Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 34


__ADS_3

Flashback on


Josh mampir di restoran langganannya untuk membeli pesanan yang dimaksud kakaknya untuk Alexa. Dan itu benar-benar juga makanan kesukaannya selain makanan kesukaan daddynya. Mendiang mommy nya pernah mengatakan kalau telur rebus bumbu balado di restoran itu sangat enak dan sangat cocok di lidah daddynya yang merupakan pria blasteran.


Karena saat pertama kali mencicipi masakan mommy nya, daddynya teringat restoran langganannya yang rasanya hampir sama persis dengan masakan mommy. Hari itu saat sang mommy menjemput sekolah menengah pertama, mommy mengajaknya makan di restoran tersebut untuk makan telur rebus bumbu balado dan Josh makan banyak karena merasa enak dan cocok di lidahnya membuat mommy nya geleng-geleng kepala teringat makanan kesukaan suaminya.


"Pelan-pelan saja sayang, nanti kau tersedak." Nasihat mommy nya kala itu. Josh yang merasakan mulutnya penuh hanya tersenyum nyengir mendengar nasihat mommy nya.


"Ini enak sekali mom, persis seperti masakan mommy." Jawab Josh setelah mulutnya mulai berkurang.


"Benarkan?" Josh mengangguk-anggukkan kepalanya mantap sambil mengacungkan jari jempolnya ke arah mommy nya. Sang mommy hanya tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Josh tersenyum mengingat momen saat makan bersama mommy nya saat itu. Hanya makan berdua dengan sang mommy tanpa Daddy yang sedang mengajak John untuk belajar bisnis kala itu karena Josh sudah memutuskan untuk menjadi dokter kelak dan tak mau meneruskan jejak daddynya. Sehingga Josh tak tertarik dengan perusahaan. Sedang adik-adiknya masih menempuh pendidikan di pondok pesantren.


"Permisi tuan, ini pesanannya sudah jadi." Ucap seorang pelayan mendekati meja Josh tempatnya menunggu makanan yang dipesannya.


"Terima kasih." Pelayan itu mengangguk tersenyum meski Josh berterima kasih dengan wajah tetap datar tampak dingin dari luar.


Bruk


"Maaf tuan...maaf..." Ucap seorang pemuda yang tak sengaja menabrak Josh saat hendak menuju parkiran mobil.


"Tidak apa-apa." Jawab Josh acuh terus melangkah menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


Cklek


Blam


Brrmm... brrmm..


Mobil Josh melaju meninggalkan restoran tempatnya membeli makanan yang dipesan kakaknya tadi untuk diantar ke mansion keluarga Alexa.

__ADS_1


"Rencana berhasil dilaksanakan bos." Ucap seseorang memegangi daun telinganya yang sudah terpasang earphone.


"Bagus. Disini sudah terdengar." Jawab yang di seberang.


"Saya akan melanjutkan rencana berikutnya."


"Lakukan!" Titah orang yang di seberang.


.


.


"Kau sudah bisa mendengarnya dengan jelas?" Tanyanya pada asistennya yang sedang menyetel volume suara penyadap yang dengan sengaja ditaruh orang suruhannya tadi.


"Siap tuan muda." Jawab pria itu yang tak lain adalah Evan.


"Huff.. apa kita benar-benar akan melakukannya?" Tanya John ragu karena merasa tak mempercayai adiknya.


"Kita lanjutkan Van!" Putus John akhirnya, sebenarnya bukan gayanya sama sekali melakukan penyadapan yang terang-terangan terlihat menguping atau memata-matai seseorang apalagi yang dimata-matai adalah orang terdekatnya adik kembarnya sendiri.


Dia sudah berusaha mengelak untuk mempercayai orang yang tidak begitu akrab mengatakan hal sebenarnya meski sebenarnya dia percaya kalau adiknya tega melakukan hal itu padanya. Namun dia ingin membuktikan kalau kecurigaannya itu salah.


.


.


Detak jantung John berdetak kencang saat mendengar kenyataan yang didengarnya saat itu. Dan kecurigaannya selama ini ternyata benar. Hatinya sakit terasa tersayat pisau tajam yang membuatnya merasa terkhianati tentang kenyataan yang menyakitkan itu.


Adik yang disayanginya dan kekasih yang dicintainya telan mengkhianatinya bahkan hadirnya janin di dalam perut Alexa bukti perselingkuhan mereka.


Bruak

__ADS_1


John membuang headphone yang dipasang di telinganya ke sembarang arah tanpa aba-aba membuat Evan tersentak kaget karena tak mengira reaksi tuan mudanya begitu marah. John langsung keluar dari ruang kerjanya. Dia butuh sesuatu untuk pelampiasan dan satu-satunya adalah menghajar seseorang sebagai pelampiasan itu dan itu adalah pria brengsek yang tak mau bertanggung jawab atas janin yang dikandung kekasih yang bahkan dalam empat hari ke depan menjadi istrinya.


"Brengsek!" Umpat John yang langsung diikuti Evan dari belakang mencoba mengendalikan emosi tuan mudanya. Dan dia bisa menebaknya akan terjadi perkelahian sebentar lagi.


Evan buru-buru mencegah saat John masuk ke dalam mobil pribadinya di pintu tempat kemudi.


"Biarkan saya yang menyetir tuan, kondisi anda tidak baik untuk menyetir sendiri!" Cegah Evan kembali menutup pintu mobil tuan mudanya setengah memaksa karena tak mau terjadi hal buruk padanya.


"Jangan melampaui batasmu Evan!" Teriak John kesal menatap Evan nyalang.


"Saya akan tetap memaksa untuk menyopiri anda tuan muda. Kalau anda mau menghukum saya, lakukanlah! Tapi saya tetap akan mencegah and untuk menyetir sendiri. Kondisi anda sedang tidak baik-baik saja tuan muda." Tiba-tiba banyak karyawan yang berkerumun di sekitar mobil John diparkir meski mereka semua tidak terang-terangan menyaksikan perdebatan CEO mereka dengan asistennya.


Mereka hanya terkejut, CEO nya yang terkenal ramah dan murah senyum tiba-tiba berteriak marah yang tak lain pada tangan kanan kepercayaannya. John yang belum menyadari hal itu hendak bicara yang langsung kembali disela oleh Evan.


"Banyak yang memperhatikan kita tuan muda." Ucap Evan lirih membuat John seketika menatap sekeliling meski semua orang serentak membuyarkan diri sebelum mereka mendapat sanksi karena kepergok menguping.


John langsung menghela nafas panjang dan berat, dia pun mau tak mau mengendalikan amarahnya dan langsung masuk ke dalam mobil bagian penumpang pintu belakang. Meski sekarang amarahnya memuncak dia pun masih bersadar diri kalau tak mau membuat malu nama keluarga besarnya.


"Mereka mengkhianatiku Van." Lirih John penuh amarah juga kesedihan yang terlihat nyata. Evan hanya diam mendengarkan tak mau menyela dan memilih fokus untuk menyetir.


"Bahkan dia tak bertanggung jawab setelah membuat janin itu tumbuh di perutnya." Lirih John tanpa sadar air matanya menetes dan langsung diusapnya.


Mungkin jika orang lain pelakunya dia akan segera melupakan amarahnya namun karena pelakunya sama-sama orang yang disayanginya dan dipercayainya membuat benar-benar murka. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras dia tak sabar untuk memukul seseorang sebagai pelampiasan kekecewaan dan kemarahan.


Flashback off


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2