
"Apa yang ingin Daddy katakan?" Tanya John duduk di sofa depan daddynya terhalang meja.
"Sampai kapan kau akan bersembunyi?" Tanya Jo menatap John tajam.
"Aku sedang tidak enak badan. Jadi aku beristirahat beberapa hari ini." Elak John tak mau mengakui tentang niat persembunyian.
"Kau pikir daddy percaya?" John terdiam menundukkan kepalanya.
Dia memang terhadap siapapun. Dia bukan takut pada daddynya namun dia menghormatinya sebagai satu-satunya orang tua yang dimilikinya saat ini. Sepertinya pesan mendiang mommy nya, apapun yang terjadi dia dan semua saudaranya harus menghormati orang tuanya meski melakukan kesalahan, itu semua dilakukan ada semata karena orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya. Dan John percaya itu karena dia selalu melihat hal itu pada diri sang mommy semasa hidupnya.
"Hari ini aku sudah lebih baik. Aku berencana untuk kembali ke kantor pagi ini." Jawab John tenang.
"Besok adalah pernikahanmu, apa kata semua pegawaimu jika pagi ini melihatmu masih bekerja." Ucap Jo.
"Aku akan membatalkan pernikahan kami." Jawab John pelan membuat Jo memijit pelipisnya terasa berdenyut.
"Jika kau berniat membatalkan sebelum hari H pernikahan seharusnya tak usah menikah saja. Kau mau membuat malu daddy dan mendiang mommy mu." Gertak Jo menatap John kesal.
John hanya terdiam tak mampu menjawab. Apalagi jika mendiang mommy nya ikut disebut. Dia bukan anak sekejam itu yang mempermalukan orang tuanya. Meski mendiang mommy nya sudah meninggal, citra mommy nya masih teringat jelas di hati para pegawai perusahaannya karena sikap ramah mommy nya semasa hidupnya. Bahkan tak jarang mommy nya memberikan bantuan kecil apapun pada pegawai tingkat rendah sekalipun tanpa membeda-bedakan kasta seseorang yang ditolongnya.
"Tapi aku tak ingin melanjutkan pernikahan ini." Guman John menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Bukankah kau sangat mencintainya? Bahkan kau sudah menghamilinya. Dimana rasa tanggung jawabmu?" Seru Jo kesal.
"I-itu.... bukan anakku." Lirih John. Kata-kata itu pun akhirnya terlontar.
"Bukannya kau begitu mencintainya hingga mampu menerima janin yang bukan milikmu?" Ucap Jo membuat John tertohok, dia pun melirik Evan yang berdiri bersisian dengan ayahnya tak jauh dari mereka duduk. Dia bisa menebaknya kalau Evan lah yang bermulut ember, dia pasti tak bisa menolak permintaan daddynya. Dan ada ayahnya juga yang pasti memerintahkannya.
"Aku akan mengurus semuanya, daddy tak perlu cemas." Jawab John membuat Jo semakin kesal.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan mengurus semuanya. Dengan bersembunyi dan menghindar... Huh?" Kesal Jo menatap putra kembar sulungnya tajam.
"Aku tak mau melakukan kesalahan dan penyesalan Daddy. Jadi mengertilah diriku?" Pinta John menatap Jo penuh permohonan.
"Seharusnya kau melakukannya dari awal. Sekarang sudah sangat terlambat John." Ucap Jo berdiri dari duduknya yang segera dibantu Rian dengan mendekatkan tongkat kayu tuan besarnya.
"Daddy?" Mohon John menatap daddynya sendu.
"Pertanggung jawabkan segala ucapanmu John!" Jawab Jo yang hendak keluar dari kamar hotel presiden suite milik putranya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar Evan mengatakan.
"Tuan muda." Ucap Evan mendekati sofa John yang masih terdiam duduk di tempatnya merasa bingung apa yang harus dilakukannya.
"Ada apa?" Tanya John tak bersemangat.
