
Helena menyodorkan sepucuk surat ke arah Josh yang sedang duduk di depannya. Setelah dia masuk ke ruang kerja Josh di rumah sakit. Helena duduk di sofa ruang kerja Josh dengan Josh duduk di depannya terhalang meja. Josh menatap Helena lekat tanpa banyak bertanya.
"Ini... surat pengunduran diri saya." Ucap Helena formal berusaha menekan perasaannya. Meski sebenarnya sudah sedikit berkurang perasaannya pada pria di hadapannya ini. Josh tampak mengernyitkan dahi.
"Surat pengunduran diri?" Tanya Josh meraih amplop surat itu, membacanya dengan seksama membuatnya lagi-lagi mengernyitkan dahinya penasaran.
"Iya direktur." Jawab Helena yakin.
"Huff... Helena." Ucap Josh meletakkan kembali amplop itu di meja depannya dia duduk.
"Iya direktur." Jawab Helena mendongak menatap Josh.
"Kau baru sebulan disini. Bukannya kau sudah terikat kontrak?" Tanya Josh menatap Helena yang langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Itu benar direktur." Jawab Helena tak berani menatap wajah Josh.
"Apa ada masalah? Apa kau kurang nyaman bekerja disini? Atau... ada yang menawarimu dengan gaji yang lebih tinggi?" Tanya Josh. Dia tahu betul performa kerja Helena nyaris sama dengannya. Dan Josh sebagai direktur utama rumah sakit itu tak mungkin melepaskan dokter spesialis terbaik dari rumah sakitnya.
"Tidak seperti itu direktur." Sanggah Helena cepat tak mau dia disalah pahami. Bagaimana pun juga selain menghormati Josh sebagai teman kuliah dulu dia juga menghormati Josh sebagai direktur utama rumah sakit. Yang memiliki tanggung jawab besar dalam urusan rumah sakit termasuk pegawainya juga.
"Apa karena mendengar kabar itu?" Tanya Josh lagi menatap Helena yang langsung mendongak tak mengerti apa yang dimaksud Josh.
"Maksud direktur?" Tanya Helena dengan wajah polos yang benar-benar tidak tahu kabar apa yang dimaksud Josh.
"Pernikahan itu?"
Deg
Detak jantung Helena berdebar kencang saat Josh menyinggung soal pernikahan John dan Alexa yang memang akan dilaksanakan besok. Entah kenapa hati Helena mencelos mendengar ucapan Josh. Ayah biologis putrinya akan menikah. Dan tak ada lagi alasan yang harus dia lakukan disini lagi. Awalnya selain memperjuangkan cintanya pada Josh, Helena ingin jujur tentang putrinya Celine pada ayah biologisnya sembari melihat situasi dan kondisi yang terjadi.
Namun mendengar pernikahan yang akan dilakukan mereka membuat Helena urung untuk mengatakan yang sebenarnya. Selain takut putrinya akan diambil oleh ayahnya. Helena takut kalau kabar itu akan menghancurkan dan menggagalkan pernikahan dua sejoli yang saling mencintai. Begitulah kiranya yang didengarnya. John dan Alexa sudah menjalin hubungan dua tahun sebelumnya. Apalagi sekarang Alexa sedang hamil anak John membuat Helena semakin yakin akan menjauhkan putrinya itu pada ayah biologisnya dari pada kecewa suatu hari nanti.
"Tidak. Ada sesuatu hal pribadi yang harus kulakukan di negara asal kakak ipar ku. Jadi...?"
"Maafkan aku Helen? Aku hanya menganggapmu sebagai seorang teman, sahabat dan orang yang selalu berada di sisiku saat aku butuh seseorang. Tapi maaf... aku tak bisa memberikan perasaan lebih padamu." Ucap Josh menundukkan kepalanya merasa bersalah menyela pembelaan Helena.
"Tidak. Bukan seperti itu. Sebenarnya... sebenarnya aku sudah menyerah dengan perasaanku padamu sejak aku memutuskan untuk bekerja di rumah sakit ini. Aku tak akan berani pulang dan bertemu denganmu seandainya aku belum bisa move on." Jelas Helena tertawa meski sedikit ditahannya. Namun tatapan Josh terlihat lain malah menatap Helena sendu mengira kalau itu semua hanyalah alasan Helena demi kecanggungan yang mungkin akan terjadi pada mereka.
