Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 44


__ADS_3

"Kenapa dia belum bangun dok?" Tanya Josh melihat dokter Mira sudah selesai memeriksa kondisi Alexa yang masih setia memejamkan matanya. Dia sendiri juga bingung kenapa pasien memilih untuk enggan membuka matanya. Dokter Mira tak bisa menanyakan hal itu secara pribadi pada pasien karena Josh selalu menunggui pasien hampir dua puluh empat jam.


Sekarang sudah jam tujuh malam saat dokter Mira melakukan pemeriksaan terakhir hari itu. Dia tahu kalau Alexa sebenarnya sudah sempat bangun. Namun entah kenapa dia melihat wajah cantik yang masih terlihat pucat itu memilih untuk enggan membuka mata. Dan sekarang mata itu memejam lagi memilih untuk tidur dari pada membuka matanya. Seolah enggan untuk bertemu dengan siapapun. Bahkan keluarganya termasuk ibu dan adik tiri Alexa tadi juga sempat menengoknya sebentar.


Namun sampai menunggu satu jam lebih, Alexa tetap setia memejamkan mata. Dan akhirnya mereka memilih pergi dengan jengkel. Niat hati ingin mempermalukan anak tirinya itu karena hamil di luar nikah namun harus gagal karena Alexa masih betah tertidur. Dan lagipula ada calon suaminya yang terlihat setia menungguinya dan dia tak mau mencari gara-gara dengan anak dari orang terkenal itu.


"Non Alexa sudah baik-baik saja." Ucap dokter Mira yang langsung dipotong Josh dengan kesal.


"Tidak bangun sejak pagi kau bilang baik-baik saja? Apa saya harus memastikan lagi lisensi kedokteran anda?" Marah Josh kesal menatap dokter Mira tajam.


"Ta-tapi direktur...non ... Alexa..."


"Tinggalkan kami... berdua... dokter Mira...!" Suara lemah Alexa mengalihkan ketegangan yang terjadi diantara kedua orang itu dan sontak keduanya menoleh ke arah Alexa yang terlihat membuka matanya malas.


"Anda sudah baik-baik saja nona, apa yang anda keluhkan?" Tanya dokter Mira sontak mendekati ranjang Alexa.


"Aku baik-baik saja dok... terima kasih.." Jawab Alexa masih dengan nada lemah. Dokter Mira tampak lega dan balik tersenyum, dia menoleh menatap wajah Josh yang tak menatapnya lagi, tatapannya fokus pada Alexa membuat dokter Mira mau tak mau berpikir tentang hubungan mereka namun dia memilih pergi untuk mencari aman.


"Saya permisi direktur. Saya permisi dulu nona, semoga cepat sembuh!" Harap dokter Mira sambil membungkuk memberi hormat pada Josh yang sudah tidak marah lagi namun raut wajah cemas terlihat jelas di matanya.

__ADS_1


Alexa beralih menatap Josh yang juga menatapnya dengan sorot wajah cemas. Alexa hanya terdiam melihat bukan calon suaminya yang berada di sisinya sejak pagi. Tapi ayah biologis janinnya.


"Saya sudah baik-baik saja, anda bisa tenang meninggalkan saya." Ucap Alexa lemah dan kembali memejamkan mata karena tak mau semakin lama berurusan dengan pria calon adik iparnya ini.


Dia sudah memutuskan untuk memilih John bukan Josh meski dia ayah biologis janinnya meski mereka memiliki wajah yang sama tapi mereka beda. Meski perhatian banyak didapatkan dari pria ini, namun Alexa yakin, perhatian pria ini hanya sebatas karena janin mereka bukan cinta. Dan sayangnya Alexa lebih mencintai John ketimbang ayah biologis janinnya.


Josh menghela nafas panjang, Alexa mengusirnya. Josh tahu maksud hati Alexa enggan menanggapinya.