"Ada kabar dari rumah sakit, kalau nona Alexa pingsan." Beri tahu Evan membuat John terkejut.
"Apa?" Seru John, meski dia membenci semua hal apa yang dilakukan Alexa padanya namun tak menutup kemungkinan kalau dia masih mencintai Alexa. Bagaimana pun juga dia cinta mati pada Alexa. Wanita yang begitu mencintai dan dicintai tanpa memandang harta milik keluarganya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jo juga ikut cemas, meski sebenarnya dia tahu siapa ayah janin itu dia tetap cemas karena janin itu juga calon cucunya.
"Tuan besar." Evan membungkuk memberi hormat.
"Katakan!" Seru John.
"Nona Alexa pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit milik tuan. Dan sekarang sudah ditangani. Dan..." Evan tak melanjutkan ucapannya melirik kearah tuan mudanya juga tuan besarnya yang seolah menunggu ucapan Evan selanjutnya. Evan masih ragu dan menatap ayahnya yang juga penasaran menyimak.
Hingga anggukan kepala Rian meyakinkan Evan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Dan tuan muda Josh sudah ada disana." Ucapan Evan itu membuat kedua orang, Jo dan Rian menghela nafas lega.
__ADS_1
Namun tidak untuk John. Dia hanya terdiam tak secemas tadi. Bahkan dia sudah tak berminat untuk ke rumah sakit atau secemas tadi. Bahkan dia tertawa getir tanpa suara membuat Jo menghela nafas berat melihat reaksi putranya. Dan itu cukup untuk menunjukkan kalau putranya terlihat begitu kecewa dan putus asa mendengar tentang siapa ayah biologis janin Alexa.
"Kita kesana Rian!" Titah Jo.
"Tuan, anda harus istirahat." Saran Rian tak menyetujui titah Jo untuk melihat Alexa ke rumah sakit.
"Aku ingin menjenguk calon cucuku Rian." Protes Jo yang tak mau kalah.
"Anda harus banyak istirahat tuan, anda sudah terlalu lama beraktivitas." Jawab Rian tak peduli dengan protesan tuan besarnya. Baginya kesehatannya lebih penting dari apapun.
"Kau berani membantahku?" Protes Jo menatap Rian tajam yang seolah tak peduli dengan protesan tuan besarnya.
"Saya hanya ingin memastikan kesehatan and tuan. Bagi saya yang lain tidak penting selain kesehatan anda. Saya yang akan mencari tahu keadaan nona Alexa. Silahkan tunggu kabar saya dengan istirahat di mansion dengan tenang." Jelas Rian membuat Jo terdiam kesal tak bisa membantah. Tubuhnya memang sudah semakin tua dan lemah. Dia juga sudah mulai berkeringat karena kunjungannya tadi di kamar hotel putranya.
"Terserah kau saja!" Putus Jo akhirnya membuat Rian tersenyum karena tuan besarnya menurut. Dan suara lift tanda berhenti membuat mereka keluar dari dalam lift menuju lobby yang sudah ada sopirnya yang menungguinya disana sesuai pesan Rian tadi.
.
.
"Apa kita akan ke rumah sakit tuan?" Tanya Evan setelah mobi dilajukan dengan kecepatan rata-rata.
"Kita ke kantor." Jawaban John membuat Evan terdiam tak mengatakan apapun lagi.
"Baik tuan." John terdiam menatap ke arah luar jendela mobil. Pikirannya melayang entah kemana namun entah kenapa tiba-tiba bayangan wajah Helena terlintas di benaknya. Apalagi melihat wajah Helena yang merona memerah karena desa**han membuat pipi John tiba-tiba ikut merona memerah mengingat kembali pergumulan panas mereka. Dan lagi-lagi dia menyesali perbuatannya karena melakukan hal itu dan merasa bersalah pada Helena.
Apa akan baik-baik saja seperti sebelumnya. Maafkan aku Helen... Batin John menghela nafas panjang.
.
__ADS_1
.
TBC