan melihat amarah John.


"Ta-tadi sa-saya melihat beliau... masuk ke ruang... istirahat para dokter... dan perawat." Jawab perawat yang melintas tadi gugup.


Huff...


John menghembuskan nafas panjang dan langsung pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam tak berani bicara sambil menundukkan kepalanya. John sendiri merasa bersalah sudah emosi dan sampai berteriak dan membentak tadi. Image nya yang selalu murah senyum dan ramah benar-benar membuat sungguh sangat merasa bersalah.


Tangan John terlihat mengepal saat melihat pemandangan yang tak dikiranya. Adiknya Josh, selain berkhianat di belakangnya dengan calon istrinya ternyata juga menjalin hubungan dengan wanita yang selama ini mati-matian ditolaknya.


Baiklah kalau itu yang kamu mau. John langsung pergi begitu saja. Mengurungkan niatnya untuk menemui adiknya dengan amarah yang tertahan.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2