Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 69


__ADS_3

"Bagaimana menurut uncle?" Tanya Josh setelah menceritakan sebagian besar masalah yang terjadi di rumah sakitnya.


Bram masih terdiam mencerna setiap cerita Josh sambil meneliti berkas-berkas yang menjadi acuan cerita Josh. Bobby yang juga meneruskan jejak daddy tirinya sebagai pengacara ikut menyimak juga mempelajari berkas-berkas yang dibawa Josh.


"Sepertinya ada yang kurang dalam berkas ini?" Ucap Bobby memecah keheningan. Bram dan Josh sontak menoleh ke arah Bobby yang bicara.


"Surat pernyataan persetujuan wali. Disini memang ada, tapi aku menemukan kejanggalan." Ucap Bobby lagi. Bram langsung membuka berkas-berkas tersebut yang menunjukkan surat persetujuan wali pasien.


"Semua sudah lengkap." Ucap Bram meneliti.


"Lihatlah sekali lagi dad!" Jawab Bobby menatap Bram yang membuat pria paruh baya itu kembali meneliti.


"Tanda tangan." Ucap Josh tiba-tiba yang juga ikut menyimaknya dan meneliti lagi berkas persetujuan wali pasien.


"Kau benar. Disitu tanda tangan wali pasien berbeda dengan tanda tangan kedua orang tua pasien." Ucap Bobby membuat Bram menoleh ke arah Josh juga Josh menatap Bram.


"Sepertinya kita harus menyelidiki dari awal lagi. Terutama pernyataan tim dokter juga orang tua mendiang pasien." Usul Bram yang diangguki Josh dan Bobby.


"Bobby."


"Yes, dad."


"Aku serahkan kasus ini pada tim pengacaramu. Sudah waktunya aku pensiun. Dan Josh, kemampuan Bobby setara denganku. Jadi percayakan semuanya padanya." Ucap Bram menatap Josh.


"Tentu saja uncle. Aku percaya kalian." Jawab Josh tersenyum.


"Kita sarapan dulu!" Ajak Bram sambil beranjak dari sofa tempat duduknya di ruang kerjanya diikuti Bobby dan Josh.


.


.


"Kak Josh." Sapa Bianca putri Katrina dan Bram, adik tiri Bobby sudah rapi dengan seragam sekolah menengah atasnya.


"Hai girl." Sapa balik Josh tersenyum ramah sambil mengusap pucuk rambut gadis itu.


"Dimana kakak ipar?" Tanya Bianca ramah dengan senyum manisnya.


"Dia ada di apartemen. Kakak ingin membahas pekerjaan disini jadi... dia tidak bisa ikut." Jawab Josh sambil duduk di kursi makan mengikuti Bram juga Bobby yang tersenyum menyimak percakapan mereka.


"Bukankah kakak ipar adalah kekasih kak John? Kenapa bisa menikah dengan kak Josh?" Tanya Bianca membuat dirinya terdiam tegang. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan dari gadis lugu nan polos itu. Semua orang yang ada di meja makan juga ikut terdiam membeku dan merasa bersalah karena kelancangan pertanyaan putri mereka.

__ADS_1


"Bianca." Tegur Bram menatap dengan delikan mata untuk memperingatinya namun Bianca terlalu polos untuk paham arti tatapan daddynya.


"Kenapa Daddy, aku kan hanya bertanya? Kenapa kak?" Jawab Bianca kembali menoleh menatap Josh dengan tatapan polos tanpa rasa bersalah.


"Ah, mungkin dia jodoh kak Josh." Jawab Josh sambil pura-pura tertawa untuk membuyarkan kecanggungan yang terjadi di meja makan.


"Tapi..."


"Putriku, ayo kita sarapan! Kau bisa terlambat nanti." Katrina memotong ucapan Bianca sebelum bertanya lebih banyak lagi yang membuat kecanggungan akan semakin besar.


"Huh... padahal aku kan hanya bertanya." Guman Bianca cemberut kesal.


"Kalau kau sudah dewasa kau akan tahu sendiri nantinya." Ucap Josh menghibur gadis itu.


"Orang dewasa memang rumit." Guman Bianca yang disambut tawa canggung semua orang.


"Jangan terlalu kepo dengan urusan orang lain Bian!" Tegur Bobby sambil mulai mengambil sarapannya.


