Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 55


__ADS_3

"Aku harus pergi ke kantor untuk mengurus pekerjaan. Kamu dengan para maid tak apa kan?" Pamit John dengan raut wajah penyesalan menatap Alexa yang sedang sarapan dibantu seorang maid.


"Pergilah! Aku ditemani mereka, kau tak perlu cemas." Jawab Alexa tersenyum manis membuat John lagi-lagi merasa bersalah.


"Setelah hari ini aku akan selalu menungguimu, dan menunggu hari H pernikahan kita." Ucap John menatap Alexa penuh rasa bersalah.


"Okay." Jawab Alexa menunjukkan senyum manisnya.


"Aku sungguh minta maaf. Kalau hal ini tidak penting aku..."


"Pergilah John! Aku akan baik-baik saja. Aku akan menunggumu pulang." Jawab Alexa meyakinkan pada John.


"Aku pergi. Banyaklah istirahat! Minum vitaminmu!"


"Iya... iya..."


"Kamu!" John menunjuk maid yang membantu Alexa sarapan tadi.


"Jaga calon nyonya!" Titah John tegas.


"Baik tuan muda." Alexa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perhatian John.


"Aku pergi." John mengecup kening Alexa setelah kemudian keluar dari apartemennya.


Di basemen apartemen, sopirnya sudah menjemputnya sendiri.


"Tuan Evan masih ada breafing tuan muda, beliau akan langsung menyusul jika sudah selesai." Ucap sopir itu seolah tahu apa yang ditanyakan tuan mudanya tanpa bertanya.


"Okay." Jawab John langsung masuk ke mobil setelah sopir membukakan pintu penumpang.


"Kita akan kemana dulu?" Tanya John sambil mengecek berkas proyek yang akan dikunjunginya.


"Kita ke mall Ciputra tuan muda." Jawab sopir, John hanya menganggukkan kepalanya.


Tak sampai satu jam, mobil John sudah sampai di basemen mall Ciputra, mall terbesar di kota milik keluarga besarnya. John segera keluar setelah disambut direktur utama mall tersebut beserta jajarannya.

__ADS_1


John terlihat datar dan dingin meski semuanya menyapanya dengan ramah dan sopan serta dengan senyuman lebar berusaha menarik perhatian John. Kalau dulu mungkin John pasti akan membalas senyuman mereka dengan senyuman ramah pula. Namun entah kenapa setelah mengetahui pengkhianatan adiknya membuat John enggan untuk tersenyum ramah seperti biasanya. Bahkan sekarang terkesan dingin dan kejam.


"Kapan kau akan datang?" Ucap John dalam panggilan ponselnya setelah dua jam berkeliling mall untuk mengunjungi stand-stand milik keluarganya. Juga meeting tentang laporan akhir bulan mall itu dengan direktur utama.


"Maaf tuan muda sepertinya saya sedikit lama... saya..." John tak bisa lagi mendengar suara Evan setelah panggilan itu dimatikan sepihak oleh Evan membuat John menggerutu kesal, karena tidak biasanya Evan menutup lebih dulu panggilannya. Dan sepertinya di sekitar Evan memang sedang ramai hingga membuat Evan tak bisa bicara dengan leluasa dengannya.


"Apa benar tuan hendak menculik gadis itu?" Tanya salah seorang sekuriti tersebut menatap penuh intimidasi pada Evan.


Ya benar, pria yang menabrak Celine tadi adalah Evan. Dia tadi tergesa-gesa berlari karena akan menyusul John setelah breafing dengan karyawan perusahaan. Namun karena dia lari-lari kecil agar segera sampai membuatnya tak melihat Celine yang memutar berbalik dan sontak membuat Evan menabrak Celine dengan kencang.


Dan terjadilah kejadian itu. Setelah sekuriti datang, dia dan kedua anak kecil, Juan dan Celine pergi ke pos sekuriti. Dengan Celine sudah tidak menangis kencang lagi, namun masih tersisa sesenggukan yang ditenangkan oleh Juan.


