
"Tuan muda...." Ucap Evan terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Menatap John yang mendongak menatapnya seolah bertanya ada apa.
"Ada... kabar buruk." Ucap Evan kembali berpikir.
"Huff... ada apa?" Tanya John setelah menghela nafas panjang.
"Nona Alexa kritis." Ucap Evan akhirnya. John yang tak menyangka dengan kabar ini tubuhnya pun menegang. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja tentang hubungan mereka. Namun perasaannya pada Alexa tidak bisa dibohongi, dia masih sangat mencintai Alexa.
"A-apa maksudmu?" Tanya John menatap Evan sendu dengan penuh rasa penasaran juga.
"Setelah orang tua nona Alexa berkunjung tadi, kondisi nona Alexa kritis. Bahkan janinnya terancam gugur." Jawab Evan hati-hati.
"Kita kesana!" John segera beranjak dari tempat duduknya meraih jas kerjanya yang diletakkan di sandaran kursi kebesarannya.
"Tapi meeting..."
"Tunda." Jawab John menyela dengan cepat.
"Baik tuan." Evan mengikuti langkah John dari belakang. Wajah John terlihat cemas dan merasa bersalah. Niat hatinya hanya ingin ayah biologis janin itu bertanggung jawab pada janinnya. Namun kabar yang tidak disangkanya malah terjadi.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya John setelah mobil mulai melaju menuju rumah sakit milik keluarganya.
"Saya masih menyelidikinya tuan muda, saya masih menyuruh orang kita untuk mencari tahu." Jawab Evan penuh sesal karena kabar yang diberikan belum valid, jadi dia masih ingin memastikan kebenarannya sebelum mengatakan pada tuan mudanya.
"Huff... Apa yang dilakukannya?" Evan langsung tahu siapa yang dimaksud tuan mudanya. Siapa kalau bukan tuan muda keduanya, Josh. Setelah kejadian perkelahian bukan perkelahian karena Josh tidak membalas atau mengelak sama sekali bogeman mentah bertubi-tubi yang dilayangkan tuan muda pertamanya.
"Menurut orang kita, beliau sedang menginterogasi perawat yang bertanggung jawab menjaga nona Alexa." Jawab Evan membuat John mengernyit.
"Menginterogasi?" Tanya John merasa janggal.
Dia bertanya-tanya, kenapa bukan dirinya yang menjaganya. Bukannya beberapa waktu kabar yang didapatnya seharian penuh menjaganya saat Alexa baru dirawat bahkan tidak sadarkan diri sampai pukul tujuh malam. Namun John tak mau ambil pusing, dia hanya bisa menebak karena tugas Josh sebagai seorang direktur utama rumah sakit juga tidak sedikit meski tidak sebanyak tugasnya sebagai CEO di perusahaan keluarga besarnya.
__ADS_1
"Berdasarkan informasi, perawat itu yang bersama nona Alexa. Dan dia juga yang melihat kedua orang tua nona Alexa datang menjenguknya pagi itu. Namun karena dirinya hanya orang luar, dia memilih untuk keluar dari ruang perawatan nona Alexa. Dan setelah orang tua nona Alexa pergi, dia mendapati nona Alexa meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Dan darah segar keluar dari paha non Alexa." Penjelasan Evan membuat John meringis merasa bersalah.
Dia tidak sejahat itu tidak menginginkan janin itu. Dia juga tak berharap janin itu tidak baik-baik saja. Dia hanya ingin Josh bertanggung jawab sebagai seorang pria sejati. Namun hal ini malah membuat John terdiam dalam kekalutannya.
John terlihat menghela nafas panjang dan berat tidak berkomentar dengan penjelasan Evan. Dia hanya diam sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
.
.
"Katakan apa yang terjadi sebenarnya!" Titah Josh menatap perawat itu yang menundukkan kepalanya ketakutan.
Keringat dingin terus mengalir di dahinya. Kedua tangannya diremas karena merasa dingin dan berkeringat. Sebenarnya dia seharusnya tidak bersalah. Dia meninggalkan non Alexa karena merasa butuh ruang untuk berbicara dengan keluarganya. Apalagi orang tuanya.
Namun dia tiba-tiba juga merasa bersalah karena tidak langsung masuk ke dalam saat mendengar suara tangisan isakan yang terdengar memilukan itu. Apabila dia memaksa untuk masuk, dia takut jika non Alexa akan merasa malu atau mungkin canggung karena terpergok sedang bersedih. Dia sendiri tidak tahu dan tidak mendengar apa yang dibicarakan keluarga itu hingga non Alexa menangis memilukan seperti itu.
"Jangan mengetes kesabaran saya!" Ucap Josh membuat perawat itu semakin gemetaran ketakutan.
