Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 28


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk!" Titah Josh mendengar pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.


Cklek


"Mau makan siang bareng? Aku yang traktir." Ajak Helena yang setelah membuka pintu ruang kerja Josh.


Josh masih terdiam di tempat duduknya, dia melirik jam tangannya menunjukkan pukul dua belas siang lebih lima menit. Dia terlihat berpikir antara menerima ajakan makan siang Helena.


"Okay." Jawab Josh melepas jas dokternya dan mengganti jas formal kerjanya.


.


.


Tak sampai satu jam mereka sampai di restoran terdekat dari rumah sakit. Helena langsung menuju meja reservasi nya yang ditunjukkan seorang pelayan. Josh hanya mengikuti langkah Helena tanpa bicara sedikitpun. Hatinya sedang tidak baik-baik saja untuk mengeluarkan sepatah katapun.


"Mau pesan apa?" Tanya Helena melihat daftar buku menu yang diberikan pelayan yang masih menunggui mereka di sisi meja menunggu pesanan di sebutkan oleh keduanya.


"Seperti biasa." Jawab Josh yang diangguki Helena. Dia pun menyebutkan pesanan mereka pada pelayan seperti biasanya karena restoran itu adalah restoran tempat mereka biasa makan dan tentu saja di ruang privat restoran.


Pelayan itu pun pamit setelah pesanan disebutkan dan pergi meninggalkan keduanya di ruang privat.


Helena tampak menatap Josh yang terlihat melamun menatap jendela kaca di sisi mereka karena ruang privat itu langsung mengarah pada jendela luar restoran membuat keduanya bisa menatap keluar jendela melihat pemandangan langsung taman air mancur yang ada di tengah restoran tersebut.


"Dia sedang hamil?" Tanya Helena memecah keheningan diantara mereka. Josh sontak menoleh ke arah Helena yang menatapnya intens.


"Hmm." Jawab Josh menyeruput air putih di gelas yang memang selalu disediakan oleh pihak restoran.


"Anak John?" Tanya Helena lagi yang lagi-lagi membuat Josh tersentak kaget menoleh ke arah Helena.


"Menurutmu?" Tanya Josh meminum air putih itu lagi seolah mencoba menghilangkan rasa gugupnya.


"Kau tadi bertingkah seolah dia hamil anakmu." Tebak Helena tepat sasaran. Josh masih terdiam.

__ADS_1


"Aku bukannya ikut campur urusanmu. Aku tak bisa melihatmu seperti orang terpuruk. Bagaimana pun juga selama aku mengenal dirimu, baru kali ini aku melihatmu berekspresi secemas itu pada seseorang. Bahkan aku hampir saja mengira kalau dia sedang hamil anakmu. Tapi aku tahu kalau itu tidak mungkin. Kau bukan orang yang setega itu akan mengkhianati orang lain. Terutama kakak kandungmu sendiri." Ucap Helena panjang lebar membuat hati Josh mencelos mendengarnya.


Sayangnya hal itu sudah terjadi meski itu hanya kecelakaan. Batin Josh masih terdiam.


Ucapan Helena tidak diteruskan karena pelayan keburu datang mengantarkan makanan mereka. Keduanya pun saling menikmati makanannya meski ada sedikit keheningan yang enggan diutarakan oleh Josh.


.


.


"Van, apa jadwalku setelah ini?" Tanya John pada asistennya.


Mereka kini dalam perjalanan dari meeting di salah satu perusahaan rekan bisnisnya. John terlihat gusar terus menatap jam tangannya merasa bersalah. Meeting yang direncanakan dua jam selesai namun hampir lima jam diselesaikan karena ada sedikit kendala dalam proyek mereka.


John menatap jam tangan sudah menunjukkan pukul hampir jam dua siang. Mereka pun sudah makan siang sekalian tadi bersama rekan bisnis mereka.


