
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Alexa mendengar pintu kamar perawatannya diketuk dari luar. Saat itu dia sedang sarapan yang dibantu dengan salah seorang perawat perempuan. Keduanya sontak menoleh bersamaan saat pintu ruang perawatan diketuk.
Awalnya Alexa mengira kalau dokter yang datang untuk memeriksa mengingat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Kalau orang berkunjung, Alexa tidak berharap pada siapapun yang datang.
Cklek
Muncul raut wajah cemas, marah juga kecewa. Dia pun menatap wajah Alexa dengan tatapan penuh kekecewaan juga kesedihan.
"Ayah!" Lirih Alexa sedikit terkejut melihat ayahnya mengunjunginya di rumah sakit. Padahal selama ini Alexa tidak terlalu mendapat perhatian dari ayahnya ini. Sehingga Alexa terkejut dengan kedatangan ayahnya yang membuat hati kecil Alexa sedikit menghangat mendapat perhatian kecil dari ayahnya.
Tap
Tap
Leonardo melangkah mendekati ranjang Alexa sambil menatap perawat yang membantu Alexa makan tadi. Seolah tahu bahwa dirinya bukan siapa-siapa, dia pun segera pamit pada Alexa memberi ruang untuk kedua orang itu. Alexa hanya mengangguk mengiyakan dipamiti oleh perawat tadi. Tak lupa ucapan terima kasih di ucapkannya.
"Apa itu benar?" Tanya Leonardo menatap putrinya penuh kekecewaan. Alexa yang awalnya merasa bahagia diperhatikan oleh ayahnya karena keadaan sedang dirawat perlahan senyumnya luntur saat melihat sorot wajah kekecewaan meski tidak menunjukkan amarahnya yang nyata.
"A-apa maksud ayah?" Tanya Alexa berpura-pura bodoh tidak tahu apapun dengan pertanyaan ayahnya.
__ADS_1
Cklek
Pintu ruang perawatan dibuka lagi oleh seseorang. Leonardo yang awalnya mau bertanya lagi namun segera disambar oleh Maria yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang perawatannya sambil membawa berkas lembaran entah apa membuat Alexa mengernyit heran melihat ibu tirinya ternyata ikut menjenguk. Yang sudah ditebaknya kalau situasi itu pasti tidak baik-baik saja jika ibu tirinya juga ada disana.
"Itu benar sayang, aku tadi dari ruangan dokter yang menangani Alexa. Katanya Alexa sedang hamil tiga bulanan saat ini. Dan penyebabnya stres karena banyak pikiran. Mungkin itu sebabnya pernikahan mereka ditunda." Sela Maria membuat Alexa mencelos mendengar ucapan ibu tirinya. Alexa beralih menatap ayahnya yang juga kembali menatapnya dengan penuh kekecewaan yang sangat seolah dia seorang anak yang sudah mempermalukan keluarganya.
"Dan apa benar John adalah ayah biologis janin itu?" Tanya Leonardo penuh tuduhan.
"Tentu saja. Apa kau tak ingat sayang, saat pagi-pagi sekali Alexa pulang diantar tuan muda Alensio. Dia bilang akan bertanggung jawab kan. Lalu sekarang, bagaimana mungkin mereka menundanya dan malah tidak segera menikahinya?" Bukan Alexa yang menjawab, lidah Alexa terasa kelu untuk menjawab karena semua itu adalah kebenaran. Namun mereka tidak tahu kalau pagi itu bukan John yang datang tapi Josh, adik kembar John yang enggan diperlihatkan pada media.
"Apa dia berniat lari dan tidak bertanggung jawab?" Tanya Leonardo menatap putrinya seolah sedang menginterogasinya.
Alexa diam menatap ayahnya dan berganti menatap ibu tirinya yang menatapnya dengan penuh seringai licik yang tentu saja tak ditunjukkan jika Leonardo menatapnya. Setahu Leonardo, istrinya itu selalu berperilaku baik pada putrinya juga.
"Janin ini bukan anak John ayah." Pernyataan Alexa sungguh mengejutkan keduanya. Leonardo terlihat frustasi mendengar kenyataan kalau putrinya yang akan menikah dengan tuan muda Alensio sekarang sedang hamil anak dari pria lain.
Maria pun ikut terbelalak terkejut mendengar pernyataan Alexa. Dia terlihat senang dengan berita kalau Alexa tidak hamil dengan anak tuan muda Alensio membuatnya masih bisa merayu dan membuat tuan muda itu berpaling pada putri kandungnya.
Namun dia juga terlihat tidak senang karena itu artinya jika Alexa tidak jadi menikah dengan tuan muda Alensio, investasi yang diberikan mereka akan dicabut. Itu artinya mereka akan hidup kekurangan lagi meski tidak miskin. Mungkin seperti sebelumnya, bangsawan kalangan menengah atas. Tidak kaya raya.
"Ternyata kau benar-benar murahan Alexa. Kau membuktikan ucapan ibu tapi ternyata..." Provokasi Maria berpura-pura bersedih sambil menutup wajahnya dengan senyum seringai tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Alexa!" Alexa menatap ayahnya setelah menundukkan kepalanya merasa bersalah dan memilih tak menghiraukan Maria.
"Gugurkan janin itu! Dan memohonlah pada tuan muda Alensio untuk tetap melanjutkan pernikahan ini!" Final Leonardo menatap Alexa tegas.
"Ayah!" Ucap Alexa terbelalak terkejut mendengar ucapan ayahnya yang kejam.
"Jangan membuat aib di keluarga kita! Kau paham kan?" Ucap Leonardo lagi.
"Dia cucu ayah, apa ayah setega itu?" Ucap Alexa penuh kekecewaan tanpa sadar air matanya mengalir mendengar pernyataan ayahnya yang memilih untuk menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya dari pada mempertahankannya demi reputasi, nama baik dan jalinan bisnis dengan perusahaan nomor satu di dalam negeri.
Leonardo memegang kedua bahu Alexa menatap wajah Alexa yang bersedih, meski begitu reputasi keluarganya lebih penting membuat Leonardo mungkin sangat kejam.
"Dengarkan ayah! Lakukan kali ini demi ayah!" Ucap Leonardo tegas. Leonardo segera meninggalkan ruang perawatan putrinya tanpa menanyakan kabar kesehatan putrinya. Alexa hanya terdiam terisak mendengar titah ayahnya yang memintanya untuk mengugurkan kandungannya.
"Sebaiknya jadilah anak baik dengan menuruti keinginan ayahmu." Ucap Maria menambahkan sebelum keluar dari ruang perawatan Alexa mengikuti suaminya.
"Hiks...hiks.... kau kejam ayah...hiks...maafkan ibu nak... hiks... hiks... maafkan kakekmu nak... maaf..." Bisik Alexa lirih terisak membuat perawat yang hendak masuk ke dalam ruang perawatan mengurungkan niatnya dan memilih berhenti dan memberi ruang untuk Alexa meluapkan emosinya.
.
.
__ADS_1
TBC