
Sehari sebelum pernikahan, Josh tak pulang ke rumah setelah bertemu dengan adiknya Hana terakhir kali. Meski sebenarnya dia sudah mencoba untuk merelakan pernikahan kakak dan ibu dari calon anaknya yang dikandung calon kakak iparnya Josh mencoba menguatkan dirinya. Mungkin mereka belum berjodoh meski sudah ada anak diantara mereka.
Meski anak itu hadir karena kesalahan semalam keduanya. Josh begitu sangat menyayanginya. Walaupun ibu bayinya tidak mengizinkan dirinya mendekatinya.
Josh menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Kalau saja calon ayah bayinya bukan kakak kandungnya sendiri. Mungkin Josh akan berlari mengejarnya atau menculiknya. Karena dia tak akan rela anaknya nanti dirawat oleh orang lain yang padahal dia tahu kalau dia adalah ayah biologisnya juga ingin bertanggung jawab.
Josh kembali menghembuskan nafas panjang yang lelah. Beberapa akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur nyenyak demi memikirkan hal ini. Memikirkan perasaan dan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Namun tak ada jalan lain selain pasrah pada keadaan. Dia tak mencintai Alexa, bukan tidak tapi belum. Dia lebih ke arah suka karena dia mau menerima janinnya meski tidak mencintainya.
Dia pun bisa berusaha mencintainya kalau saja Alexa bersedia menikah dengannya dan berjanji berjuang bersama untuk membangun rumah tangga dengan calon janin mereka. Namun Alexa terlalu keras kepala karena yang dicintainya bukan dirinya melainkan kakaknya. Meski berwajah hampir sama namun tetap tak bisa membuat Alexa berpaling.
Ting
Suara dering pesan di ponsel Josh membuyarkan lamunannya. Josh meraih ponselnya dengan malas karena mengira hal itu tidak penting. Josh membuka pesan chat dengan malas. Matanya membelalak kaget saat membaca pesan masuk membuat tersenyum bahagia tanpa sadar.
Dan dia pun langsung beranjak berdiri dari kursi kerja di ruangannya setelah melepas jas dokter sekaligus meraih dompet dan kunci mobil untuk pergi. Setelah menyetujui isi pesan yang datang itu bibir Josh tak henti-hentinya menebar senyum lebar bahagia.s Seolah harapan yang diinginkan selama ini terpenuhi.
Tak sampai dua puluh menit Josh sampai di restoran tempat mereka janji bertemu. Josh memarkir mobilnya asal dan bergegas masuk ke dalam restoran dengan tidak sabaran. Dia berharap sesuatu yang baik akan terjadi.
"Selamat siang tuan." Sapa seorang pelayan restoran dengan ramah seraya membungkuk badan memberi hormat.
Bagaimana pun juga restoran tersebut adalah restoran elite bintang lima. Tentu saja dengan harga yang fantastis dan mahal serta mewah. Tentu saja bukan orang sembarangan yang akan datang ke restoran tersebut. Karena yang datang tentu saja orang berduit dan kaum borjuis. Dilihat dari penampilan Josh yang walaupun hanya kemeja yang digulung sampai lengan karena lupa saking senangnya. Pelayan restoran langsung tahu kalau Josh bukan orang sembarangan.
"Selamat siang." Sapa balik Josh masih dengan senyum sejuta watt nya membuat pelayan terpesona namun segera sadar dengan tugasnya. Nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari kentara sekali dia berlari saat tiba di restoran tersebut.
"Sudah reservasi tuan?" Tanya pelayan itu ramah dan sopan.
"Atas nama Alexa." Jawab Josh dengan nafas yang mulai sedikit tenang.
__ADS_1
"Mari saya antar tuan!" Ajak pelayan itu mempersilahkan Josh yang diangguki antusias oleh Josh.
