Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 35


__ADS_3

John membuang puntung rokok yang hampir habis itu untuk kesekian kalinya. Sudah lebih dari tujuh batang rokok dihabiskan setelah melampiaskan kekecewaannya juga kemarahannnya dengan memukuli wajah adiknya hingga babak belur tadi. Evan sudah berusaha mencegah dengan menyambar batang rokok yang hendak di nyalakan John namun John tk peduli terus saja mengambil terus menerus dan hendak menyalakan.


"Aku ingin sendiri evan." Usir John dengan nada lemah setelah menyerah untuk kesekian kalinya rokok yang hampir dinyalakannya direbut paksa oleh Evan.


"Maaf tuan muda, saya tidak akan pergi kemanapun." Tolak Evan menunduk sopan.


"Kalau begitu berikan aku alkohol." Titah John menatap Evan tajam yang juga sedang menatapnya.


"Tuan muda, ingatlah apa yang dikatakan mendiang nyonya besar!" Jawab Evan.


"Cih." Umpat John membuang pandangannya ke sembarang arah dengan kesal.


Selalu seperti jawaban asisten kepercayaannya itu. Karena dia tahu mendiang mommy nya adalah kelemahannya. Dia pernah berjanji takkan menyentuh barang haram itu apapun masalahnya nanti. Terbukti dulu saat dia kuliah di luar negeri karena mengikuti teman-temannya dia mencicipi sedikit alkohol yang berujung maut dengan tanpa sengaja meniduri seorang gadis dan merenggut mahkotanya.


Meski John sangat menyesal tapi gadis yang sudah diubahnya menjadi wanita itu tak mempermasalahkan hal itu karena yang dicintainya bukan dia tapi adiknya. Mengingat hal itu bukan hanya kesalahannya semata dan wanita itu akhirnya sama-sama saling melupakan seolah tidak ada yang terjadi diantara mereka.


Ah, sepertinya ini adalah karma bagiku. Batin John menghembuskan nafas pasrah.


"Berikan rokok itu Evan! Itu lebih baik dari pada minum alkohol kan?" Pinta John memelas menundukkan kepalanya merasa putus asa.


"Tapi tuan muda..."


"Please..." Pinta John lemah membuat Evan akhirnya mengulurkan satu bungkus yang sudah berkurang isinya.


John menerimanya dengan senyum tulus menatap asisten kepercayaannya itu.


"Hanya kau yang bisa mengerti diriku Van? Terima kasih." Ucap John tersenyum sambil menyalakan satu batang.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya tuan muda." Jawab Evan merendah.


"Apa... apa kau juga akan mengkhianatiku Van?" Pertanyaan John membuat Evan terdiam menatap nanar wajah putus asa tun mudanya. John menatap Evan penasaran sambil beberapa kali menghembuskan asap rokok sedikit menenangkan rasa putus asanya.


"Saya diajarkan untuk selalu setia pada majikan saya tuan. Anda bisa mempercayai saya." Jawab Evan tegas penuh keyakinan.


John menganggukkan kepalanya dan berbalik melangkah menuju balkon kamar presiden suite hotel tempatnya tinggal saat ini.


.


.

__ADS_1


Tiga hari lagi hari pernikahan John dan Alexa. Sudah dua hari ini John tak menunjukkan batang hidungnya dimana pun. Baik di perusahaan atau di mansion. Bahkan dia menonaktifkan ponselnya demi menghindari siapapun. Josh berulang kali menghubungi ponsel kakaknya juga Evan asistennya.


Ponsel John tidak aktif dan ponsel Evan aktif meski jawabannya terdengar menutupi keberadaan sang tuan muda namun dia tetap mengangkat panggilan ponsel dari adik tuan mudanya.


"Kau yakin jujur?" Tanya Josh untuk kesekian kalinya yang dijawab dengan jawaban yang sama, saat dia bertanya dimana kakaknya, Evan selalu menjawab.


'Maaf tuan, tuan muda sedang ingin sendiri tidak mau diganggu.'


'Aku tanya dimana kakak Evan, jangan berbelit-belit!' Kesal Josh dalam panggilannya meski berusaha mengendalikan emosinya agar tidak mengumpat Evan.


'Maaf tuan, itu yang dipesan tuan muda jika ada yang bertanya dimana beliau.' Josh langsung menutup panggilannya saat jawaban yang sama yang didapatkannya. Biasanya dia paling pandai mengendalikan emosinya.


.


.


"Apa yang terjadi?" Tanya Evan terdengar terengah-engah saat tiba di kamar hotel presiden suite milik tuan mudanya.


Orang kepercayaannya yang dimintanya untuk menjaga tuan mudanya karena ada urusan perusahaan yang tidak bisa ditinggalkan membuat Evan terpaksa melakukannya meski sebenarnya dia berat apalagi John sudah mengizinkannya untuk mengurus perusahaan sementara waktu.


