
"Kau kurusan?" Tanya Josh yang terdengar seperti pernyataan menatap Alexa intens.
"Ah, benarkah? Mungkin karena mualku beberapa waktu lalu." Jawab Alexa sontak mengelus pipinya menunjukkan raut wajah sumringah merasa mendapat perhatian.
"Apa separah itu?" Tanya Josh lagi.
"Entahlah. Semakin kesini mual dan muntahnya semakin menjadi. Bahkan aku tak bisa bangun dari tempat tidur karena lemas setelah mual. Makanan yang sudah masuk langsung keluar begitu merasa perutku bergejolak." Jawab Alexa melanjutkan menyuapkan makanan yang dibawa Josh tadi.
Mereka kini duduk di gazebo samping mansion untuk menikmati makanan yang dibawa Josh setelah seorang maid menyiapkan piring juga mangkuk tempat es krim.
Josh memperhatikan setiap hal kecil yang dilakukan oleh Alexa tanpa susah-susah untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah Josh bukan John.
"Kenapa? Bukannya itu yang kau inginkan?" Tanya Josh melihat Alexa merasa tak bersemangat pada makanan yang dibawanya padahal dia sedang menginginkannya, atau sedang mengidam. Bukankah itu yang dikatakan kakaknya tadi.
"Entahlah. Meski tidak mual, aku tak bersemangat untuk makan." Jawab Alexa lemah berganti menyendok es krim rasa stroberi yang terlihat menggiurkan di matanya. Bahkan dia hampir ileran kalau tidak segera diusapnya. Namun lagi-lagi Alexa kembali tidak bersemangat entah tidak enak atau tidak ingin.
"Bagaimana kalau aku suapi?" Tawar Josh ragu menatap Alexa datar.
"Kau mau?" Tanya Alexa antusias.
"Asal kau habiskan makanannya. Kau akan lemas jika tidak diisi makanan." Ucap Josh beralasan meski sebenarnya entah kenapa dia merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Alexa, ibu dari calon anaknya.
"Aaa...." Alexa membuka mulutnya setelah mendorong piringnya tepat di depan Josh duduk. Dan senyum tipis terukir di bibir Josh yang tidak disadarinya dan hal itu tidak luput dari pandangan mata Alexa yang entah kenapa malah membuatnya merona tersipu malu. Dan hal itu membuat Alexa mengingat bagaimana malam panas penuh gairah saat janin itu ada.
"Wajahmu memerah? Kau demam?" Josh sontak melepaskan pegangannya langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Alexa yang malah semakin membuat Alexa merona salah tingkah.
"Tidak panas. Apa ada yang kau rasakan sakit?" Tanya Josh menatap Alexa intens, jiwa kedokterannya mulai bangkit melihat orang sakit.
"Ti-tidak... apa-apa... A-aku baik...baik ... saja.." Jawab Alexa gugup menjauhkan tubuhnya meski sebenarnya mereka sudah lumayan jauh, duduk di kursi yang berseberangan.
__ADS_1
Kenapa aku berdebar? Dan entah kenapa debarannya semakin kencang? Bukannya memang kami saling mencintai. Entah kenapa dia terlihat seperti... Batin Alexa yang langsung terlonjak saat Josh menepuk bahunya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Josh terlihat cemas membuat Alexa menatap wajah Josh intens. Josh sendiri juga terpaku ditatap seperti itu oleh Alexa yang tidak seperti biasanya. Namun dia langsung menepis perasaan itu jauh-jauh karena setahunya dia kini dianggap sebagai kakaknya bukan dirinya sendiri. Untuk itu Josh tidak berbangga diri.
"John!" Panggil Alexa lirih. Namun tidak dijawab oleh Josh yang masih dengan telatennya menyuapi Alexa dengan hati-hati.
Alexa meneguk ludahnya kasar mengingat perlakuan sejak tadi yang terlihat memalukan membuat Alexa tiba-tiba menutup wajahnya.
"Aaarg.."
"Ada apa?" Tanya Josh spontan mendengar Alexa berteriak.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Josh lagi cemas.
"Bukannya kalian dipingit?" Suara seseorang membuyarkan keduanya dan menoleh serentak ke arah suara.
"Fira?" Ucap Alexa melihat adik tirinya muncul dengan pakaian yang seperti biasanya, kekurangan bahan seolah sengaja memamerkan asetnya pada orang.
"Bisa tinggalkan kami berdua saja!" Pinta Alexa yang terdengar nada tidak suka.