"Maaf."
"No Josh. Tidak masalah. Sebenarnya ada hal yang lebih pribadi yang harus kuurus. Dan maaf aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya padamu sekarang. Mungkin suatu saat nanti aku akan mengatakannya padamu. Tapi maaf tidak sekarang. Kuharap kau bisa mengerti." Jelas Helena cepat sebelum Josh merasa bersalah.
"Baiklah. Meski begitu, aku tetap menganggapmu sebagai teman. Bolehkan?" Ucap Josh membuat Helena menganggukkan kepalanya mengiyakan dan terharu mendengar ucapan Josh.
__ADS_1
"Tentu saja." Ucap Helena dan keduanya pun tertawa bersama.
Josh menghela nafas panjang merasa lega. Padahal Helena mengira kalau John yang akan menikah dengan Alexa. Dia belum mendengar kabar terbaru yang dimaksud Josh tentang pernikahan itu akan berganti mempelai pria yaitu Josh.
Semalam Josh langsung mengajak Alexa untuk menemui John meski sebenarnya Alexa menolak memilih untuk mengatakan besok saja. Namun Josh memaksa karena lebih cepat tahu itu lebih baik dan Josh sudah memperingatkan Alexa untuk hanya mengiyakan jika John menanyakan apapun tanpa banyak menjawab hal lain. Cukup katakan ya, dan dia yang akan mengurusnya.
Flashback on
"Masuk!" Titah John saat pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Sebelumnya John melirik jam dinding ruang kerjanya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Karena lusa adalah pernikahannya dia ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat hari itu.
Dan John sempat mengernyit saat ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya malam itu. John pun langsung mengiyakan karena dia sudah menyuruh Evan untuk pulang lebih dulu mengurus yang lainnya. Dan Evan tak mungkin mengetuk pintu jika para karyawan lain sudah pulang, Evan pasti langsung menyelonong masuk begitu saja.
Cklek
John tampak mengernyit melihat siapa yang datang malam itu.
"Selamat malam kak." Sapa Josh membuat John semakin mengernyit dalam. Setelah kejadian dia memberikan bogem mentah pada adik kembarnya itu. John memang menghindari adiknya itu sejauh mungkin. Dan berharap dia tak bertemu atau berpapasan. Bahkan dia sampai pulang ke apartemen daripada ke mansion meski dia tahu Josh juga jarang pulang ke mansion.
John belum menjawab masih menatap Josh yang dengan penuh keyakinan masuk ke dalam ruang kerjanya seolah tak ada yang terjadi diantara mereka. Namun lagi-lagi John terkejut saat seseorang ikut muncul di belakang tubuh Josh. John membelalakkan matanya terkejut Alexa ikut muncul dan yang lebih mengejutkan lagi, kedua jemari tangan mereka bertautan seolah sebagai pasangan kekasih.
"Apa-apaan ini?" Seru John marah berdiri dari duduknya bersiap untuk menghampiri keduanya namun Josh langsung berdiri di depan Alexa sebagai tameng meski John tak mungkin melakukan kekerasan pada seorang wanita.
"Kakak!" Lirih Josh memelas penuh permohonan.
"Apa sekarang kalian ingin membuktikan perselingkuhan kalian secara terang-terangan?" Bentak John membuat jemari tangan Alexa meremas kemeja Josh yang disadari Josh.
Josh sudah bertekad untuk memperjuangkan mereka setelah Alexa tadi mengatakan menerimanya sebagai ayah biologis janinnya. Josh takut Alexa goyah dan berubah pikiran karena takut akan kemarahan kakaknya. Karena merasa dikecewakan oleh keduanya.
"Jelaskan apa! Kau mengatakan seolah kecelakaan terjadi pada kalian dan tidak berselingkuh di belakangku. Dan sekarang kau telah membuktikan ucapanku dengan menyelanya?" Seru John menatap Josh nyalang.
"Kami memang tidak pernah berselingkuh kak. Itulah kenyataannya." Balas Josh yakin.
