
Rombongan keluarga Alensio datang tepat pukul tujuh malam. Tak terlalu banyak hanya tiga mobil. Satu mobil tuan besar Jonathan beserta asisten serta putrinya Hana. Satu mobil tuan muda John beserta asisten dan sopirnya. Begitu juga beberapa keluarga lainnya masih mempunyai hubungan erat dengan keluarga Alensio satu mobil. Tak ketinggalan sang kakak beserta suami dan putra putrinya, Anindita.
Keluarga besar Ramirez menyambut calon besannya di depan pintu mansion. Setelah cukup saling menyapa dan saling berkenalan. Semuanya digiring masuk ke ruang keluarga yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh keluarga besar Ramirez.
Maria sang nyonya Ramirez dengan dandanannya yang glamor dan mewah ikut pula menyambut meski sebenarnya berharap kalau putri kandungnya yang akan menjadi menantu keluarga Alensio, salah satu keluarga terkaya di dalam negeri. Dengan berbagai macam bisnis yang sudah sukses di bidangnya. Yang juga sudah merambah di kanca internasional sesuai asal sang ayah tuan besar Alensio yaitu kakek John, mendiang tuan besar Alensio.
"Selamat datang tuan, terima kasih anda sudah sudi datang ke gubuk kami." Sapa Leonardo merendah sambil membungkuk sopan dan ramah diikuti istri.
"Terima kasih sudah menyambut kami. Maaf karena putra saya memberikan kabar yang mendadak kepada anda." Jawab Jo dengan sopan pula.
"Mari silahkan masuk!" Persilahkan Leonardo merentangkan tangan agar tamunya masuk ke dalam.
Semua orang pun mulai masuk dan sudah ada beberapa keluarga Ramirez yang juga menunggu di ruang keluarga ikut menyapa dan menyambut salah satu keluarga terkaya di dalam negeri.
Setelah cukup berbincang, beramah tamah di ruang keluarga, salah satu maid mansion keluarga Ramirez menyampaikan kalau makan malam sudah siap. Hingga akhirnya Leonardo mempersilahkan untuk menuju ke ruang makan memilih untuk menunda percakapan mereka.
"Panggilkan putriku bi!" Titah Leonardo pada seorang maid yang sudah berumur.
__ADS_1
"Baik tuan besar." Maid itu langsung menuju ke lantai dua tempat kamar Alexa berada.
.
.
"Nona gugup?" Tanya maid yang membantu mempersiapkan diri sang nonanya.
"Ah, kau benar bi." Jawab Alexa setelah menghembuskan nafas panjang menghilangkan kegugupannya.
"Ini hari bahagia nona, seharusnya anda senang." Hibur maid itu. Alexa hanya mengangguk karena saking gugupnya.
Pintu kamarnya diketuk membuat keduanya menoleh menatap ke arah pintu.
"Sepertinya sudah waktunya turun nona." Ucap maid tadi membukakan pintu kamar Alexa.
"Iya bi?"
__ADS_1
"Dimana nona? Tuan besar memintanya turun sekarang." Ucap maid paruh baya tadi.
"Sudah siap bi." Jawab maid muda tadi kembali menoleh menatap Alexa yang meremas kedua tangannya gugup dan berkeringat dingin.
"Mari nona!" Ajak kedua maid beda usia tadi.
"I-iya bi." Alexa beranjak dari duduknya untuk turun ke bawah bersama keduanya.
Gaun putih bersih model Sabrina selutut membuatnya terlihat cantik dan menawan. Dengan high heels yang tidak terlalu tinggi sesuai dengan keadaannya yang sedang hamil muda membuat Alexa terharu karena calon suaminya mengerti tentang keadaannya tidak membawakan high heels sepuluh centi seperti yang dipakainya saat masih menjadi sekretaris kekasihnya itu.
Semua orang menatap terpesona ke arah tangga melihat kedatangan Alexa. Tak terkecuali John, dia lagi-lagi terpesona dengan kecantikan calon istrinya apalagi sangat menarik dan pas dengan gaun yang dikirimnya yang merupakan rekomendasi butik langganan mendiang mommy nya dulu. Karena dulu dia selalu menemani dan mengantar saat mendiang mommy nya membeli gaun.
John tanpa sadar melangkah ke arah tangga mengeskort calon istrinya. Semua orang dibuat tersenyum kecil melihat sang calon suami yang terlihat tidak sabaran untuk menyambut calon istrinya yang memang terlihat sangat cantik. Namun ada dua orang yang terlihat mengepal tidak menyukainya. Dia sang ibu tiri juga adik tiri Alexa.
.
.
__ADS_1
TBC