
Bagh bugh bagh bugh
Josh terjerembab jatuh ke belakang hingga menghantam lantai mansion. Josh yang baru pulang hari itu tak tahu kenapa tiba-tiba disambut oleh pukulan bertubi-tubi dari kakaknya.
"Ayo berdiri!" Seru John dengan wajah penuh amarah. Josh terdiam menatap wajah John yang terlihat marah padanya. Dia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah karena pukulan John tanpa mampu mengelak.
Josh yang memang sudah memiliki watak peka dan sensitif terhadap apapun langsung bisa paham kenapa sang kakak marah padanya dan tiba-tiba murka padanya.
Sepertinya hal ini tidak bisa dirahasiakan lagi. Batin Josh. Dia pun berdiri perlahan dari jatuhnya dengan sedikit sempoyongan tanpa ada seorang pun yang berani membantunya meski banyak maid di sekeliling mereka.
Namun siapa tampak diam melihat kemarahan tuan muda pertama. Karena yang mereka kenal tuan muda pertama mereka jarang sekali menunjukkan wajah marah atau kesal bahkan sampai memukul langsung orang yang membuatnya murka.
"Aku tak mengerti maksud kakak apa dengan memukulku." Ucap Josh lemah menatap kakaknya sendu masih berusaha mengelak.
Greb
John menarik kembali kerah kemeja Josh dan menatapnya tajam masih penuh dengan amarah yang semakin menggelora karena Josh berpura-pura tidak tahu tentang kemarahannnya.
"Sampai kapan kau akan mengelak huh?" Seru John dengan rahang mengetat sempurna, matanya memerah menahan amarah.
Josh menatap sekeliling, Evan yang sejak tadi diam langsung paham segera menyingkirkan semua maid yang menyaksikan perdebatan tuan muda mereka untuk diminta pergi ke paviliun belakang mansion tempat para maid tidur jika sudah waktunya istirahat.
Semua orang langsung menurut tanpa banyak protes karena mereka dibayar mahal selain untuk bekerja juga untuk menutup mata dan telinga saat mendengar apapun yang terjadi di mansion besar keluarga Alensio.
"Sejak kapan? Huh? Sejak kapan kalian mengkhianatiku? Katakan!" Teriak John penuh amarah masih memegangi kerah kemeja Josh.
"Aku tak pernah mengkhianati kakak..."
Bagh bugh
Belum selesai Josh bicara, John langsung kembali memberikan hadiah bogem mentah pada Josh yang kembali terhuyung ke belakang hingga menghantam meja sofa ruang keluarga.
Prank
Suara kaca meja ruang keluarga pecah karena lagi-lagi John memberikan bogem mentahnya membuat Josh jatuh lagi menghantam meja itu hingga pecah membuat Josh batuk-batuk kecil dan keluar darah segar.
__ADS_1
"Kau kira aku akan percaya? Apa kau begitu menikmatinya dengan membayangkan bahwa dirimu adalah aku? Hahaha..." Ucap John tertawa getir menatap Josh marah.
"Sudah kukatakan aku tidak berniat mengkhianati kakak." Ucap Josh lemah karena pukulan bertubi-tubi dari kakaknya. Dia bukannya tidak mau membalas tapi itu karena dia memang pantas mendapatkannya. Mengkhianati orang yang disayanginya.
"Lalu? Apa kau akan mengatakan kalau Alexa yang merayumu begitu?" Ucap John sarkas.
"Itu juga tidak seperti itu."
"Bulshit. Setelah kau menikmatinya dan membuatnya hamil, kau langsung mengembalikannya padaku begitu. Setelah kau memberikan bekasmu apalagi yang kau lakukan lagi? Ah... apa memang wanita itu terlalu murahan sehingga menginginkan kita..." Suara sarkas John dan berbagai tuduhan dia lontarkan hingga membuat amarahnya memuncak.
"Cukup kak!" Seru Josh dengan susah payah.
"Ini semua tidak akan berakhir disini!" Seru John pergi meninggalkan Josh yang terlihat kepayahan dan lemas. Sepertinya apapun penjelasannya dia tak akan bisa menerimanya. Josh menghela nafas panjang dan mencoba berdiri meski kesulitan karena wajah dan tubuhnya terasa sakit.
