Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 64 (season 2)


__ADS_3

Josh menarik koper miliknya juga Alexa yang sudah dari kemarin sah menjadi istrinya. Jangan tanyakan apa mereka melakukan malam pertamanya. Tentu saja tidak, mengingat kondisi Alexa yang sedang hamil calon anak mereka. Josh tidak setega itu, apalagi sebelumnya Alexa tidak mengalami masa kehamilan tri semester pertama dengan muda. Sehingga malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri itu terlewatkan begitu saja.


Keduanya pun sudah sama-sama lelah setelah seharian melakukan ritual acara pernikahan yang awalnya John lah yang seharusnya sebagai mempelai pria namun harus berganti Josh di waktu sehari sebelum hari H. Sehingga membuat John memilih alasan untuk perjalanan bisnisnya yang harus dilakukan lima hari setelah pernikahan.


Josh menekan password pintu apartemennya dan nada tit menunjukkan kalau password pintu berhasil dibukanya. Alexa hanya diam mengikuti Josh di belakangnya dengan tatapan tak bisa diartikan seolah merasakan sedikit kekecewaan tapi juga kelegaan.


"Masuklah! Untuk saat ini hanya ada apartemen ini untuk tempat tinggal kita. Aku akan mencoba mencari rumah setelah ini." Ucap Josh panjang lebar yang hanya diangguki oleh Alexa. Dia sendiri bingung akan menjawab apa. Menikah dengan mantan calon adik iparnya tentu saja bukan dalam rencana hidupnya. Karena selama dia mengenal cinta hanya dengan John lah yang ada dalam rencana masa depannya.


Alexa melangkah masuk perlahan. Meski dia sudah pernah masuk ke dalam apartemen itu sebelumnya. Dia pun masih merasa canggung. Bagaimana pun juga selama ini dia hanya menganggap Josh sebagai calon adik iparnya dulu sebelum kejadian malam itu terjadi. Namun sekarang mau tak mau dia harus menganggap Josh sebagai suaminya saat ini. Ayah biologis dari janin yang ada dalam kandungannya.


"Itu.." Belum selesai Josh bicara Alexa langsung menyelanya.


"Bisakah kita tidur terpisah kamar?" Sela Alexa ragu menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Josh yang mungkin saja kecewa dengan permintaannya.


"Ya?" Jawab Josh meyakinkan pendengarannya. Sepertinya dia tidak boleh besar kepala karena Alexa akhirnya memutuskan untuk menikah dengannya demi janin mereka. Tentu saja hal itu membuat Josh kecewa dengan keputusan Alexa yang menginginkan pisah kamar.


"Bagaimana pun juga pernikahan ini mendadak dan bukan dalam rencana kita. Jadi, tolong beri kesempatan untuk kita saling mengenal!" Pinta Alexa memberanikan diri mendongak menatap wajah Josh yang masih tetap datar meski terpancar raut wajah kekecewaan di matanya sekilas.


"Tentu. Itu..." Josh menunjuk pintu kamar di sebelah kamar utama di apartemennya. Alexa juga mengikuti arah telunjuk Josh menunjuk.


"Aku akan membereskan pakaianku di kamar utama. Kau nanti bisa menggunakan kamar utama." Ucap Josh lagi menekan rasa kecewanya agar tidak membuat istrinya merasa bersalah.


"Tidak perlu. Aku yang akan menggunakan kamar itu saja." Jawab Alexa cepat. Dia sadar dirinya hanyalah menumpang di apartemen itu. Tentu saja dia tidak akan membuat pemilik apartemen merasa terusir dari kamar pribadinya selama ini. Meski dia sudah menjadi istri pria itu. Namun Alexa tak begitu ingin merepotkan Josh.


Alexa langsung melangkah menuju kamar tersebut dan Josh pun terdiam tak mampu menyela meski sebenarnya dia juga merasa tak ingin memperpanjang masalah kalau memang hal itu yang diinginkan istrinya. Walau sebenarnya Josh ingin melakukan pernikahan mereka secara normal orang-orang menikah meski belum ada perasaan diantara mereka. Toh sudah ada calon anak diantara mereka.


"Baiklah." Jawab Josh dengan nada datar. Dia mengikuti Alexa masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan kopernya di sisi ranjang yang tidak terlalu besar itu tapi cukup jika untuk tidur Alexa sendiri. Berbeda dengan ranjang king size yang ada di dalam kamar utama. Yang sangat lebar meski ditiduri untuk mereka berdua.


"Kalau begitu istirahatlah! Kau pasti capek. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu, aku ada di kamar sebelah." Ucap Josh tak lagi menunjukkan raut wajah senyumnya yang tadi terpatri sejak dari hotel tempat mereka melaksanakan pernikahannya.


Rancangan pernikahan bahagia yang akan diarungi ternyata memang hanya mampu bersarang begitu saja di benak Josh tanpa mampu merealisasikannya saat Alexa memutuskan untuk pisah kamar entah kenapa membuat Josh sedih merasa ditolak. Meski alasan yang diucapkan Alexa terdengar masuk akal hal itu sungguh mencubit hati kecilnya yang mengharapkan pernikahan sebagai mana mestinya pernikahan pada umumnya.

