
Josh berlari menuju ruang intensif setelah mendapat kabar tentang Alexa yang sudah siuman. Itu artinya janinnya tidak perlu digugurkan membuat Josh tak henti-hentinya menebar senyuman. Senyum di bibir Josh tak pernah pudar sepanjang perjalanan menuju ruang intensif tempat Alexa dirawat. Semua orang yang sempat berpapasan dengan Josh menatap tak percaya pada direktur utama rumah sakit melihat senyum sumringah terus terpatri di bibirnya.
'Apa ada sesuatu yang baik terjadi?' Ucap seseorang yang sempat berpapasan dengan Josh.
'Kenapa?' Tanya perawat yang berjalan dengannya.
'Lihatlah!' Lirik seseorang tadi yang juga sama-sama perawat. Dia berbisik sambil menunjuk Josh yang lewat dengan dagunya. Perawat tadi mengikuti arah pandang yang tertuju pada Josh.
'Dia semakin tampan saja kalau tersenyum.' Jawab perawat yang mengikuti arah pandang tadi.
'Beliau memang sudah tampan.' Jawab perawat itu.
Dan masih banyak lagi kata-kata oleh semua orang karena terdengar bisikan-bisikan.
Langkah Josh terhenti saat melihat ada kakaknya yang mengikuti langkah brankar ranjang Alexa yang didorong masuk ke dalam lift hingga Josh tak sempat mengikuti karena keburu ditutup. Raut wajah kecewa Josh semakin besar saat melihat senyum sumringah yang sering ada di bibir kakaknya dan itu artinya apa tebakan dalam pikirannya akan terjadi? Batin Josh kembali muram dan sendu.
.
.
"Kakak!" Panggil Helena melihat kakaknya sudah ada di rumah orang tuanya sedang berbincang dengan orang tuanya.
"Helen!" Balas sang kakak balik menyapa Helena yang datang tergesa-gesa karena panik dan cemas.
"Mommy!" Seru suara kecil tak jauh dari tempat Helena berdiri. Sontak membuatnya menoleh ke arah suara yang dikenalnya.
Seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahunan berdiri tak jauh dari asisten rumah tangga orang tuanya.
"Celine!" Kejut Helena berlari mendekati gadis kecil itu. Semua orang hanya menatap keduanya dengan tatapan iba.
"Princess mommy?" Ucap Helena sambil mendekap tubuh gadis kecil yang sangat dirindukannya itu.
"Celine rindu mommy." Bisik Celine dengan wajah sendunya.
"Mommy juga princess. Maafkan mommy." Ucap Helena setelah puas mendekap tubuh putrinya.
__ADS_1
"Apa kabar kak?" Tanya Helena mendekati sofa yang diduduki kakaknya.
"Kakak baik dek, bagaimana denganmu?" Tanya kakak Helena, Anggita.
"Aku... baik juga kak." Bukannya menjawab, Anggita terdiam. Dia tahu adiknya sedang tidak baik-baik saja.
"Kau habis menangis?" Tanya Anggita penuh selidik.
"I-itu... tadi aku menghibur seseorang." Jawab Helena asal meski sebagian besar itu benar.
"Siapa? Jangan bilang dia..." Helena menganggukan kepalanya tersenyum miris.
"Kau masih mengharapkannya?" Tanya Anggita dengan nada kesal.
"Kak?" Rengek Helena.
"Sudah-sudah. Helena kau antar putrimu tidur. Sepertinya dia mengantuk." Lerai sang ibu saat kondisi sedikit panas pada kedua putrinya itu.
"Kau mengantuk princess mommy?" Tanya Helena basa-basi sambil menggandeng tangan kecil putrinya menuju kamarnya.
"Ya mommy." Jawab Celine sambil menguap karena memang mengantuk.
.
.
"Sekarang kau harus ceritakan pada kakak? Sampai kapan kau akan menyembunyikan putrimu dari ayahnya?" Tanya Anggita setelah Helena selesai menidurkan putrinya. Kini keduanya sedang duduk di gazebo samping rumah orang tuanya.
"Kumohon kakak, jangan mulai lagi!" Jengah Helena memutar bola matanya malas.
"Kau tidak selamanya bisa menyembunyikannya Helen. Putrinya berhak tahu siapa ayahnya. Dan dia juga berhak tahu kalau dia sudah punya anak. Entah apa responnya nanti setidaknya kau sudah mengatakan padanya." Nasehat Anggita yang sudah berulang kali dikatakan setiap mereka punya kesempatan berbincang berdua.
"Aku tak bisa mengatakannya kak." Ucap Helena sendu membuang pandangannya ke arah lain.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dia... akan menikah." Jawab Helena sendu.
"Bagaimana mungkin dia menikah sementara dia menelantarkan putrinya." Kesal Anggita.
"Dia bukankah tidak bertanggung jawab tapi dia tidak tahu kak." Jawab Helena berusaha membela seseorang itu.
"Kau seharusnya mengatakan semuanya padanya." Marah Anggita.
"Sudahlah kak, biarkan dia bahagia. Aku juga bahagia melihatnya bahagia." Jawab Helena tersenyum getir.
"Apa kau mencintainya?" Tanya Anggita.
"Aku masih mencintai pria yang sama. Dia bahkan semakin tampan saja." Helena terdiam tak melanjutkan ucapannya saat mengingat curhatan Josh tadi.
"Ada apa?" Tanya Anggita melihat adiknya terdiam.
"Sepertinya aku bisa membatalkan pernikahan mereka." Ucap Helena dengan senyum penuh arti.
"Apa maksudmu, bukannya kau menolak untuk mengatakan tentang putrimu padanya?" Ucap Anggita menatap adiknya penuh selidik.
"Sayang!" Panggil seseorang dari arah pintu rumah.
"Eh... iya sayang..." Jawab Anggita melihat suaminya muncul menatapnya penuh cinta.
"Apa kau akan mengabaikanku lagi?" Tanya Doni suami Anggita karena sejak bertemu dengan Helena istrinya mengabaikannya, bahkan dia yang menidurkan putranya yang baru berusia enam tahun.
"Kita lanjutkan besok. Maaf sayang." Seru Anggita berlari masuk ke dalam rumah.
Helena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya.
Apa aku setega itu? Josh pasti tak mungkin lari dari tanggung jawab saat tahu seseorang hamil anaknya. Apa gadis itu tak mau Josh tanggung jawab karena gadis itu mencintai John. Batin Helena berkecamuk.
"Sudahlah. Lebih baik aku juga tidur. Besok masih bekerja juga." Guman Helena ikut masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
.
__ADS_1
.
TBC