
Lima hari setelah Alexa melewati masa kritisnya, dokter Mira mengizinkannya pulang dengan catatan harus menjaga diri dari tekanan apapun jika ingin janinnya baik-baik saja. Satu saja kesalahan mungkin akan langsung menggugurkan kandungan janin itu membuat dokter Mira mewanti-wantinya untuk selalu berhati-hati.
Alexa tersenyum bahagia mendengar dirinya boleh pulang. John menjemputnya juga dan memaksanya untuk tinggal di apartemen pribadinya dengan dua maid yang akan menjaganya. Awalnya John menawarkan lima maid namun Alexa terus memohon agar dua saja karena dia merasa tak nyaman jika ada banyak orang di sekitarnya.
John pun terpaksa menyetujui karena dia melakukannya demi kenyamanan Alexa juga janinnya. John sudah bertekad akan menerima Alexa juga janinnya yang secara tidak langsung adalah keponakannya sendiri. Meski sedikit rasa sesak dirasakan. Meski dia tak mempermasalahkan kehormatan Alexa untuknya, toh dia juga pria yang suci yang juga telah mengambil kehormatan seorang gadis dulu.
Dia dulu juga sudah berusaha bertanggung jawab, namun karena dia mengatakan kalau ada pria lain yang dicintainya membuat John seketika mundur dan merelakannya bahagia dengan pria yang dicintainya.
"Ayo!" John mengulurkan jemari tangannya untuk membantu Alexa keluar dari dalam mobil setelah mobilnya diparkir di basemen apartemen miliknya.
"Terima kasih John." Jawab Alexa tersenyum sumringah melihat perhatian John. Senyum yang entah terlihat dipaksakan, John ikut menyunggingkannya.
"Jangan pikirkan apapun! Aku akan mengurus pernikahan kita, mungkin seminggu kedepan pernikahan kita. Aku tak mau menundanya lebih lama lagi." Ucap John setelah membantu Alexa berbaring di ranjang kamar utama apartemennya.
"Se-secepat itu?" Tanya Alexa tak percaya.
"Tentu saja. Aku tak mau nanti perutmu terus membuncit dan kita belum juga menikah. Kasihan dia!" Ucap John sambil mengelus perut Alexa yang mulai terlihat membuncit.
Alexa tersenyum haru mendengar ucapan John yang mau menerima janinnya meski bukan anak kandungnya.
"Aku mencintaimu John." Ungkap Alexa dengan tatapan mata yang berkaca-kaca membuat John ikut menatapnya juga.
"Istirahatlah!" Alexa menganggukkan kepalanya antusias dan berbaring dengan nyaman.
"Aku di ruang kerjaku di sebelah. Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja!" Alexa hanya mengangguk-angguk sambil terus tersenyum sambil menatap John penuh cinta.
John pun pergi meninggalkan kamar setelah mengecup kening Alexa. Dia pun tersenyum menatap Alexa sebelum menutup pintu kamar.
"Jaga dia! Aku tak akan memaafkan jika terjadi sesuatu padanya!" Tegas John menatap dingin kedua maid.
"Baik tuan muda." Jawab keduanya kompak menundukkan kepalanya sopan.
__ADS_1
John langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Banyak pekerjaannya yang tertunda karena mengurusi Alexa. Meski sebagian sudah diselesaikan saat dia menjaga Alexa di rumah sakit. Namun tidak semua pekerjaannya bisa diserahkan sepenuhnya pada asistennya. Ada pekerjaan juga yang tidak bisa dilimpahkan pada asistennya. Dan dia lah yang harus turun tangan sendiri menangani.
John menghela nafas panjang melihat berkas-berkas pekerjaannya yang terlihat menumpuk di meja kerjanya. Belum dimulai dia terlihat malas untuk mengerjakannya. Entah kenapa mood nya tidak tertarik untuk mengerjakannya namun tanggung jawab untuk semua karyawan yang bekerja di Alensio grup membuat John kembali bersemangat.
.
.
Pagi itu, Anggita hendak belanja di supermarket untuk kebutuhan sehari-hari di rumah orang tuanya. Sudah seminggu dia tinggal di tanah air. Suaminya sudah kembali ke negara asalnya Ne* York karena pekerjaannya. Namun Anggita memilih untuk tinggal lebih lama karena Celine enggan ikut, dia ingin bersama dengan sang mommy, Helena.