.
.
"Ada apa Rian?" Tanya Jo yang melihat asistennya datang terburu-buru masuk ke ruangannya.
Jo kini memilih untuk tinggal di villa Sangrila, villa milik istrinya yang dihadiahkan darinya untuk istri tercintanya. Dia mencoba membuang semua keduniawiannya demi memenangkan pikirannya. Dia yang sedang duduk bersandar di kursi santai sambil mendengarkan musik klasik terkejut karena asistennya tiba-tiba mendatanginya.
"Ada apa?" Tanya Jo malas kembali memejamkan mata tak berminat dengan kabar yang dibawa Rian.
"Bagaimana kabar anda tuan?" Tanya Rian basa-basi.
"Langsung saja, aku tahu kau sering mendengar kabar dari maid disini! Ada apa kau kemari, kalau bukan ada hal penting." Jawab Jo tanpa membuka matanya.
"Ada kabar buruk tuan." Ucap Rian membuat Jo membuka matanya lagi.
"Apa?" Tanya Jo menoleh menatap wajah Rian yang khawatir.
"Tuan muda... keduanya bertengkar." Jawab Rian lirih dengan terpaksa. Jo terdiam tidak terkejut juga tidak merespon apapun. Dia pun menghela nafas panjang dan berat setelah lama berpikir.
"Apa akhirnya John tahu kenyataan itu?" Tanya Jo lemah menerawang jauh ke langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Benar tuan." Jawab Rian lemah.
"Lalu? Apa yang dilakukan Josh?" Tanya Jo tanpa menoleh menatap wajah Rian.
"Tuan muda Josh hanya pasrah menerimanya tanpa membalas." Jawab Rian sopan.
"Huff ... anak itu memang sensitif dan dia juga mempunyai pengendalian diri yang baik. Bahkan dia bisa bersikap dewasa dari pada John yang ramah tapi memiliki emosi yang meledak-ledak." Ucap Jo masih tak menunjukkan respon banyak malah dia terlihat tenang dengan kabar itu.
"Biarkan saja mereka! Kita lihat saja apa yang terjadi, kalau memang sudah parah kita baru mendekat!" Titah Jo membuat Rian terlihat keberatan.
"Tuan besar... itu... " Protes Rian yang tak jadi dilanjutkan merasa bahwa dirinya tak berhak untuk ikut campur terlalu dalam. Meski dia sudah dipercaya sebagai tangan kanan oleh tuan besarnya untuk ikut campur terlalu dalam apalagi masalah keluarga tuan besarnya dia masih ragu.
"Tak apa Rian, biarkan saja mereka. Sampai kapan mereka akan bermusuhan dan akan kembali berbaikan lagi. Kita lihat saja!" Ucap Jo menenangkan Rian.
"Baik tuan."
.
.
Bruak
"****!" Umpat John membuang semua barang-barang yang ada di meja hotel presiden suite room.
Setelah melampiaskan kemarahannya karena mendengar kenyataan tentang hubungan adiknya dan calon istrinya membuat John kehilangan akal. John memang terbiasa memakai kamar itu jika sedang merasa kalut sendiri dan ingin melarikan diri.
Masih ada Evan yang selalu setia mengikuti langkah tuan mudanya itu. Setelah memberikan kabar tentang perseteruan dua kembar bersaudara itu pada ayahnya. Ayahnya mengatakan padanya untuk selalu berada di sisi tuan mudanya, jangan sampai meninggalkan dia sendiri.
Dan disinilah dia, menyaksikan kemarahan tuan mudanya dengan membuang semua benda-benda di atas meja kamar hotel presiden suite itu yang tidak bersalah itu.
John terlihat masuk ke dalam kamar mandi tanpa melepas pakaiannya dan mengguyur tubuhnya itu dibawah shower tanpa melepas pakaiannya yang mulai basah itu.
"Hiks...hiks... hahaha..." Suara isakan dan tawa getir terdengar lirih hampir tak terdengar di bawah guyuran shower itu membuat siapapun pasti akan merasa kasihan dan prihatin namun Evan hanya mampu diam dengan tetap setia berada di sisi tuan mudanya.
.
__ADS_1
.
TBC