__ADS_1


Namun Josh lagi menghela nafas panjang dan berat. Dia memutuskan untuk mengecek email pekerjaannya yang masuk selama dia melakukan pernikahan beberapa waktu sebelumnya. Namun lagi-lagi kekecewaan yang begitu kentara dirasakan di dalam hatinya atas penolakan istrinya membuatnya merasakan kesedihan yang begitu nyata meremas hatinya.


'Mungkin ini karma untukmu Josh karena sejak dulu kau selalu menolak setiap wanita yang menyatakan perasaannya padamu dengan datar dan acuhmu.' Bisik hati terkecil Josh membuat Josh malah tertawa getir tanpa suara.


'Juga karma karena kau secara tidak langsung sudah mengkhianati kepercayaan dan kasih sayang kakakmu. Merebut kebahagiaan kakakmu dengan tak sengaja menghamili kekasih kakakmu.' Bisik lagi hati terkecil Josh.


"Maafkan aku kakak. Semua diluar kendaliku." Guman Josh memilih untuk membaringkan tubuhnya yang lelah secara fisik dan batinnya.


.


.


Sementara Alexa menatap jam dinding yang ada di dalam kamar itu menunjukkan pukul sebelas siang. Satu jam lagi waktu makan siang, namun perutnya sudah merasa lapar minta diisi. Kalau saja dia tak mengingat ada nyawa lain di dalam perutnya, Alexa pasti memilih untuk tidur kembali karena masih merasa malas dan mengantuk efek hormon kehamilannya.


Cklek


Alexa membuka pintu kamar menatap sekeliling apartemen terlihat sepi seolah tak ada penghuninya. Alexa melirik pintu kamar di sebelahnya yang masih tertutup rapat entah penghuninya ada di dalam atau tidak. Mengingat ucapan Josh beberapa hari yang lalu yang mengatakan kalau dia cuti tiga hari pernikahan. Dan ini baru hari kedua cutinya.


Karena tak ada asisten rumah tangga, Alexa terpaksa mencarinya sendiri. Dibukanya lemari es yang berisi bahan-bahan makanan mentah lengkap membuat Alexa meneguk air ludahnya merasa kembali lapar. Dia pun segera mengambil bahan-bahan makanan yang bisa dimasak dengan cepat mengingat dirinya sudah sangat lapar.


.


.


Josh yang masih terlelap di kamarnya membuka matanya mencium bau harum yang ditebaknya berasal dari dapur miliknya mengingat lantai apartemennya hanya unit miliknya saja. Dan tentu saja bukan dari apartemen tetangganya.


Josh terkejut menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lebih dua puluh menit, hampir empat jam dia terlelap karena kelelahan. Josh terbangun segera beranjak setelah mencuci muka di kamar mandi kamarnya secukupnya. Sudah lewat waktu makan siang.


"Alexa!" Sontak Josh terkejut kalau dia sudah beristri dan mengingat waktu makan siang. Apalagi keadaan Alexa yang sedang hamil pasti membutuhkan asupan gizi makanan yang lebih banyak karena janin mereka juga butuh makan.


Cklek

__ADS_1


Alexa yang sibuk menuangkan sayur sop daging yang dibuatnya terkejut sontak menoleh ke arah pintu kamar. Josh terlihat menyembul dari balik pintu menatapnya penuh kecemasan dan rasa bersalah. Alexa mengernyit melihat wajah Josh tersebut.


"Maaf, seharusnya aku yang menyiapkan makan siang untukmu. Aku ketiduran. Maaf." Ucap Josh cepat dengan rasa bersalahnya menatap Alexa yang terlihat berkeringat dengan apron di tubuhnya terlihat habis memasak.


Asisten rumah tangga memang sengaja tidak dipanggil mengingat mereka masih dalam fase pengantin baru meski tidak ada kejadian yang diharapkan oleh sepasang pengantin itu.


"Tidak masalah. Aku juga sudah selesai memasak. Kau mau makan siang bersama?" Tawar Alexa ragu tak berharap Josh akan mengiyakan mengingat betapa kejamnya dirinya meminta untuk pisah kamar, bahkan belum ada dua puluh empat jam mereka sah sebagai sepasang suami istri.


"Tentu. Terima kasih. Seharusnya kau bisa membangunkan aku. Aku yang akan memasak untukmu." Ucap Josh mulai terlihat biasa meski raut wajah bersalahnya masih ada.


"Aku bisa melakukannya sendiri. Kau tak perlu cemas dan merasa bersalah. Aku yang minta maaf padamu karena menggunakan dapurnya sembarangan tanpa izinmu. Maaf." Ucap Alexa membuat Josh mendongak.


"Tentu saja tak apa, kita adalah pasangan suami istri. Milikku juga milikmu pakailah sebanyak yang kau mau tanpa izin dariku." Ucapan Josh seketika membuat keduanya terdiam mencernanya. Josh dalam hati merutuki ucapannya. Suasana mendadak canggung dalam keheningan.


"Ehm.. terima kasih. Dan maaf.... masih belum bisa menjalankan tugas sebagai seorang istri. Aku.." Alexa terdiam menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"No problem. Lebih baik kita makan segera." Jawab Josh memecah kecanggungan dengan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.


Keduanya pun duduk di kursi makan berhadapan terhalang meja makan. Untuk pertama kalinya menikmati makan siang bersama sebagai pasangan suami istri.


.


.


TBC


Hai para pembacaku, mulai lagi season 2 nya ya. Baca terus karyaku.


Beri like, rate dan vote nya.


Makasih

__ADS_1


__ADS_2