Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 71


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, Josh menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu berlalu begitu cepat, sementara kasus yang dialami rumah sakit yang dipimpinnya belum mengalami perubahan yang berarti. Tadi tim kuasa hukum rumah sakit yang diserahkan kepada uncle nya masih sedang mencari bukti-bukti yang bisa meringankan dugaan tuduhan dari wali pasien.


Meski tim kuasa hukumnya dari pihak keluarganya sendiri, mereka tetap bersikap adil. Kesalahan tetaplah kesalahan, jika rumah sakitnya terbukti bersalah maka mau tak mau tim kuasa hukum menasehatinya untuk melakukan solusi terbaik agar tidak mencoreng nama baik rumah sakit yang sudah lama dimiliki keluarga besarnya.


Josh menghela nafas lelah, sudah hampir tiga hari dia tidak pulang, mengurus masalah itu. Maid yang dipercaya sudah dimintanya untuk tinggal di penthouse miliknya menemani istrinya. Bahkan saking sibuknya dia tak sempat melihat ponselnya. Hanya pesan dan panggilan penting yang menyangkut kasusnya yang bisa dilakukannya saat ini.


Josh memijat pangkal hidungnya merasa lelah. Selama tidak pulang Josh hanya bisa tidur dan istirahat beberapa jam saja. Bahkan dia nyaris tidak tidur. Makan pun di juga tidak teratur. Pesan yang dikatakan pada maid untuk selalu mengingatkan istrinya makan dan istirahat yang cukup hanya dikatakan dua hari yang lalu bahkan dia belum menghubungi maid juga istrinya dua hari ini.


"Aku mau pulang!" Guman nya tegas tak peduli pekerjaannya masih begitu banyak sementara kasusnya belum menemukan ujungnya.


Josh membereskan meja kerjanya beranjak dari kursinya berniat untuk pulang malam ini. Meski masih terpisah kamar dengan istrinya tak membuat urung Josh untuk pulang. Di tahu, dirinya dan istrinya butuh waktu untuk pendekatan tapi jika dirinya jarang pulang seperti ini kapan dia akan melakukan pendekatan. Bisa-bisa dia akan lupa lagi kalau sudah ada seseorang yang selalu menunggunya di penthouse miliknya.


Josh melangkah dengan yakin keluar dari rumah sakit. Wajah lelah, mata cekung kurang tidur dan istirahat serta baju kusut meski dia juga menyediakan pakaian di ruang kerjanya tetap membuat penampilan Josh yang berantakan tetap menawan. Malah dengan tampilan acak-acakan tak terurus itu membuat Josh semakin terlihat seksi dan menggairahkan. Membuat semua pengunjung dan perawat wanita yang tidak sengaja berpapasan dengan direktur utama rumah sakit semakin terpesona. Pasalnya baru kali ini direkturnya terlihat tidak terurus dan kacau.


Biasanya sesibuk apapun Josh, dia selalu terlihat rapi dan menawan. Membuat kaum hawa selalu menganga kagum saat berpapasan dengannya. Namun ada yang beda dari tatapan mata sang direktur utama rumah sakit itu. Tatapan mata yang dulu dingin dan datar tak tersentuh sekarang berbinar penuh cahaya kebahagiaan meski tidak selaras dengan penampilannya yang berantakan.


Josh memilih untuk menggunakan jasa taksi karena merasa mengantuk dan lelah. Dia tak mau bersikap ceroboh untuk menyetir mobil saat keadaannya tidak sedang lelah dan mengantuk seperti saat ini.


Taksi berhenti tepat di depan gedung penthouse miliknya. Namun Josh masih terlelap di belakang kursi penumpang taksi yang ditumpanginya. Dia tadi sudah berpesan pada supir taksi untuk membangunkannya jika dia sudah sampai di penthouse miliknya karena rasa kantuk yang menderanya.


"Tuan..!" Panggil sopir taksi itu sudah ketiga kalinya namun Josh sepertinya terlalu mengantuk hingga tak mendengar panggilan sopir taksi itu.


"Tuan!" Panggil sopir taksi itu lagi namun lagi-lagi Josh tak bergeming. Sopir taksi pun memutuskan untuk menggoyangkan tubuh Josh untuk membangunkannya.


