Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 39


__ADS_3

Helena keluar dari dalam kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Dia menatap ke ranjang tempat John terlelap. Helena mendekat menyentuh dahi John untuk mengecek suhu tubuh John yang sudah mulai kembali normal. Helena bernafas lega, masih dua jam lagi jam kerjanya dimulai. Dia sudah memeriksa infus John yang segera habis menandakan tubuhnya mulai baik-baik saja.


Helena membereskan barang-barang peralatan medisnya hendak pergi meninggalkan kamar hotel John.


Cklek


"Dokter Helena? Bagaimana keadaan tuan muda?" Tanya Evan melihat dokter Helena muncul dari dalam kamar tuan mudanya.


"Kondisinya sudah mulai membaik. Dia sudah melewati masa kritisnya. Nanti sore setelah jam kerja aku akan mampir lagi untuk mengeceknya untuk terakhir kali. Berikan obatnya secara teratur. Kau harus menjaga pola makannya. Usahakan dia tetap makan meski hanya sedikit." Jelas Helena.


"Terima kasih dokter." Jawab Evan penuh syukur.


"Aku harus pergi bekerja." Pamit Helena menghindari tatapan mata Evan yang dirasakan menyelidik padanya namun bukan itu yang dipikirkan Evan, hanya rasa terima kasih telah merawat tuan mudanya semalaman.


"Biar sopir yang mengantar dokter." Tawar Evan namun langsung ditolak oleh Helena.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri." Tolak Helena segera bergegas pergi meninggalkan kamar hotel presiden suite tempat John tinggal.


Helena sedikit tergesa pergi menuju lift. Dia termenung menatap wajah kusutnya di dalam dinding lift yang menampilkan wajahnya. Wajah Helena tiba-tiba memerah mengingat kejadian semalam saat penyatuannya dengan John semalam.


Ini kedua kalinya kami melakukan. Meski tidak sesakit saat pertama kali, tapi entah kenapa aku menikmatinya. Huff... apa yang kau pikirkan Helen, John bukan pria yang kau cintai. Meski wajah mereka sama tapi kau hanya mencintai saudaranya. Lupakan Helena! Lupakan! John pun akan segera menikah dengan kekasihnya. Batin Helena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menepis pikiran mesumnya itu.


Anggap tak pernah terjadi apapun. Seperti sebelumnya. Saat batin Helena mengingat kejadian masa lalu spontan tangan Helena mengelus perutnya.


Aku harus minum pil pencegah kehamilan, harus. Aku tak mau kejadian masa lalu terulang lagi. Meski hanya sekali tidak menutup kemungkinan aku akan hamil, meski sekarang bukan masa suburku. Batin Helena berkecamuk.


Ting


Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Muncul dua pria paruh baya yang menatap Helena dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu terus menatap Helena yang masih terlihat melamun tak menyadari ditatap begitu intens oleh pria di hadapannya ini.


Pria itu meneliti seluruh tubuh Helena dan pandangan matanya berhenti saat melihat bekas kemerahan di lehernya yang sudah berusaha ditutupi dengan rambut yang digerainya namun pria itu masih bisa melihatnya. Hingga kemudian pria itu menghembuskan nafas kecewa.


Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Batin pria itu menghela nafas panjang.


"Apa anda tidak akan keluar nona?" Tanya pria paruh baya itu yang membuat Helena tersentak kaget dan kebingungan, pasalnya lift lantai itu sudah sampai lantai paling bawah dan karena Helena sedang melamun. Dia tak menyadarinya.

__ADS_1


"Eh... oh...iya..." Helena segera keluar dari dalam lift sambil melirik tulisan lantai di lift itu dan merasa malu karena melamun.


"Maaf." Ucap Helena menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan sopan tanpa berani menatap wajah pria paruh baya itu. Sehingga Helena tidak menyadari siapa pria yang menegurnya itu.


.


.


"Dasar anak brengsek. Bisa-bisanya dia memanfaatkan keadaan." Umpat pria paruh baya itu kesal.


"Jaga emosi anda tuan, ingat darah tinggi anda!" Peringat pria paruh baya yang berdiri di belakangnya.


"Kau tak lupa siapa dia kan?" Ucap pria yang berdiri di depan.


"Dia dokter Helena tuan." Ucap Rian yang juga dengan Jo disana berencana mengunjungi John sejak kemarin itu lah yang diinginkannya.


"Anak nakal itu bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah." Kesal Jo mengomel-omel.


Ting


Tap


Tap


Tap


"Dimana John?" Tanya Jo langsung masih dengan nada kesal.


"Tu-tuan muda ada di dalam tuan besar." Jawab Ben salah satu penjaga. Dia pun segera membuka pintu kamar itu dengan gugup seolah lupa kalau tuan mudanya melarangnya untuk mengizinkan siapapun masuk tanpa izin dari John. Namun sekarang adalah tuan besar mereka yang datang, mereka bisa apa. Tak mungkin mereka melarang sang tuan besar masuk.


Tap


Tap


Tap

__ADS_1


"Dia belum bangun?" Tanya Jo yang membuat Evan tersentak kaget melihat tuan besar dan ayahnya ada di situ.


"Tu-tuan besar." Sapa Evan mencoba untuk tenang.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Jo mendekati Evan yang menundukkan kepalanya sopan.


"Tu-tuan muda sedang mandi setelah sarapan dan minum obat tuan." Jawab Evan sedikit gugup.


"Apa kata dokter Helena?" Tanya Jo menatap Evan lekat.


"Kondisi tuan muda mulai membaik setelah semalaman dokter Helena merawatnya." Jawab Evan tanpa berpikir apapun.


"Hmm... apa dia menginap semalaman?" Tanya Jo sambil mengusap dagunya.


"Be-benar tuan, ada hal penting yang harus saya lakukan di perusahaan semalaman sehingga saya tidak bisa merawat tuan muda dan meminta dokter Helena untuk merawat tuan muda." Jelas Evan merasa bersalah karena meninggalkan tuan mudanya hanya karena pekerjaan yang memang penting dan mendesak.


Jo tak menjawab langsung masuk ke dalam kamar John yang bersamaan dengan itu John muncul dari dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Daddy!" Seru John tak percaya melihat daddynya ada di depan matanya.


"Kenapa?" Tanya Jo menatap tajam pada putra kembar sulungnya. Dia menelisik seluruh tubuh John yang juga terdapat beberapa bekas kemerahan di sekitar dadanya meski tidak banyak.


"Ada apa Daddy kemari?" Tanya John langsung masuk ke dalam walk in closednya karena dia hanya memakai handuk menutupi pinggangnya sampai batas pahanya. Dan juga untuk menutupi bekas kemerahan yang ada di dadanya.


"Daddy menunggu di luar." Titah Jo keluar dari dalam kamar John setelah menghela nafas panjang dan berat sedikit kekecewaan yang ada di dadanya namun dia tak menyalahkan semuanya, toh benar pepatahnya tadi. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya.


Cklek


Rian dan Evan berdiri bersisian tak jauh dari pintu saat Jo membuka pintu kamar John. Keduanya sontak kompak membungkuk memberi hormat. Jo menuju sofa tak jauh dari pintu kamar menunggu John menemuinya. Dia harus menyampaikan keputusannya. Dan keduanya harus menerimanya apapun yang terjadi tidak ada penolakan atau alasan apapun.


Cklek


Jo, Rian dan Evan menatap kearah pintu kamar, John muncul dengan pakaian formal yang sudah rapi. Sepertinya dia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi padanya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2