"Aku kan hanya menyapa kakak ipar kak. Apa kakak takut kalau kakak ipar akan tergoda denganku seperti sebelumnya?" Ucap Fira dengan senyum seringai penuh kemenangan dan nada lirih di akhir katanya.
Alexa sontak melotot mendengar ucapan Fira yang seketika membuat ingatan melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia masih sekolah menengah atas, sebelum mengenal si kembar keluarga Alensio. Namun otak warasnya langsung dikembalikan karena tak mau terpancing dengan ucapan Fira.
"Jangan samakan dia dengan pecundang itu! Aku tak yakin kalau calon suamiku akan tergoda dengan barang murahan sepertimu." Jawab Alexa sarkas yang membuat Alexa sendiri terkejut dengan keberaniannya sendiri. Fira terlihat memerah menahan amarah mendengar ucapan Alexa namun dia segera mengendalikan dirinya karena sedang ada tuan muda Alensio di depan mereka.
"Kakak ini bicara apa sih? Aku kan hanya bercanda kak? Kenapa kakak serius sekali." Ucap Fira melirik Josh yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datar tanpa berusaha untuk menyela pembicaraan mereka.
"Pergilah jika sudah selesai!" Usir Alexa kesal.
__ADS_1
"Baiklah. Bye kakak ipar, kita akan sering bertemu nantinya." Sapa Fira melambaikan tangannya genit pada Josh yang hanya direspon diam dan datar. Alexa menghela nafas lega setelah memastikan Fira pergi meninggalkan mereka.
"Pulanglah!" Usir Alexa beralih menatap pria yang sudah disadari adalah Josh.
"Kau belum menghabiskan makananmu?" Jawab Josh berdalih.
"Huff... aku akan menghabiskannya nanti." Jawab Alexa masih mengendalikan emosinya dan rasa malunya kembali menghampiri. Dan entah kenapa dia menyukainya. Dirinya... merasa nyaman.
"Aku ingin memastikan kalau makananmu habis setelah itu aku akan pulang." Ucap Josh keras kepala.
"Apa pengusiranku padamu beberapa hari yang lalu membuatmu hilang ingatan?" Ucap Alexa membuat Josh terdiam langsung mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh Alexa.
"Huff... ku berjanji pada kakak akan pulang jika makananmu sudah habis. Dan aku ingin memastikan hal itu." Jawab Josh akhirnya mengaku.
"Huh... hahaha...pasti kau merasa lucu dengan kelakuan bodohku tadi saat aku menganggap mu sebagai John. Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" Ucap Alexa menatap Josh tajam penuh kebencian meski hati kecilnya berharap Josh tetap bersamanya.
"Apa kau merasa lucu? Atau kau merasa aku memalukan. Atau kalian memang sengaja mempermainkan aku?" Seru Alexa membuat Josh menegang pergelangan tangan Alexa dengan kesal meski berusaha untuk tidak menyakiti Alexa.
"Sudah cukup bicaranya? Sudah selesai?" Ucap Josh menatap Alexa dingin, keduanya saling menatap tanpa mengalihkan pandangannya. Mata Alexa terlihat berkaca-kaca karena kekecewaan mendalam merasa dipermainkan dua saudara kembar itu.
"Bagaimana pun juga aku adalah ayah dari janin itu kau mau setuju atau tidak. Dan aku tak akan lepas untuk terus memantaunya apalagi kau adalah calon istri kakakku. Dan janin yang seharusnya memanggilku daddy kini harus memanggilku uncle. Tapi tetap tidak bisa dibohongi kalau janin itu tetap anak kandungku." Ucap Josh lirih mengusap air mata yang menetes di pipi Alexa.
Dia sebenarnya tak tega mengatakan hal itu padanya namun larangan demi larangan yang diberikan Alexa untuk mendekati calon anaknya membuat Josh semakin kesal. Kalau saja dia tidak sadar siapa lelaki yang akan disakitinya nanti dia pasti akan nekat merebut wanita calon ibu anaknya itu.
"Kau sudah berjanji akan melepaskannya. Mana janjimu?" Ucap Alexa tak mau kalah tak peduli dengan air matanya yang mulai membanjir. Josh lagi-lagi luluh mendengar suara serak Alexa yang disertai deraian air mata itu. Josh terdiam menghela nafas panjang dan berat.
"Habiskanlah makanmu, setidaknya lakukan untuk janinmu! Di butuh asupan makanan bergizi." Pinta Josh lirih yang membuat Alexa menurut dan kembali duduk di kursinya semula. Dia menuruti suapan demi suapan yang diberikan Josh hingga piring makanan dan mangkuk es krim itu habis tanpa drama mual ataupun muntah.
.
__ADS_1
.
TBC