"Jangan panggil aku Bian! Panggil Bianca Bob." Kesal Bianca semakin cemberut membuat semua orang tertawa.


.


.


Cklek


"Ya, bi?"


"Sarapan sudah siap nona." Ucap maid itu menunduk sopan.


"Baik." Alexa pun menuju meja makan yang sudah terdiam berbagai makanan kaya akan gizi juga baik untuk ibu hamil membuat Alexa merasa tidak nyaman.


"Se-sebanyak ini?" Ucap Alexa melirik kedua maid itu.


"Nona bisa makan apa yang ingin nona makan. Tuan muda meminta kami untuk memberikan semua makanan yang baik untuk ibu hamil yang bergizi." Jawab maid paruh baya.


"Tapi... kalau begitu temani aku makan!" Titah Alexa menatap keduanya penuh harap.


"Ka-kami bisa makan nanti nona." Jawab maid paruh baya itu sungkan.


"Kalau begitu aku tidak mau makan." Jawab Alexa merajuk, entah kenapa tiba-tiba dia ingin merajuk dan merasa kesal. Apalagi mengingat kalau pesannya belum dibalas oleh Josh. Meski tidak terlalu berharap untuk dibalas tapi entah kenapa dia saat ini sangat kesal karena pesannya tidak segera dibalas.

__ADS_1


"Tapi nona, tuan muda akan marah pada kami jika nona tidak mau makan?" Pinta maid yang lebih muda menatap Alexa memohon penuh harap.


"Kalau begitu temani aku makan. Itu salah satu keinginan bayiku." Jawab Alexa beralasan. Dia sekarang memang sedang malas jika harus makan sendiri. Meski sebelum hamil dia terbiasa makan sendiri tapi hari ini entah kenapa Alexa merasa dirinya manja sekali. Tapi entah ingin manja pada siapa karena sejak tadi dia merasa ada sesuatu yang kurang.


Kedua maid itu terdiam saling menatap, daripada mereka dipecat karena tidak bisa membujuk majikannya untuk makan, lebih baik mereka menerima ajakan makan bersama dengan majikan mereka mesti dalam keadaan canggung.


"Baiklah nona." Jawab maid yang lebih tua.


Kini keduanya pun sarapan bersama meski dalam keheningan yang canggung. Sebenarnya Alexa sebenarnya sama sekali tidak bernafsu untuk makan kalau saja tidak karena paksaan maid itu. Karena ancaman Josh pada mereka harus membujuk nya untuk makan teratur demi kondisi kehamilannya saat ini.


.


.


"Maafkan ucapan Bianca tadi nak." Ucap Katrina setelah Bianca berangkat ke sekolah dengan diantar sopir.


"No problem aunty. Itulah kenyataannya." Jawab Josh tersenyum getir kembali rasa bersalah memenuhi dadanya.


"Jodoh, mati dan rejeki, semua sudah diatur oleh yang di Atas nak. Kau tidak bersalah meski harus menyakiti perasaan kakakmu. Itu namanya jodohnya adalah dirimu dan kau pun berjodoh dengannya." Hibur Katrina dengan bijaksana. Josh hanya tersenyum demi membuat auntynya tidak cemas lagi.


"Ayo Josh!" Ajak Bobby setelah keluar dari dalam mansion menyiapkan barang bawaannya.


"Aku pamit aunty." Pamit Josh yang diangguki Katrina.


"Aku berangkat mom. I love you." Pamit Bobby mengecup pipi Katrina.


"Bukankah seharusnya kau sudah tidak pantas melakukannya Bob?" Kesal Bram melihat putranya itu masih tanpa malu mencium ibunya.


"Dia ibuku dad." Jawab Bobby santai.


"Dia istriku. Seharusnya kau mencari istri untuk kau cium sendiri." Bantah Bram meski mereka hanya bercanda. Bobby senang sekali menggoda ayahnya yang juga menyayanginya tanpa membeda-bedakan antara anak kandung maupun anak tiri.


"Meski begitu ibuku tetap nomer satu." Tegas Bobby tetap tidak mau menyerah.


"Kau..."


"Hahaha... sudah-sudah sayang... kenapa kau begitu pada putramu?" Ucap Katrina menghentikan perdebatan ayah dan anak itu. Josh hanya menatap dengan senyum sendu karena tiba-tiba merindukan mendiang mommy nya.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2