"Tentu saja tidak. Aku adalah asisten tuan muda Alensio." Jawab Evan membela diri sambil menyerahkan kartu nama yang berlogo Alensio grup.


"Ah." Kedua sekuriti tersentak kaget dan juga takut. Mereka tahu mall Ciputra adalah milik Alensio grup. Mereka serentak membungkukkan badannya memberi hormat pada Evan.


"Maafkan kesalahan kami tuan, karena tidak tahu." Ucap salah seorang dari mereka.


"Tidak apa-apa. Aku tadi hanya tidak sengaja menabrak gadis kecil itu hingga dia sampai menangis histeris." Jelas Evan menatap Celine yang sudah mulai tenang yang dibalas dengan tatapan membunuh dari Juan.


"Ada apa ini?" Tanya seorang pria dengan pakaian berjas rapi yang formal sepertinya dia adalah orang yang bertanggung jawab jika ada keributan.


"Tuan Evan, anda ada disini? ada apa ya? Sepertinya pegawai kami membuat kesalahan pada anda." Ucap pak manager memohon maaf sebelum tahu kejadian yang sebenarnya.


"Bukan seperti itu." Jawab Evan menatap kedua sekuriti itu memberi kode untuk menjelaskannya.


"Pak manager." Sapa kedua sekuriti sopan sambil membungkukkan badannya.


"Begini pak..." Salah seorang dari sekuriti tersebut pun menjelaskan secara runut kejadian sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Evan yang membuat pak manager itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Sepertinya ini hanya kesalah pahaman. Saya akan menyelesaikannya tuan." Ucap pak manager itu.


"Adik kecil, dimana orang tua kalian?" Tanya manager ramah sedang Evan masih ikut menyimak apa yang akan ditanyakan manager tersebut. Dia menatap gadis kecil itu yang sudah tidak menangis lagi karena seorang pelayan mall memberikannya ws krim untuk menenangkannya.


"Bunda sedang belanja." Jawab Juan dengan lancar.

__ADS_1


"Siapa nama bundamu? Biar petugas informasi memanggil bundamu?" Ucap manager itu ramah sambil tersenyum.


.


.


"Ada apa?" Tanya John melihat seorang pegawai mall berbisik di telinga manager mall yang ikut juga meeting dengan John.


"Tidak ada yang penting tuan muda, sepertinya ada sedikit masalah." Jawab direktur utama.


"Masalah?" Tanya John mengernyit penasaran.


"Sepertinya ada anak yang tersesat dan menangis histeris." Jawab direktur utama setelah diberi tahu salah seorang bawahannya apa yang terjadi.


"Begitukah?" Tanya John kurang puas dengan jawaban direktur utama itu.


"Ayo kesana!" Ucap John melangkah menuju dimana keributan itu terjadi.


"Evan!" Ucap John mengernyitkan dahi melihat asisten yang ditunggunya berada di sana.


"Tuan muda." Sapa balik Evan mendekati John.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya John.


"Saya..."


"Paman... paman belikan aku boneka kalau paman benar-benar mau minta maaf." Ucap Celine menarik-narik celana Evan dengan kedua tangannya dengan tatapan puppy eyes.


Evan menoleh menatap Celine yang menunjukkan wajah imut. John juga mengikuti arah pandang Evan melihat anak kecil itu merasakan detak jantungnya berdebar kencang. John menatap gadis kecil yang terasa familiar wajahnya itu. Spontan John berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Celine.


"Juan. Celine." Seru Anggita dari kejauhan terlihat cemas dan panik melihat kedua anaknya berada di ruang informasi mall.


"Bunda." Seru keduanya. Evan dan John mengikuti arah pandang kedua bocah itu merasa familiar juga pada wanita yang terlihat panik itu. Nafasnya memburu dan ngos-ngosan karena dia tadi sudah berputar-putar mall untuk mencari keberadaan dua bocah itu.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2