"Tuan muda tiba-tiba pingsan tuan." Jawab penjaga itu juga cemas dan panik sejak tadi.


"Bodoh!" Umpat Evan kesal langsung masuk ke dalam kamar tidur tuan mudanya dan sudah ada dokter yang menanganinya saat ini.


"Nona Helena?" Ucap Evan.


"Kenapa? Kau kaget aku yang datang memeriksanya?" Sarkas Helena.


"Tidak... itu... bagaimana keadaan tuan muda?" Tanya Evan mengalihkan pembicaraan. Dia akan menyelidiki nanti setelah dokter Helena pulang. Kenapa harus dokter Helena yang memeriksa tuan mudanya dari sekian banyak dokter. Bukannya tadi dia menghubungi dokter keluarga Alensio, tuan Frederick?


"Ayahku sedang enak badan. Jadi aku menggantikannya kemari. Karena kami tidak mungkin merekomendasikan dokter lain yang bisa dipercaya keluarga Alensio." Jelas Helena seolah tahu pertanyaan di pikiran Evan.


"Oh begitu kah?" Jawab Evan tak tahu harus menjawab apa.


"Tunggu! Jadi kau menyembunyikan John disini?" Pertanyaan Helena membuat Evan meringis merasa bersalah apalagi dengan sindiran kata 'menyembunyikan'.


Helena menatap memicing pada Evan yang terlihat menghindari tatapannya.


"Maaf nona, itu masalah pribadi."

__ADS_1


"Aku tahu aku tidak berhak bertanya tentang apa yang terjadi. Tadi kurang lebihnya aku bisa menebak apa yang terjadi padanya." Helena menunjuk pada John yang sedang terbaring tak sadarkan diri.


"Tuan muda baik-baik saja kan dok?" Tanya Evan lagi yang belum dijawab tadi.


Helena dengan kesal langsung menoleh menatap Evan tajam seolah menyalahkan keadaan John yang lemah itu pada Evan.


"Kau tahu kalau dia sedang depresi?" Evan mengernyit.


"Apa kau juga tahu kalau dia tidak mendapatkan asupan makanan bergizi beberapa hari ini?" Lagi-lagi Evan hanya mengernyit dan kemudian merasa bersalah hingga dia pun melirik penjaga kepercayaannya yang diminta disisi John selama dia mengurusi perusahaan mewakili John.


"Maaf dokter." Sesal Evan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Aku terpaksa memasang infus, untuk mengganti makanannya. Tapi tubuhnya akan semakin lemah jika tetap tidak makan makanan bergizi. Apalagi secara teratur dan tepat waktu." Saran Helena menatap Evan yang hanya bisa terdiam tak berani menjawab karena merasa bersalah.


"Baik dokter." Helena menghela nafas panjang.


"Kau tidak seperti temanku dulu. Kenapa kau terlihat begitu putus asa?" Guman Helena.


"Baiklah, ini resep vitamin. Kau berikan tepat waktu sesuai jadwal setelah makan. Jika kondisinya tidak ada perubahan. Kau kabari aku, aku akan merawatnya dengan tanganku sendiri." Jelas Helena membuat Evan meneguk ludahnya kasar merasa ngeri melihat kemarahan dengan nada tegas yang dilontarkan dokter Helena padanya.


"Ba-baik dok." Jawab Evan gugup.


"Aku pergi!"


"Tunggu dok!" Cegah Evan mengikuti langkah Helena hendak meninggalkan kamar hotel presiden suite.


"Bisa tolong rahasiakan dulu keberadaan tuan muda pada siapapun?" Pinta Evan menatap Helena.


"Entahlah!"


"Ini kemauan tuan muda, ada sedikit masalah yang tidak bisa kami ceritakan. Tuan muda hanya butuh waktu sendiri untuk memikirkannya dan harus segera keluar setelah merasa dirinya siap. Anda bisa lihat seberapa lemah beliau saat masalah ini menghampirinya, bahkan dia tak ada nafsu makan hingga pingsan. Tolong beri waktu untuk beliau menata dirinya!" Pinta Evan menatap Helena penuh harap. Helena terdiam menatap wajah Evan yang terlihat cemas dan khawatir itu.


Sedikit banyak dia bisa menebaknya apa yang terjadi pada kedua bersaudara ini. Dia terlihat berpikir. Dia kasihan pada keduanya. Di satu sisi Josh sendiri tidak dalam keadaan yang sedang baik-baik saja. Josh pun terlihat putus asa meski kondisi fisiknya masih baik-baik saja sampai saat ini.


Josh sejak dulu memang paling kuat diantara keduanya. Sedang John yang terlihat ceria dan seperti tak ada masalah. Baru dua hari bersembunyi membuatnya pingsan kehilangan semangat hidupnya.


"Berjanjilah untuk selalu menghubungiku jika John terlihat sulit diatasi! Biarkan aku yang merawatnya!" Pinta Helena membuat Evan mengangguk antusias mendengar jawaban Helena.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2