
"Ukh..." Alexa merasa perutnya kembali menegang. Dia meringis merasakan sakit di perut bawahnya.
"Tidak... jangan sayang... jangan tinggalkan ibumu! Apapun yang terjadi bertahanlah nak!" Guman Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya merasakan sakit di perut bawahnya.
Perawat yang mendengar dari luar pintu sontak langsung membuka pintu itu lebar.
"Nona!" Seru perawat panik melihat wajah kesakitan Alexa yang terus meringkuk sambil memegangi perutnya.
"Bertahanlah nak! Maafkan ibumu!" Lirih Alexa yang masih didengar perawat yang panik dan dia sudah memencet tombol panggilan untuk keadaan gawat jika pasien dalam keadaan darurat.
Drap
Drap
Suara langkah kaki cepat menuju ke kamar VIP ruang perawatan Alexa. Mereka segera merespon cepat karena itu adalah ruang VIP yang artinya pasien penting.
"Apa yang terjadi sus?" Tanya dokter Mira memeriksa kondisi Alexa dengan gerak cepat dibantu asisten perawatnya yang mengikutinya tadi.
"Pasien kesakitan memegangi perutnya dok." Jawab perawat yang diberi tanggung jawab untuk menjaganya. Dia terlihat panik dan takut. Seharusnya dia segera masuk meski pasien sedang sedih. Dan dia juga tahu hal itu akan semakin membahayakan janin pasien jika merasa tertekan atau stres. Perawat itu sungguh merasa bersalah.
"Bukannya sebelumnya baik-baik saja?" Tanya dokter Mira sedikit marah karena perawat merasa melalaikan kewajibannya untuk menjaga pasien. Tangan dokter Mira terlihat cekatan memeriksa kondisi Alexa dan langsung melakukan pertolongan pertama.
Dokter Mira sendiri ikut merasa bersalah karena dia sudah diberikan tanggung jawab untuk merawat kondisi Alexa atas perintah langsung dari direktur rumah sakit.
"Nona Alexa... nona Alexa... anda bisa mendengar suara saya?" Ucap dokter Mira melihat keadaan Alexa tidak baik-baik saja bahkan semakin kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"Persiapkan ruang tindakan sus!" Titahnya melihat kondisi Alexa yang tidak memungkinkan. Dia harus segera membawanya ke ruang intensif untuk ditindak lebih lanjut. Karena dokter Mira melihat darah mulai mengalir di paha Alexa dan Alexa kehilangan kesadaran atau pingsan. Dokter Mira berusaha agar tetap tenang.
Asisten perawat yang yang dibawanya tadi mengiyakan perintah dokter Mira dan langsung menghubungi ruang tindakan atau ruang intensif untuk menyiapkan ruang intensif demi menangani lebih lanjut pasien, sementara pasien masih menuju ruangan tersebut. Karena ruang VIP berada di lantai lima sedang ruang tindakan di lantai satu.
"Suster!" Panggil dokter Mira kearah perawat yang menjaganya yang terlihat panik dan ketakutan itu.
"I-iya dok!" Jawab perawat itu gugup.
"Kau beri tahu direktur tentang keadaan nona Alexa. Sekarang!" Titah dokter Mira sambil mendorong brankar ranjang Alexa untuk dibawa ke ruang intensif setelah memberikan pertolongan pertama.
"A-apa? Sa-saya dok!" Jawab perawat tadi semakin ketakutan. Dia pasti akan mendapatkan amarah dari direktur utama karena kelalaiannya menjaga pasien. Apalagi ini pasien penting rumah sakit yang juga orang penting direktur. Dan dirinya diberi tanggung jawab untuk memastikan kalau pasien harus baik-baik saja.
"Cepat!" Titah dokter Mira menatap tajam perawat yang semakin ketakutan itu.
.
.
Tok tok tok
Perawat itu mengetuk pintu ruang direktur utama dengan ragu dan takut. Apalagi dia yang melakukan kesalahan itu.
"Masuk!" Titah suara bariton di dalam ruang tersebut yang sudah bisa ditebaknya adalah suara sang direktur utama, tuan Josh.
Cklek
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Josh yang terlihat sibuk dengan laptopnya sedang meneliti beberapa laporan tanpa menatap siapa yang datang.
"Ma-maaf direktur..." Suara perawat itu terdengar tercekat dan ragu karena rasa takutnya. Josh yang mendengar suara itu mengernyit dan dia pun menoleh menatap perawat yang datang. Josh sedikit tersentak kaget segera berdiri dan perawat itu semakin menundukkan kepalanya ketakutan melihat reaksi Josh.
"Ada apa?" Tanya Josh terdengar cemas kalau-kalau ada kabar buruk dari perawat yang dikenalinya sebagai perawat yang diberikannya tanggung jawab untuk menunggui Alexa karena Alexa menolaknya.
Brug
Perawat itu langsung berlutut ketakutan. Dia langsung menangis merasa bersalah dan takut karena merasa tidak becus menunggu pasien yang dipercayakan padanya.
"I-itu... maaf direktur... maaf..." Ucap perawat itu berulang-ulang membuat Josh merasa panik dan cemas.
"Katakan!" Seru Josh berusaha mengendalikan emosinya. Dia tahu perawat itu pasti ingin menyampaikan kabar buruk mengenai Alexa. Dan entah kenapa sejak tadi dia merasakan firasat buruk sejak tadi namun mengabaikannya. Bibirnya tak henti-hentinya komat-kamit berdoa agar semuanya baik-baik saja.
"Non Alexa... Di-dia... dibawa ke ruang tindakan direktur, dia... ta...di mengalami pendarahan..." Jawaban Josh membuat tubuhnya lemas.
"Tidak... Jangan..." Guman Josh beranjak pergi menuju ruang tindakan yang ada di lantai yang sama dengan ruangannya tanpa menghiraukan lagi ucapan maaf dari perawat yang ketakutan tadi.
"Kau harus bertahan Alexa, kau harus mempertahankannya... atau... atau...aku tidak akan... memaafkanmu..." Guman Josh terdengar marah, karena terakhir dia berselisih pendapat dengannya, Alexa mengancam akan menggugurkan kandungannya.
.
.
TBC
__ADS_1