
Josh menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya sore itu. Setelah menghubungi kakaknya untuk mengatakan kesibukannya dan tidak ikut dalam kunjungan lamaran pernikahan sang kakak ke mansion keluarga ibu calon bayinya, Josh tak bisa dibuat konsentrasi dengan pekerjaannya.
Ucapan Daddy nya terngiang-ngiang terus ditelinganya tentang bagaimana memperjuangkan seseorang meski belum ada nama di dalam hatinya. Tapi karena rasa tanggung jawab membuat sang Daddy melakukan dengan sedikit paksaan meski harus menjadi suami siri atau suami kedua sang mommy karena mommy masih berstatus suami orang yang digantung.
"Apa aku harus memperjuangkannya? Calon anak dan ibu anakku? Apa aku sanggup melihat kakakku terpuruk dan menderita? Itu kalau kakakku bisa memaafkan aku, bagaimana kalau kakak malah membenciku?" Guman Josh sambil mengusap wajahnya gusar.
"Kalau bisa melihat mereka berdua bahagia, kenapa tidak?" Guman Josh lagi mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Tok tok tok
Suara pintu ruangan Josh diketuk dari luar.
"Masuk!" Titah Josh setelah membenahi penampilannya yang terlihat kacau.
"Boleh aku masuk?" Pinta seseorang setelah pintu terbuka melongokkan hanya kepalanya.
"Masuklah!" Jawab Josh setelah tahu siapa yang mengetuk pintunya.
"Ada yang ingin aku tanyakan mengenai jadwalku hari ini." Ucap Helena setelah dipersilahkan duduk di kursi depan meja kerja Josh.
"Apa?" Helena menunjukkan tabletnya yang menunjukkan jadwal kerjanya selama minggu ini di rumah sakit.
__ADS_1
"Tentang ini, ini dan ini!" Tunjuk Helena pada tabletnya sambil menunjukkan hal itu pada Josh juga.
"Ada yang salah?" Tanya Josh mengernyit.
"Josh, maaf pak direktur..."
"Panggil nama saja jika sedang berdua."
"Oh okay, oh ya .. kau tahu aku baru di rumah sakit ini. Meski aku lulusan magister dengan gelar profesor, aku masih baru disini. Kau tak salah menempatkan operasi besar di dalam jadwalku? Kau tak nepotisme kan sekarang?" Jelas Helena dan Josh masih terdiam belum menjawab.
"Aku senang kau langsung mengakuiku sebagai dokter spesialis jantung yang hebat. Tapi bagaimana pun juga aku baru pertama kali memimpin operasi besar. Aku bukan tidak yakin, setidaknya biarkan aku bekerja di bawah pimpinanmu." Jelas Helena lagi.
"Aku akan ada disana saat operasi itu terjadi." Helena terdiam ucapannya disela Josh. Helena menatap Josh intens dan lekat.
"Josh! Josh!" Seru Helena membuat Josh tersentak dari lamunannya.
"Ya?" Josh menatap Helena kaget.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Helena lagi.
"Aku baik." Jawab Josh asal sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Josh!"
"Bisa tinggalkan aku sendiri!" Pinta Josh menatap Helena memelas. Helena masih terdiam belum menjawab permintaan Josh. Dia meneliti seluruh wajah Josh melihat ada raut wajah cemas, khawatir dan juga sedih. Entah karena apa Helena sejak dulu tak bisa menebak pria yang dikaguminya ini sejak dulu.
"Okay." Helena segera beranjak tak banyak bertanya. Dia memilih membiarkan pria itu sendiri untuk menenangkan diri karena dia terlihat buruk dan kacau.
Tap
Tap
Tap
Helena meninggalkan kursi setelah membereskan tablet yang dibawanya tadi dan saat hendak menarik hendel pintu ruang kerja Josh, dia sempat membalikkan tubuhnya menatap Josh yang juga masih menatapnya.
"Kau tahu kalau kita sudah seperti teman? Kalau kau bersedia bisa menjadikan aku tempat curhatku." Josh hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan namun tak berniat untuk membuka mulutnya.
Dia butuh sendiri saat ini.
.
.
__ADS_1
TBC