Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 30


__ADS_3

Persiapan pernikahan sudah delapan puluh persen. Hari pernikahan tiga hari lagi. John menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya agar saat hari H pernikahan dia sudah tak memiliki pekerjaan yang nantinya. Setelah pernikahan dia juga tak mau diganggu dengan pekerjaannya yang begitu menyita waktunya.


Setelah empat hari yang lalu mengunjungi Alexa, dia belum mengunjunginya lagi. Bukan hanya karena sibuk dengan pekerjaannya saja tapi ada adat istiadat yang dilakukan dalam keluarganya yaitu pengantin sedang dipingit untuk tidak saling bertemu sebelum hari H. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Keduanya hanya bisa menurut. Selain melalui ponsel mereka juga sering melakukan panggilan video hanya untuk sekedar melepas rindu.


John merasa kasihan melihat wajah Alexa yang semakin pucat karena lemas. Mual dan muntah efek dari kehamilannya semakin parah saja. Bahkan obat anti mual yang diberikan oleh dokter seperti tak berefek lagi. Hari ini, Alexa harus kembali ke mansion keluarganya karena harus melakukan ritual sebelum pernikahan.


"Kenapa dia semakin lemas saja karena mual? Bukannya kau sudah memberikan obat anti mual?" Seru John marah pada dokter Mira, dokter kandungan Alexa itu. Dokter Mira yang hanya mendengar suara John dari seberang ponselnya meneguk ludahnya kasar merasa ngeri membayangkan wajah marah tuan muda Alensio itu.


"Tapi seperti itulah orang hamil kebanyakan tuan, apalagi masih dalam masa trimester pertama." Jawab dokter Mira berusaha menekan rasa gugupnya karena takut.


"Berikan obat lain padanya untuk mencegah mualnya yang semakin parah!" Titah John tegas.


"Tapi tuan, obat-obatan untuk ibu hamil itu tidak terlalu bagus. Karena terlalu sering menkonsumsi obat agar berdampak buruk pula pada janinnya. Alangkah baiknya kita melakukan alternatif lain untuk mencegah mualnya tersebut?" Saran dokter Mira, seketika dia ingat saat Alexa terlelap nyaman saat berada di sisi direktur utama rumah sakit tempatnya bekerja.


Dan lagi-lagi pikiran liar buruk dokter Mira melanglang buana. Dia tidak begitu yakin dengan pikirannya tapi semuanya entah kenapa mengarah kesana. Namun dokter Mira segera menepisnya.


"Apa alternatif lainnya itu?" Tanya John terdengar menghela nafas panjang.


"Ehm begini. Tanyakan pada nona, apa hal yang membuatnya nyaman saat ini. Apa yang ingin dimakan, apa yang ingin dilakukan, siapa yang ingin dia lihat. Biasanya itu dapat membantunya untuk meredakan mualnya meski tidak banyak." Saran dokter Mira membuat John terdiam dan berpikir.


Dia teringat saat Alexa makan dengan lahap es krim rasa stroberi juga telur balado beberapa waktu lalu. Dan hal itu tak membuatnya mual maupun muntah lagi. Malah calon istrinya itu terlihat segar bugar dan kembali istirahat dengan nyaman setelah makan dan mandi. Dan laporan maidnya mengatakan kalau Alexa tidak mulai sampai bangun tidur di pagi hari.


"Akan kucoba!" Jawab John menutup panggilan ponselnya.


John duduk terdiam termenung di kursi kerja kebesarannya di ruang kantornya. Masih ada beberapa kertas menumpuk yang menunggu untuk ditanda tanganinya. Namun John terlihat enggan untuk menyentuhnya. Dia tampak berpikir keras dalam benaknya.

__ADS_1


Apa aku harus melakukannya? Batin John menerawang menatap ke depan.


Bagaimana kalau ternyata itu benar? Batin John lagi.


Apa yang harus kulakukan? Batin John lagi.


Cklek


Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka dan sontak membuat John tersentak dari lamunannya menatap Evan tajam yang ternyata dialah yang membuka pintu ruang kerjanya.


"Semakin kurang ajar kamu Van, masuk tidak mengetuk pintu." Sindir John.


"Maaf tuan muda, saya sudah mengetuk pintu lebih dari lima kali, tapi sepertinya pikiran tuan muda sedang tidak disini." Bantah Evan santai.


"Benar tuan muda. Apa yang sedang anda pikirkan?" Tanya Evan basa-basi tak berharap John akan menjawabnya karena biasanya John selalu menghindari pertanyaan pribadi.


"Apa yang akan kau lakukan jika jadi aku Evan?" Tanya John tiba-tiba.


"Saya akan bersenang-senang dengan uang saya yang banyak. Menikahi wanita yang saya cintai dan membuat keluarga kecil kami bahagia." Jawab Evan asal menanggapi yang dianggap gurauan John dengan pertanyaannya.


"Bagaimana kalau calon istrimu hamil oleh pria lain?" Pertanyaan John membuat Evan terdiam. Dia kembali memasang wajah seriusnya. Dia menatap John yang terlihat bingung ingin mengungkapkan perasaannya. Dan baru kali ini tuan muda yang dilayaninya sejak dia kecil itu terlihat serius meminta pendapatnya.


"Saya akan mencari pria itu dan memintanya untuk bertanggung jawab pada kekasih saya meski harus merelakan kebahagiaan saya. Karena itu berarti dia bukan jodoh saya." Jawab Evan serius menatap John dalam.


"Tapi kau sangat mencintainya Van, kau tak bisa hidup tanpanya." Jawab John lemah.

__ADS_1


"Itu lebih baik dari pada nanti setelah menikah saya berubah pikiran dan pikiran saya selalu dipenuhi rasa kecewa karena wanita yang kita cintai pernah punya hubungan meski itu hanya kecelakaan. Hati manusia tidak akan ada yang tahu nantinya tuan muda. Lebih baik saya sakit di depan dari pada menyesal nanti dan malah menyakiti wanita yang saya cintai." Jelas Evan terdengar mellow seakan dialah yang mengalami itu semua. John terdiam mencerna ucapan Evan dan kembali dia menghela nafas panjang dan berat.


"Bagaimana kalau ternyata pria yang menghamilinya adalah orang terdekat kita?" Tanya John lagi dengan lemah tak bersemangat.


"Mungkin berdamai diri itu lebih baik." Jawab Evan enteng meski hatinya nelangsa karena tak mampu menggapai cintanya.


"Terima kasih sarannya Van."


"Sama-sama tuan muda." Jawab Evan sopan menerima rasa terima kasih tuan mudanya.


"Oh ya, bagaimana kalau kau berjuang juga untuk cintamu?" Saran John menatap Evan penuh arti.


"Saya tidak mengerti maksud anda tuan." Jawab Evan masa bodoh.


"Aku tahu yang kau ungkapkan adalah tentang perasaanmu pada adikku. Kenapa kau menolaknya dengan begitu keras Van, tidak ada yang menyalahkan kau yang juga sebenarnya mencintai Hana juga. Jangan terlalu lama mengabaikan perasaannya! Kau akan menyesal nantinya. Dan jangan sampai kau mengalaminya. Dan aku menyemangatimu sebagai seorang kawan bukan sebagai calon kakak ipar." Jelas John tersenyum menatap Evan yang terlihat salah tingkah dengan wajah hingga telinganya memerah.


"Itu tidak benar tuan muda." Jawab Evan menyangkalnya.


"Terserah kau saja!" Jawab John akhirnya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2