"Tuan! Tuan! Kita sudah sampai." Ucap sopir taksi membuat Josh tersentak bangun dari tidurnya. Dia sungguh sangat mengantuk hingga terlelap tanpa sadar. Josh mencoba mengumpulkan nyawanya yang belum pulih benar.


"Terima kasih." Jawab Josh setelah menyadari dimana dia berada sambil menatap sekeliling di tempat yang dikenalinya.


"Tidak masalah tuan." Jawab sopir taksi itu tetap ramah, apalagi saat menerima uluran uang yang melebihi ongkos taksi.


"Ambil kembaliannya, terima kasih sekali lagi." Jawab Josh ramah meski tetap berwajah datar.


"Terima kasih kembali tuan, semakin anda selalu beruntung." Jawab sopir taksi itu antusias dengan senyum berbinar. Pasalnya uang yang diberikan Josh lebih dari sepuluh penumpang jarak jauh membuatnya sungguh sangat bersyukur dan beruntung karena mendapat penumpang seperti Josh. Padahal tadi dia berniat untuk langsung pulang dan tak menerima penumpang lagi.


Namun saat Josh mencegat taksinya membuat sang sopir taksi mau tak mau menghentikan di depan Josh mencegatnya. Sungguh keberuntungan yang tak dikiranya.


Josh tersenyum tipis saat hendak masuk ke lift menuju ke penthousenya. Dia tak sabar untuk bertemu dengan istrinya yang akan menyambutnya. Namun saat dia kembali melirik jam tangannya dia merasa bersalah karena membuat istrinya tak mendapatkan perhatian darinya.

__ADS_1


"Maaf." Guman Josh sendu.


Dia berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan perhatian lebih pada istri dan calon anaknya jika kasus yang terjadi di rumah sakit selesai.


Josh menghembuskan nafas panjang saat tiba di depan pintu penthouse nya. Rasa bersalah kembali menggelayuti nya saat mengingat istrinya yang ditinggalkan beberapa hari ini di penthouse sendirian. Meski ada bibi maid yang menemani, bagaimana pun juga mereka adalah pengantin baru.


Josh segera menekan kode password pintu penthouse nya. Bunyi tit membuat pintu penthouse nya otomatis terbuka karena sudah memasukkan password pintu.


Suasana lengang di malam itu membuat Josh lagi-lagi menghembuskan nafas pasrah. Sama seperti sebelum-sebelumnya saat dirinya masih tinggal sendirian. Sunyi, senyap tanpa suara. Josh pun melangkah masuk dengan tidak bersemangat menebak istrinya sudah terlelap di kamarnya. Josh memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.


Namun suara-suara di dapur mengurungkan niatnya untuk menuju kamarnya di lantai dua penthouse nya. Mendengar suara-suara samar di dapur yang terlihat gelap membuat Josh penasaran dan memilih untuk melihat siapa gerangan yang ada disana. Seorang pencuri itu tidak mungkin karena penthouse nya berada di tempat yang aman dengan pengawalan yang ketat dari penanggung jawab gedung.


Kedua maidnya tidak mungkin mencuri. Josh sudah kenal betul dengan maidnya. Merasa sudah bekerja sebelumnya di mansion orang tuanya. Begitu juga dengan maid paruh baya yang sudah mengikuti keluarganya sejak mendiang mommy nya masih hidup. Sehingga dia lebih mempercayai maidnya itu untuk menemani istrinya di penthouse.


"Kau butuh sesuatu?" Suara Josh terdengar merinding di belakang tubuh Alexa membuat dirinya terkejut.


"Josh!" Seru Alexa tersentak kaget melihat suaminya yang tiba-tiba muncul di belakang tubuhnya membuat Alexa merinding.


"Kenapa tidak menyalakan lampu?" Tanya Josh lembut tersenyum menatap istrinya yang sudah tiga hari ditinggalkan di penthouse nya.


"A-aku lapar." Jawab Alexa terbata-bata merasa gugup melihat Josh sudah pergi untuk menyalakan lampu dapur.


"Tidak. Jangan ganggu mereka! Mereka sedang tidur, aku tak mau menganggu mereka." Cegah Alexa cepat menarik lengan suaminya yang hendak menuju kamar maid. Tatapan memohon yang diberikan oleh Alexa membuat Josh luluh yang awalnya dia ingin marah pada kedua maidnya yang menelantarkan istrinya hingga kelaparan di malam hari.


