
Tring
Suara pesan masuk dalam ponsel dokter Helena menghentikan drama keduanya. Josh langsung melepas dekapannya merasa malu karena dia menangis seperti anak kecil.
"A-aku ke ruanganku sebentar. Maaf... dan ... terima kasih..." Ucap Josh tanpa menatap wajah dokter Helena karena rasa malu.
"Jangan merasa sungkan Josh!" Jawab dokter Helena yang terlihat baik-baik saja. Dia pun meraih ponselnya dan membaca pesan itu dan terbelalak kaget saat melihat foto dalam pesannya.
Helena langsung melakukan panggilan pada nomer ponsel yang mengiriminya pesan itu. Namun ponsel itu tidak aktif dan berada di luar servis area membuat Helena gugup dan panik.
Kumohon jangan kak! Batin Helena segera berlari menuju ruang kerjanya dengan paniknya dan cemas.
'Kakak ingin mengunjungi papa dan terpaksa kakak membawanya. Kakak tak mungkin meninggalkannya seorang diri disana. Apalagi pengasuhnya baru saja mengundurkan diri karena menikah.'
Isi pesan yang ada di ponsel Helena yang seketika langsung membuat Helena panik berlari menuju ruang kerjanya.
.
.
"Kakak!" Panggil Josh melihat John masih betah duduk di kursi tunggu ruang intensif sambil mengutak-atik tabletnya melakukan pekerjaannya dari rumah sakit. John terdiam namun masih tidak melihat siapa yang datang, tapi dari suaranya John hapal siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan adik kembarnya yang sempat dipukulinya beberapa waktu lalu. Dan hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu setelah beberapa hari.
John menghela nafas panjang tampak berpikir tidak mungkin akan selamanya menghindari adiknya itu. Meski perasaannya belum baik-baik saja mendengar hubungan perselingkuhan mereka yang katanya hanya kecelakaan yang terjadi diantara mereka.
"Ada apa?" Tanya John menatap wajah Josh datar dan dingin tidak ramah seperti yang biasanya dia lakukan. Meski sebenarnya John merindukan keakraban mereka seperti sebelumnya.
Wajah bekas pukulannya yang lebah dan sudut bibirnya sudah terlihat lebih baik dari terakhir kali dia memukulinya saat itu. Namun John berusaha mengeraskan hatinya untuk tidak lunak begitu saja dengan kelakuan adiknya yang tega mengkhianatinya.
Kalau saja adiknya itu mengatakan baik-baik kalau dia juga menyukai Alexa mungkin John tidak akan se benci ini. Dan John akan merelakannya untuk adiknya meski dia juga mencintai Alexa. Meski awalnya sakit tapi John lebih suka kejujuran diawal dari pada pengkhianatan di belakang mereka.
"Bagaimana kabar kakak?" Tanya Josh hati-hati.
"Kalau kau hanya ingin basa-basi aku tak ada waktu." Jawab John ketus membuat hati Josh mencelos sakit.
__ADS_1
Baru kali ini kakaknya benar-benar marah padanya. Meski keseharian mereka kadang berdebat dan berselisih paham, kakaknya selalu dengan bijak menyapanya dengan baik seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Namun sekarang memang kesalahannya sangat fatal hingga kakaknya sulit memaafkannya.
.
.
"Katakan!" Titah John sambil menyeruput kopinya. Kini keduanya sedang duduk di ruang privat kafe di depan rumah sakit.
Semua pengunjung cafe sempat menatap keduanya dengan tatapan kagum karena melihat dua orang kembar identik yang tampan dan gagah.
"Maaf. Mungkin kesalahanku tidak akan bisa dimaafkan oleh kakak. Tapi aku akan tetap minta maaf kak." Ucap Josh memulai percakapan.
"Hmm." John masih merespon dengan acuh tak menatap adik yang hanya selisih beberapa menit itu.
"Aku akan menikahi Alexa." Ucap Josh membuat John menghentikan gerakannya. Dia pun melanjutkan kembali untuk menyeruput kopinya seolah tak mendengarkan apapun.