John menatap pesan di layar ponselnya dari orang kepercayaannya yang mengikuti Alexa diam-diam untuk memeriksakan kehamilannya di rumah sakit milik keluarganya tadi. Dia juga mendapat pesan dari dokter Mira mengenai hasil pemeriksaan medis pemeriksaan calon istrinya.


Satu kesimpulan dari pemeriksaan itu. Hasilnya baik, janinnya juga sehat dan kuat. Mual dan muntah yang dialaminya adalah hal yang wajar dialami semua ibu hamil meski Alexa merupakan kategori yang parah karena Alexa sampai lemas nyaris pingsan. Karena menurut maid yang diperkerjakan John di apartemen Alexa, setiap Alexa selesai mual setiap pagi, Alexa akan terduduk lemas di lantai dan harus dibantu dua orang maid untuk memapah ke ranjang.


"Tidak ada meeting penting lagi tuan, hanya banyak tumpukan berkas di meja kerja Anda harus segera ditanda tangani." Jawab Evan sambil mengutak-atik tabletnya melihat jadwal tuan mudanya siang ini.


"Bisa ditunda besok?" Pinta John sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Sebaiknya anda segera selesaikan, sebelum waktu hari H pernikahan anda tuan." Saran Evan membuat John menghela nafas panjang.


"Antar aku ke apartemennya!" Titah John pada sopir yang duduk di samping Evan.


"Tuan muda?"


"Alexa nyaris pingsan karena mual dan muntah di rumah sakit tadi Van! Kalau saja tadi aku mendampinginya pasti tidak akan separah itu. Dan Alexa sungguh keras kepala tak mau ditemani siapapun kecuali sopir." Protes John kembali memijat pelipisnya yang kembali berdenyut.


"Untung saja ada Josh yang mengetahui hal itu sehingga Alexa langsung ditemani Josh." Ucap John lagi membuat Evan terdiam tak berani membantah lagi.


"Huff... Kau bawa berkasnya ke mansion. Aku akan mengerjakannya nanti sat pulang. Sekarang, antar aku ke apartemennya!" Titah John lagi tak mau dibantah.

__ADS_1


"Baik tuan." Jawab Evan dengan helaan nafas panjang yang mau tak mau mengikuti perintah tuan mudanya.


.


.


"Tuan muda." Sapa seorang maid saat melihat John muncul di apartemen Alexa.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya John langsung.


"Nona sedang tidur setelah makan siang dan minum obat dari dokter tadi." Jawab maid itu.


"Dia makan banyak?" Tanya John melepas jas kerjanya dan menggulung kedua lengannya hingga siku.


"Itu.... nona hanya makan sedikit dan langsung kembali mual." Jawab maid itu takut-takut.


"Lalu apa yang dia makan?" Kesal John menatap maid yang menundukkan kepalanya ketakutan itu.


"Nona makan buah-buahan yang dibelinya tadi sepulang dari rumah sakit tuan." Jawab maid itu gelagapan karena takut.


"Apa dia bisa kenyang hanya makan itu?" Protes John yang masih kesal.


"Nona makan dengan lahap buah-buahan itu tuan." Jawab maid itu membuat John sedikit bernafas lega. Karena berdasarkan info dari dokter Mira, buah-buahan lebih baik dari pada tidak bisa makan apapun. John pun masuk ke dalam kamar Alexa perlahan, tak mau membangunkannya.


John duduk di sisi ranjang tempat Alexa berbaring. Dia membelai pipi Alexa yang semakin hari terlihat semakin tirus karena makanan yang tidak bisa masuk ke dalam tubuhnya karena kehamilannya.


"Hei nak, jangan merepotkan mamamu. Mamamu itu sudah kecil jangan kau perkecil lagi." Guman John malah membuatnya tersenyum sendiri mendengar ucapannya.


"Kau anak papa kan? Jadi, turutilah!" Guman John lagi tersenyum bahagia sambil mengelus perut Alexa yang masih rata.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2