"Itu sudah tugas mereka melayanimu setiap saat." Ucap Josh tegas menatap istrinya yang masih menunjukkan wajah memelas penuh permohonan membuat Josh kembali pura-pura marah karena melihat wajah istrinya yang terlihat menggemaskan di matanya.


"A-aku sudah makan malam banyak tadi. Tapi entah kenapa a-aku tiba-tiba merasa lapar lagi. Dan maid tadi mengatakan su-sudah menyiapkan makanan untukku jika a-aku merasa lapar saat di malam hari." Jawab Alexa terbata-bata menundukkan wajahnya merasa bersalah dan gugup ditatap sedemikian rupa oleh suaminya, suami yang sudah tiga hari ini tak dilihatnya dan tiba-tiba pulang dan mengejutkannya di dapur.


"Kau sering lapar di malam hari?" Tanya Josh merasa bersalah. Alexa hanya mengangguk masih tak berani mengangkat wajahnya.


"I-itu terjadi beberapa hari ini. Mungkin karena sedang hamil jadi a-aku mudah lapar." Wajah Josh seketika pias merasa bersalah mendengar alasan kehamilan istrinya yang sesaat dilupakannya bahwa istrinya saat ini sedang hamil dan sewaktu-waktu bisa merasakan kelaparan dan itu terjadi sudah beberapa hari ini.


Dan bodohnya dia tidak tahu hal itu karena terlalu banyak masalah yang dialaminya akhir-akhir ini. Meski awalnya dia pura-pura akan marah pada maidnya tapi sekarang dia juga merasa bersalah dan bodoh karena merasa gagal menjadi suami yang baik untuk calon anak dan istrinya.


"Maaf... aku tidak tahu. Maaf." Ucap Josh lirih ikut menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Tidak. Aku tahu kau sibuk." Alexa langsung mendongak mendengar suara lirih rasa bersalah suaminya.

__ADS_1


"Padahal aku sudah berjanji akan memperhatikan kalian. Maaf." Lirih Josh menatap Alexa dengan raut wajah bersalah membuat Alexa malah semakin bersalah dan tidak enak hati.


"Ti-tidak. Jangan seperti itu! Aku bisa melakukannya sendiri. Toh bibi maid sudah menyiapkan camilan untukku dimalam hari." Alexa segera menuju ke lemari es lagi mengambil kue tart dan puding sesuai request nya pada bibi maid.


"Aku yang meminta mereka menyiapkannya sore tadi. Jadi aku tak akan merepotkan mereka saat sewaktu-waktu aku bangun dan merasa lapar." Jawab Alexa dengan senyum manisnya.


Josh terdiam melihat istrinya yang mencoba untuk menghiburnya dan tersenyum menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja di depannya. Dan berusaha untuk membuat dirinya tidak merasa bersalah.


"Aku akan pulang setiap hari. Maaf." Ucap Josh lagi mendekati istrinya dan tanpa sadar dia mendekap tubuh istrinya yang dirindukannya beberapa hari ini. Bahkan dia lupa tentang pendekatan yang mereka bicarakan beberapa waktu lalu. Untuk sekarang Josh hanya ingin meredakan rasa bersalahnya pada istri dan calon anaknya.


Tubuh Alexa menegang di dalam pelukan suaminya. Dia tak menolak atau membalas pelukan suaminya. Namun entah kenapa dia merasa nyaman dan perutnya pun ikut-ikutan nyaman juga merasa baik. Apa dia sudah mulai menerima dan merindukan suaminya itu? Alexa sering dipeluk dengan wajah yang sama oleh John. Namun entah kenapa pelukan Josh terasa berbeda dan nyaman meski memiliki wajah yang sama.


.


.


TBC


Maaf para pembacaku.


Lama gak up, karena sibuk di dunia nyata.


Insya Allah setelah ini aku akan rutin up, karena kesibukanku di dunia nyata sedikit demi sedikit terselesaikan.


Untuk give away nya tetap lanjut ya.


Beri dukungannya.


Berikan banyak poinnya untuk menerima hadiahnya yang akan diundi akhir bulan Februari.


Terima kasih


Hasil sementara



Tetap pertahankan dukungan kalian ya.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2