Dan Anggita pun terpaksa tinggal lebih lama karenanya. Tentu saja dengan putranya Juan. Kini dia terlihat memilih bahan-bahan makanan di stand supermarket diikuti oleh Celine yang ikut bergerak lincah kesana kemari. Karena menuruti permintaan keponakannya, Anggita pun pergi ke mall terdekat. Juan yang enggan dipaksa ikut oleh Celine yang tentu saja tak bisa ditolak. Karena Juan sangat menyayangi gadis kecil yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu.
"Kak, ayo lihat kesana!" Ucap Celine menarik pergelangan tangan Juan yang sedang sibuk dengan ponselnya bermain game.
"Kemana? Bunda bilang jangan jauh-jauh!" Larang Juan meski dia akhirnya mengikuti langkah adiknya.
"Boneka itu lucu ya kak?' Ucap Celine sambil menatap boneka yang ada di balik kaca dengan mata berbinar-binar penuh harap.
Juan mengikuti arah pandang Celine yang menatap berbinar-binar pada etalase kaca dengan banyak boneka barbie kesukaan adiknya.
"Tapi disini aku gak punya kak?" Ucap Celine dengan binar mata puppy eyes nya memohon penuh harap. Juan menghela nafas melihat wajah imut adiknya yang menggemaskan.
"Tunggu disini! Aku akan ngomong bunda dulu!" Celine menganggukkan kepalanya antusias mendengar jawaban kakaknya. Dia memang sangat menyukai barbie karena bisa didandani dengan sedemikian rupa membuat Celine merasa mempunyai teman bermain meski ada Juan sang kakak yang selisih usia tiga tahun dengannya.
Bruk
"Aduh..." Celine merasa pantatnya sakit karena menghantam lantai karena terkejut dan tidak sengaja menabrak seorang pria dewasa.
"Maaf dek, kamu tidak apa-apa?" Ucap pria itu menyesal karena tak sengaja menabrak tubuh mungil Celine.
"Sakit paman." Keluh Celine sambil mengelus pantatnya yang sakit.
__ADS_1
Pria itu langsung berjongkok membantu Celine berdiri.
"Maafkan paman, paman tidak melihatmu." Sesal pria itu sambil membungkukkan tubuhnya menyamakan tingginya dengan Celine.
Celine mendongak wajah pria dewasa yang menolongnya itu. Sebenarnya dia merasa kesakitan dan ingin menangis. Namun karena dia mengingat ucapan mommy nya untuk selalu kuat dan tidak cengeng membuat Celine hanya bisa mencebikkan bibirnya lucu karena menahan rasa sakit di pantatnya.
"Apakah sangat sakit sekali?" Tanya pria itu penuh penyesalan.
"Sakit paman. Hiks...hiks..." Keluh Celine membuat pria itu kelabakan dan bingung harus melakukan apa. Pasalnya dia adalah seorang bujangan yang belum pernah mengatasi anak kecil menangis.
"Cup...cup... sayang, dimana ibumu?" Tanya pria itu kebingungan. Pria itu terus melirik jam tangannya karena sebenarnya dia tadi tergesa-gesa karena bosnya sedang mengunjungi proyek. Dia tadi masih ada urusan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan dan segera menyusul bosnya setelah pekerjaannya selesai.
"Huaaa....Hua..." Bukannya diam, Celine malah menangis kencang. Entah kenapa dia merasa ingin menangis padahal biasanya dia tidak cengeng seperti itu.
"Aduh... malah semakin kencang tangisannya." Guman pria itu semakin tambah bingung, apalagi ponselnya sejak tadi terus berdering. Panggilan dari bosnya membuatnya semakin kelabakan.
"Paman!" Pria itu tersentak kaget saat Juan datang mendekati adiknya yang sedang menangis kencang di hadapan pria asing.
Pria itu sontak menoleh ke arah Juan dengan tatapan kebingungan tak tahu harus melakukan apa.
"Paman penculik ya? Paman mau menculik adikku ya?" Tuduh Juan yang langsung digelengi pria itu.
"Ti-tidak... sungguh... aku tidak melakukan apapun... dia...." Jawab pria itu gelagapan panik merasa dia sedang dituduh.
"Bohong, pasti paman mau menculik adikku!" Tuduh Juan menunjuk pria itu.
"Adik kecil..." Pria itu tak sempat membantah karena suara menggelegar Juan langsung menarik perhatian orang-orang yang berkunjung di mall itu.
Bahkan semua orang berkasak-kusuk membicarakan pria itu. Bahkan ada yang terlihat merekamnya. Celine sendiri masih menangis kencang padahal biasanya dia selalu tenang. Sekuriti mall segera menghampiri kerumunan setelah mendapat laporan kalau ada hal yang sedang terjadi.
.
__ADS_1
.
TBC