"Huh... tidak berselingkuh tapi sampai tidur bersama dan hamil. Apa itu yang dinamakan tidak berselingkuh. Kau mencoba membela diri karena tak mau bertanggung jawab setelah membuatnya hamil." Teriak John membuat Alexa lagi-lagi mencengkeram kemeja Josh hingga kusut merasa bersalah.
"Kak!"
"Kenapa? Itukan kenyataannya. Di belakangku seolah kalian tidak bersalah dan sekarang kalian menunjukkan tautan jari kalian dengan bangga seolah menunjukkan kalau kalian memang sudah saling mencintai sejak lama." Ucap John menatap tajam dan dingin pada adik serahimnya.
"Terserah kakak mau percaya apa tidak. Itulah kenyataannya. Kami datang kemari ingin mengatakan kalau lusa kami memutuskan untuk menikah demi janin yang ada di kandungannya." Ucap Josh tak mau membela diri. Seolah percuma melakukan pembelaan di hadapan kakaknya yang sedang marah dan cemburu buta.
"Apa maksudmu?" Seru John.
"Aku yang akan menjadi mempelai pria nya lusa menggantikan kakak." Tegas Josh tak peduli kakaknya akan marah.
__ADS_1
"Brengsek."
Bagh
Bugh
Dua pukulan telak dilayangkan John di rahang Josh membuat Alexa menjerit kaget sambil menutup mulutnya refleks. Dan otomatis tautan jemari mereka pun terlepas karena Josh terjengkang ke belakang dan jatuh ke lantai.
"Josh." Teriak Alexa histeris menghampiri Josh yang sudah mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya namun langsung ditarik pergelangan tangan Alexa oleh John mencegah agar tidak menolong Josh karena dia memang pantas mendapatkan pukulannya.
"Jangan pernah bermimpi akan menggantikan aku! Ingat itu!" Seru John menunjuk Josh dengan jemari telunjuknya pada Josh yang masih enggan berdiri.
"Aku yang memintanya John." Seru Alexa menghentikan langkah John yang hendak meninggalkan ruan kerjanya sambil tangannya menarik pergelangan tangan Alexa.
"Apa maksudmu Alexa?" Tanya John tak percaya. Dia mengira kalau Josh lah yang memaksa Alexa untuk menikah dengannya setelah tak mau bertanggung jawab sebelumnya.
"Aku. Akulah yang memintanya untuk menikah denganku. Bagaimana pun juga dialah ayah biologis dari janinku. Dan kau hanyalah seorang paman. Aku yang memutuskan untuk menikah dengan Josh." Seru Alexa sambil menangis histeris.
"Apapun yang terjadi bukannya kau akan menikah denganku?" Ucap John sarat akan nada bicara yang penuh dengan kekecewaan.
"Karena anak ini membutuhkan orang tua kandungnya." Jawab Alexa mulai tenang meski masih terdengar sesenggukan.
"Apa kau jadi murahan setelah dia tidak mau bertanggung jawab terhadap janinmu sebelumnya!"
Plakk
Satu tamparan keras dilayangkan di pipi John dari Alexa karena merasa marah dianggap murahan meski sebenarnya itu sedikit benar.
John langsung tertoleh kaget mendapatkan tamparan dari Alexa yang tidak dikiranya.
"Aku. Akulah yang tidak mau ditanggung jawabi olehnya kalau kau ingin tahu. Aku yang melarangnya untuk bertanggung jawab karena aku mencintaimu. Tapi setelah kupikir-pikir anak kami butuh orang tua kandungnya meski kedua orang tuanya tidak saling mencintai." Seru Alexa menatap John nyalang dengan deraian air mata mengiringi teriakannya.
"Jadi sekarang kau tidak mencintaiku lagi?" Tanya John menatap nanar wajah Alexa juga sedih serta marah melihat air mata Alexa yang berderaian.
"Maaf. Ada seseorang yang lebih membutuhkanmu John. Dan orang itu bukan aku." Ucap Alexa meninggalkan ruang kerja John tanpa memperdulikan Josh maupun John lagi.
"Alexa." Seru Josh berdiri mengejar Alexa. Sedangkan John terduduk di sofa ruang kerjanya tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya mencerna ucapan Alexa.
Ada seseorang yang lebih membutuhkanmu John, dan orang itu bukan aku. Suara Alexa terus berdenging di benak John.
Flashback off
.
__ADS_1
.
TBC