"Sa-saya tidak salah direktur..." Seru perawat itu tiba-tiba mulai membuka suara.
"Se-sebelumnya... nona Alexa... di-dia..." Josh terlihat menghela nafas panjang berusaha bersabar menunggu pernyataan perawat yang terlihat jelas semakin ketakutan itu.
"Jangan uji kesabaran saya!" Suara teriakan Josh menggelegar memenuhi ruang istirahat dokter atau perawat saat jam istirahat itu membuat perawat itu semakin bergidik ngeri ketakutan langsung saja berlutut memohon sambil isakan tangis mulai terdengar dari bibir perawat itu.
Brak
Josh memukul meja kayu tidak bersalah yang ada diantara mereka itu dengan kasar dan penuh amarah menatap nyalang perawat yang gemetar ketakutan itu. Seolah dia akan segera dieksekusi mati oleh hakim.
Cklek
"Hentikan direktur!" Seru dokter Helena memaksa masuk saat mendengar teriakkan dan bentakan keras serta suara meja kayu itu dipukulnya karena emosi. Dokter Helena tidak peduli jika dia mendapat amarah Josh karena ikut campur urusannya. Dia perlu maju untuk menolong perawat yang sebenarnya tidak bersalah.
__ADS_1
"Jangan ikut campur!" Teriak Josh reflek, tak peduli siapa yang tiba-tiba masuk.
Dia hanya terbawa emosi dan spontan membentak juga siapa yang datang. Namun Helena yang tahu keadaan Josh sedang tidak baik-baik saja bahkan emosi sudah menutup matanya membuat Helena makhlum. Helena tahu secemas apa Josh terhadap Alexa dan janinnya kritis.
"Pergi!" Teriak Josh lagi ganti menoleh menatap Helena nyalang. Emosinya sudah tidak terbendung lagi. Dia ingin menghajar siapapun untuk melampiaskan kemarahannya. Dia juga merasa bersalah karena tidak mampu menjaganya. Dia merasa menjadi dokter yang tidak berguna saat ini.
"Tenanglah direktur!" Ucap Helena menenangkan. Perawat wanita yang diajak Helena tadi mengikuti di belakang sesuai titah Helena. Dia sendiri juga terkejut melihat baru pertama kali dengan mata kepalanya sendiri. Sang direktur utama yang datar dan dingin semarah itu. Seolah-olah janin yang dikandung calon kakak iparnya adalah janinnya sendiri.
Ups. Batin perawat itu langsung menutup mulutnya padahal dia hanya membatin seolah menyadari bahwa tebakannya benar.
Kode dari dokter Helena langsung dipahami dan dia langsung membantu perawat yang berlutut sambil menangis tadi untuk keluar dari ruangan itu.
Josh yang sudah kalut mengusap wajahnya kasar, gusar dan merasa gelisah. Dia bahkan tak menyadari kalau para perawat tadi pergi.
"Sial. Brengsek." Umpat Josh sambil memukul dinding ruangan yang tidak bersalah itu.
"Hentikan Josh!" Ucap Helena menahan jemari tangan Josh yang mengepal itu hendak memukul dinding lagi.
"Anakku kritis Helena. Dia kritis. Dia tidak baik-baik saja. Aku selalu ingin bertanggung jawab padanya. Tapi dia selalu menolaknya dan mendorongku jauh. Bahkan dia mengancam akan menggugurkannya jika aku berani mendekatinya." Curhat Josh tanpa sadar dengan deraian air mata yang tak dihiraukannya.
Helena yang mengetahui kenyataan yang baru saja diungkapkan Josh itu tersentak kaget. Dia terdiam tak berani bergerak di tempatnya berdiri saat ini. Mencerna ucapan Josh.
"Meski... meskipun kejadian itu adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Aku tak berniat lari dari tanggung jawab itu sebagai ayah biologis janin itu." Curhat Josh lagi menutup wajahnya sambil duduk di kursi yang ada didekatnya.
Isakan kecil terdengar di telinga Helena dan membuyarkan keterpakuannya setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya. Helena refleks mendekati Josh dan Josh pun langsung refleks mendekap tubuh Helena mencari kenyamanan untuk dirinya yang merasa kalut dan putus asa. Helena hanya terdiam sambil mengelus kepala Josh yang masih dalam posisi duduk sambil mendekapnya mencoba memberi penghiburan.
Seorang pria yang hendak masuk ke dalam ruangan itu yang ingin mencoba berbincang dengan Josh terpaksa mengurungkan niatnya melihat dua sejoli sedang berdekapan membuat pria itu mengepalkan jemari tangannya erat menahan emosinya.
Baiklah kalau itu yang kalian inginkan! Batin pria itu tak jadi masuk ke dalam.
.
__ADS_1
.
TBC