"Aku pergi." Jawab John beranjak meninggalkan tempat duduknya.
"Aku anggap tidak mendengarkan apapun." Jawab John kembali melangkah.
"Aku akan bertanggung jawab pada janin di dalam kandungannya." Ucap Josh lagi seolah tak mendengar ucapan kakak.
John tampak mengepalkan jemari tangannya kesal. Tiba-tiba adiknya berubah pikiran akan bertanggung jawab setelah dirinya memberikan bogem mentah. Lalu kemana dia sebelumnya? Dalam hati John kesal.
John tak menjawab malah meneruskan langkahnya meninggalkan Josh yang terlihat frustasi. Josh mengusap wajahnya kasar. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Dia ingin menjelaskan semuanya pada kakaknya, tapi dia sudah berjanji pada Alexa untuk tetap diam tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"****." Umpat Josh kesal entah pada siapa.
.
.
John duduk di kursi tunggu khusus ruang intensif sambil mengawasi gerakan Alexa yang masih betah terdiam di ranjang perawatannya yang bisa dilihatnya dari jendela kaca tertutup dari tempat John duduk. Lagi-lagi John menghela nafas panjang dan berat.
__ADS_1
Dia pun melanjutkan mengecek pekerjaannya sambil menunggui Alexa meski terhalang kaca penghubung ruang perawatannya.
.
.
Mata Alexa terbuka perlahan menatap sekeliling dengan berat. Tangannya bergerak perlahan seolah menjangkau sesuatu tapi tak mampu. Hingga entah apa yang jatuh membuat John tersentak kaget dan segera berlari menuju ranjang Alexa tak peduli apa dia sudah mengenakan pakaian khusus.
"Kau butuh sesuatu?" Tanya John lembut menatap Alexa penuh kasih.
"Aa...ir...." Lirih Alexa lemah hampir tak terdengar. John mendekatkan telinganya di wajah Alexa.
"Ha...us...aa..ir..." Bisik John lagi hingga dokter Mira pun muncul sesuai tanda tombol nurse di sebelah ranjang perawatan Alexa yang ditekan John tadi.
"Dia sadar dok." Beri tahu John menatap dokter Mira tersenyum sumringah.
"Saya periksa dulu ya tuan." Pinta dokter Mira yang refleks bergeser dari tempatnya berdiri. Dokter Mira sebenarnya ingin menegur John karena masuk ruang intensif tanpa memakai pakaian khusus. Tapi melihat kebahagiaan di raut wajahnya dokter Mira tak tega namun setelah memeriksa Alexa dia akan menegurnya setelah ini.
"Bagaimana dokter?" Tanya John antusias setelah melihat dokter Mira selesai memeriksa.
"Syukurlah keadaan sedikit lebih baik meski masih lemah. Janinnya juga baik-baik saja. Jadi keduanya adalah satu kesatuan yang kuat sehingga masih bisa bertahan padahal sudah kritis tadi." Jawab dokter Mira tersenyum ramah dan semakin tersenyum karena John sudah memakai pakaian khusus entah kapan memakainya. Namun saat melihat bodyguard yang menjaga John baru saja keluar dari ruang intensif dokter Mira bisa menebaknya.
"Syukurlah. Dia kehausan, apa bisa kuberikan air?" Tanya John memastikan kalau dokter mengizinkan karena bagaimanapun dokter lebih tahu mana yang baik dan tidak bagi pasien.
"Sebaiknya nanti saja tuan, setelah ini kita akan memindahkan ke ruang perawatan non Alexa sebelumnya." Jawab dokter Mira masih dengan senyum ramahnya karena juga ikut lega karena pasien yang dibawah tanggung jawabnya mulai menunjukkan kebaikan.
"Okay." Jawab John tersenyum sumringah sejak tadi, dia tak bisa menjawab apapun karena merasa sedikit lega dan bahagia melihat wanita yang dicintainya sudah membuka matanya tanpa perlu terpaksa menggugurkan kandungannya.
.
.
TBC
__ADS_1