Pelayan berjalan ke lantai dua tempat ruang privat atas nama Alexa. Josh mengikuti langkah pelayan dari belakang dengan tidak sabaran. Dan tentu saja masih dengan senyum manis terlihat di bibirnya.
"Silahkan tuan!" Persilahkan pelayan tersebut saat tiba di ruang privat restoran yang dimaksud Josh.
"Terima kasih." Jawab Josh menghembuskan nafas sebelum mengetuk ruang privat tersebut.
Semoga ada kabar baik. Batin Josh berharap.
"Masuk saja!" Suara dari belakang tubuhnya membuat Josh tersentak kaget sontak membalikkan tubuhnya ke arah belakang.
"A-alexa!" Ucap Josh mengernyit.
"Aku juga baru datang."
Alexa masuk ke dalam ruang privat dengan santai seolah tak ada beban. Sebenarnya tawanya akan meledak saat dia sampai di parkiran restoran tadi. Dia sudah memperhatikan Josh yang sedikit berkaca untuk membenahi rambut serta pakaiannya. Yang membuat Alexa tertawa, padahal dia melihat tadi, Josh berusaha memperbaiki penampilannya tapi kemajanya masih digulung sampai siku.
.
.
Flashback on
Setelah merenung semalaman tentang ucapan Anggita. Alexa memutuskan untuk mengirim pesan chat pada Josh. Dan respon Josh tak dia kiranya akan sangat antusias saat menerima pesan darinya Josh langsung membalas pesannya.
Alexa pun segera pergi dengan diantar sopirnya. Karena bagaimanapun juga John melarangnya untuk pergi kalau tidak bersama dengan sopir atau dengan salah seorang maid yang menjaganya di apartemen pribadinya.
__ADS_1
Setengah jam dia masih terjebak di kemacetan tak jauh dari restoran tempatnya. Alexa bergerak gelisah di dalam mobil. Dia memang akan datang satu jam lagi. Tapi karena restorannya jauh dari apartemen John. Alexa harus menempuh jarak paling lama setengah jam. Padahal jam makan siang masih setengah jam lagi.
"Masih lama pak?" Tanya Alexa yang sudah menunggu di dalam mobil selama sepuluh menit.
"Sepertinya sebentar lagi non." Jawab sopirnya. Alexa berkali-kali melirik jam tangannya dengan perasaan gelisah. Entah kenapa dia merasa antusias bertemu dengan Josh yang ditolaknya beberapa waktu lalu. Kini dia terlihat tidak sabar untuk bertemu.
Alexa menatap ponselnya ingin menghubungi ponsel Josh memberikan kabar kalau dia akan datang terlambat. Namun dia urung karena akhirnya mobil bergerak mulai lancar lagi.
Tak sampai sepuluh menit mobil masuk area parkir restoran.
"Sudah sampai non." Ucap sang sopir sambil membuka pintu mobil. Namun Alexa terdiam menatap seseorang di luar mobil. Josh. Ya, Alexa melihat Josh yang baru saja tiba dengan tergesa-gesa. Bahkan mobilnya tidak diparkir dengan sempurna bahkan terkesan asal-asalan karena tidak sabar untuk segera turun.
Alexa melihat Josh kembali menuju mobil mengira ada yang ketinggalan tapi bukan itu yang dilakukan Josh. Dia merapikan rambutnya, kemudian membenahi pakaiannya. Dan berputar sebentar di depan kaca mobil seolah meneliti tubuhnya apa tidak ada kekurangan.
Alexa tanpa sadar tersenyum melihat tingkah Josh yang terlihat sungguh mengharapkannya bertemu dengannya. Josh terlihat salah tingkah dan bahagia seolah tahu pertemuan mereka adalah kabar baik.
Alexa terdiam menundukkan kepalanya. Berharap keputusannya yang diambilnya adalah benar.
"Kuharap ini yang terbaik." Guman Alexa keluar dari mobil masuk ke dalam restoran.
Flashback off
.
.
TBC
__ADS_1