"Bagaimana kalau kita menikah?" Ucap Josh membuat Alexa mau tak mau kembali membuka matanya menatap Josh tajam.


"Sudah saya katakan berulang kali saya tak akan menikah dengan anda. Saya tidak mencintai anda, yang saya cintai hanyalah John bukan anda." Tegas Alexa menatap Josh tajam sarat akan kemarahan.


"Apa kakak masih mau menikahimu?" Ucap Josh lirih tapi masih didengar oleh Alexa yang semakin menatap Josh nyalang. Namun mengingat kondisinya yang tidak baik-baik saja karena emosinya membuat Alexa memilih menghembuskan nafas panjang meredakan emosinya.


"Kau mau menggugurkannya?" Tanya Josh tak percaya.


"Kalau itu perlu mungkin saja. Sudah saya katakan dari awal, jauhi saya karena saya akan menikah dengan John meski sekarang saya sedang hamil janin anda. Anda yang bilang akan menyerah asal saya mempertahankan janin ini. Dan sekarang jangan salahkan saya jika saya berharap kalau saya keguguran." Jawab Alexa tegas menatap Josh tajam.


Josh terdiam tak berkutik dengan ucapan Alexa. Dia masih menatap Alexa dengan sorot mata sendu. Dia berada di dekatnya karena semata mencemaskan janin dan juga ibunya. Namun Josh lagi-lagi hanya bisa diam dan memilih untuk menyerah meski sebenarnya dia tak rela. Namun jika itu bisa membuat Alexa tidak mengugurkan janin yang dikandungnya akan Josh lakukan.

__ADS_1


"Okey, jaga dirimu baik-baik! Aku akan meminta perawat untuk menjagamu." Ucap Josh menghela nafas panjang pergi dari ruang perawatan Alexa.


Alexa menatap punggung lemah Josh dengan tatapan mata nanar. Hingga setelah pintu ruang perawatan tertutup rapat. Alexa langsung menangis terisak berusaha menyembunyikan suara tangisannya. Dia tahu dia kejam, dia tahu dia tak seharusnya mengatakan hal itu. Meski dia tak mencintai Josh tapi apapun yang terjadi janin yang dikandungnya kini adalah janin Josh.


Maafkan ibu nak, maaf... ibu tidak sungguh-sungguh akan menyingkirkanmu. Ibu sangat menyayangimu. Sangat. Maafkan ibu. Batin Alexa masih dengan isakan tangisnya dalam diam.


.


.


Josh terduduk lemas di kursi ruang kerjanya. Setelah berpisah dari Helena yang sedang membahas tentang operasi lanjutan pasien. Josh langsung berlari tak menghiraukan apapun saat mendengar bahwa Alexa pingsan.


Akal sehatnya langsung hilang dan dia langsung berlari begitu saja saat mendengar kalau Alexa sudah berada di ruang UGD di rumah sakit tempat yang sama dirinya berada. Bahkan operasi yang dijadwalkan sore tadi Josh terpaksa undur diri dan menyerahkan kepada dokter yang lain. Keadaan Alexa dan janinnya lebih penting dari apapun.


Josh mengusap wajahnya gusar, dia pun beranjak ke dalam kamar mandi yang ada di ruangannya. Mencuci muka sebentar, membersihkan, berharap suasana hatinya sedikit membaik. Namun bukannya membaik dia malah merasa gelisah. Sudah berapa kali dia ditolak saat hendak bertanggung jawab pada janinnya. Namun selalu ditolak. Bahkan dia mengancam akan menggugurkan janinnya jika dia ingin berusaha bertanggung jawab.


"Apa yang harus kulakukan? Kakak pasti akan selalu mengira kalau kami sudah mengkhianatinya. Dan dia pasti akan mengira kalau aku yang lari dari tanggung jawab itu." Guman Josh menatap wajahnya di cermin wastafel kamar mandi dalam ruang kerjanya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2