
John termenung dalam perjalanan pulang dari mansion keluarga calon mertuanya. Dia menatap ke depan tatapan kosong seolah ada yang memenuhi benaknya. Pertanyaan calon ibu mertuanya tadi kembali terngiang di telinganya.
"Rumor yang dikatakan orang-orang ternyata benar. Anda benar-benar menepati janji anda untuk bertanggung jawab terhadap putri kami." Ucap Maria di sela obrolan setelah makan malam. Dan tentu saja setelah tuan besar Alensio mengutamakan niatnya untuk melamar putri sulung mereka Alexa.
"Ya?" John mengernyit merasa belum paham dengan ucapan calon ibu mertuanya.
"Meski sedikit terlambat anda benar-benar membuktikan ucapan anda tempo hari. Pasti anda sangat mencintai putri kami." Ucap Maria lagi dengan senyum seringai tipis di bibirnya yang bahkan tidak disadari oleh siapapun.
"Ya tuan muda. Saat kedatangan anda pertama kali kemari tempo hari. Anda terlihat menawan karena dengan lantang mengucapkan akan bertanggung jawab terhadap kakak saya." Sela calon adik ipar John dengan nada ramah yang dibuat-buat.
"Karena keperluan kami sudah tersampaikan. Saya rasa kami mohon pamit. Waktu hanya sepuluh hari, banyak yang harus kami persiapkan kedepannya." Sela Jonathan pamit pada Leonardo setelah melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih lima belas menit.
"Terima kasih atas kunjungan anda tuan. Terima kasih sudah bersedia menjadi besan keluarga kami. Keluarga kami sangat berterima kasih sekali. Semoga ke depannya hubungan kita semakin erat." Ucap Leonardo setengah menjilat.
Dengan mengumumkan pada khalayak umum bahwa dia adalah besan dari keluarga berpengaruh di dalam negeri bahkan sampai ke luar negeri membuat Leonardo sedikit besar kepala untuk memamerkan dirinya agar bisa memperlancar semua usaha bisnisnya.
"Saya pun berharap sama." Jawab Jo langsung pamit meninggalkan mansion keluarga Ramirez diikuti oleh semua orang yang ikut, tak lupa Leonardo dan istri mengantar mereka sampai ke depan pintu mansion.
.
.
"Kak John!" Panggil Hana hampir beberapa kali karena kakaknya terlihat melamun.
__ADS_1
"Kak!" John tersentak kaget merasa bahunya ditepuk seseorang.
"Hana?" Ucap John mengernyitkan dahi melihat adiknya duduk di sebelahnya di dalam mobil miliknya karena saat berangkat tadi dia hanya naik dengan sopir dan asistennya Evan.
"Kakak melamun apa sih? Dipanggil sejak tadi gak jawab." Ucap Hana menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kakaknya intens.
"Tidak ada. Oh ya, kenapa kau ikut mobil kakak?" Tanya John ingat sesuatu.
"Huff... kakak terlalu banyak melamun dan tidak fokus. Bukannya kakak tadi sudah mengizinkanku untuk ikut mobil kakak. Di mobil Daddy hanya ada orang tua yang membahas hal menyebalkan." Jawab Hana beralasan meski itu hanya salah satu alasannya saja.
"Huh... bilang saja kalau mau dekat dengan Evan. Kau kira kakak tidak tahu." Ucap John membuang pandangannya ke luar jendela mobil.
"Kak!" Seru Hana salah tingkah tersipu malu karena tebakan kakaknya benar. Evan yang duduk di kursi depan sebelah sopir hanya terdiam meski merasakan debaran di dadanya namun memilih untuk menepisnya jauh-jauh.
.
.
"Mau tambah sesuatu lagi?" Tanya Helena melihat piring makanan Josh sudah habis.
"Tidak, terima kasih." Jawab Josh singkat sambil menyeruput kopinya.
"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" Tebak Helena menatap Josh intens.
__ADS_1
"Tidak ada." Jawab Josh memilih untuk mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Huff.. Kau tak ikut acara kakakmu?" Tanya Helena.
"Tidak."
"Entah kenapa kau terlihat sedang menghindari seseorang? Mungkin kakakmu atau..."
"Jangan berpikir macam-macam yang belum tentu tebakanmi itu benar." Sela Josh entah kenapa dia sedikit kesal dengan ucapan Helena.
"Maaf."
"Kita pulang!" Ucap Josh berdiri dari duduknya.
"Hei, Josh. Maaf jika menyinggungmu!" Ucap Helena penuh harap menarik duduk Josh ke kursinya lagi. Josh menatap lekat gadis dihadapannya ini hingga kemudian dia menghela nafas panjang.
"Ok."
.
.
TBC
__ADS_1