
Anggita sibuk memilih bahan makanan. Sesaat tadi Juan pamit untuk mengantar adiknya melihat-lihat sekitar. Dan Anggita sudah bisa menebaknya apa yang ingin dilihat gadis kecil itu, tentu saja boneka barbie yang dipajang di etalase tadi. Celine, keponakannya sangat menyukai boneka barbie. Dia rela menukar apapun asal dia mendapatkan boneka barbie kesukaannya.
Tak hanya satu atau dua, boneka barbie nya di rumah sangatlah banyak. Setiap oleh-oleh dia selalu meminta boneka barbie. Saat Anggita bertanya kenapa dia sangat menyukainya alasan sungguh membuatnya sedikit merasa bersalah.
"Kenapa kau sangat menyukainya sayang?" Tanya Anggita kala itu.
"Aku sangat menyukainya bunda, saat aku bermain dengan boneka barbie ini, aku seperti mempunyai teman perempuan. Aku juga merasa mengerti bagaimana keadaan mommy yang tidak bisa berada selalu di sampingku." Jawab gadis kecil itu dengan tatapan polosnya. Entah dari mana bocah itu belajar kata-kata yang belum bisa dimengerti dirinya itu bisa diucapkan dengan lancar.
Anggita sesaat terkejut mendengar ucapan gadis kecil itu. Sejak dia lahir, dia memang selalu bersama dengan keluarganya. Meski sesekali adiknya mengunjunginya namun tentu saja tidak bisa sesering bagaimana adiknya itu berkunjung. Kuliah kedokteran sungguh sangat menyita waktunya bersama putrinya yang lahir tanpa dia tahu siapa ayah biologis bayi itu.
Meski sekarang akhir-akhir ini dia tahu siapa ayah biologisnya. Hingga membuat Anggita dan suaminya murka untuk meminta pertanggungjawaban. Namun adiknya itu terlalu baik hati. Selain karena mereka berteman, dia juga tidak mencintai ayah biologis bayi itu dan dia malah mencintai adik ayah biologis bayinya.
Anggita hanya menghela nafas panjang. Meski dia mendesaknya untuk mengatakan yang sebenarnya pada ayah biologisnya namun adiknya itu tetap bersikukuh tidak sekarang. Dan dia sanggup merawat bayinya seorang diri.
"Kau harus mengatakan yang sebenarnya padanya?" Marah Anggita saat mengetahui adiknya hamil dalam one night stand.
"Ini bukan salahnya kak, ini salahku." Jawab Helena saat kakaknya memergoki test pack yang tidak sengaja disembunyikannya di laci kamar.
"Dia harus tahu. Meski semua salahmu, tapi dia tetap ayah dari bayi itu." Kesal Anggita mendedikasikan adiknya memang sangat keras kepala.
"Aku tak mencintainya kakak, kalau aku memaksanya untuk menikahiku karena janin ini, ujung-ujungnya kami pasti bercerai karena yang kucintai adalah adiknya. Dan setelah kami menikah aku pasti akan sering bertemu dengannya. Aku tak mau goyah dan berakhir mengkhianati pernikahan kami nanti." Elak Helena yang mungkin terdengar masuk akal.
"Omong kosong. Tapi bagaimana pun juga dia tetap ayahnya." Debat Anggita menatap Helena kesal.
"Kumohon kak, mengertilah! Kau tahu aku tidak semudah itu berpaling. Aku sangat mencintainya. Setelah aku melahirkan, aku akan memperjuangkannya lagi."
"Lalu kau akan memaksanya untuk menerima keponakannya menjadi anaknya nanti?" Sindir Anggita halus membuat Helena terdiam. Dia tak bisa berkata lagi setelah ucapan terakhir kakaknya.
"Sudahlah kak, aku akan tetap bertahan dengan keputusanku. Kalau kakak tidak bisa membantuku, aku akan merawatnya sendiri." Ucap Helena meninggalkan rumah kakaknya. Anggita hanya menghela nafas panjang, suaminya yang hanya menyimak percakapan mereka hanya bisa mengelus lengan istrinya.
"Jangan terlalu keras padanya! Dia hanya butuh dukungan kita saja." Hibur suaminya.
"Tapi... dia... dia harus mengatakan pada ayah biologisnya." Ucap Anggita masih bersikukuh.
"Biarkan dia tenang dulu! Dia masih muda masih labil. Apapun keputusannya kita hanya harus mendukungnya." Hibur suaminya lagi.
__ADS_1
"Anak itu pasti akan bersedih menanyakan dimana ayahnya nanti mas, aku takut dan aku kasihan." Ucap Anggita sendu.
"Kita bisa menjadi orang tua lengkapnya nanti." Jawab suaminya membuat Anggita tersenyum.
"Mas mau menerimanya?" Tanya Anggita antusias tersenyum lebar menatap suaminya.
"Dia bisa menjadi adik Juan nanti jika adikmu bersikeras tidak mau mengatakan pada ayah biologisnya."
"Terima kasih sayang. Terima kasih." Ucap Anggita sumringah sambil memeluk suaminya erat.
"Juan pasti akan menjadi kakak yang baik."
"Kau benar sayang."
.
.
Setelah selesai berbelanja, Anggita membayar di kasir. Tak sampai setengah jam dia selesai dan melihat-lihat kemana kira-kira anak-anaknya tadi. Anggita meminta tolong pada supirnya untuk membawa belanjaannya ke mobil sementara dia mencari anak-anaknya.
Namun saat dia sampai di stand toko penjual boneka barbie yang ditebak anggota tempat anak-anaknya tadi melihat, Anggita tersentak kaget tak menemukan keduanya ada di toko tersebut membuatnya panik dan cemas. Dia pun mencari-cari di sekitar-sekitar toko boneka tersebut berharap kedua anaknya ada disana. Namun dia harus menelan kekecewaan.
Anggita menghela nafas frustasi. Wajah lelah berkeringat dan nafas yang ngos-ngosan terlihat jelas di wajahnya. Saat hendak menghubungi ponsel putranya, Anggita langsung menghela nafas kasar karena ternyata ponselnya berada di dalam tas yang dibawanya. Putranya menitipkan padanya saat meminta izin mengantar adiknya untuk membeli boneka barbie.
"Maaf tuan, anda melihat kedua anak ini?" Tanya Anggita sekali lagi pada orang yang melintas meski sebenarnya dia nyaris putus asa.
"Ah, bukannya gadis ini yang menangis histeris tadi?" Sela teman pria yang ditanyai Anggita tadi.
"Anda tahu?" Tanya Anggita antusias merasa angin segar masuk ke dalam tubuhnya mendengar teman pria yang ditanyai itu melihat putrinya.
"Benarkah?" Tanya pria yang ditanyai Anggita tadi.
"Mereka dibawa sekuriti ke ruang informasi. Mungkin masih disana nyonya." Jawab teman pria tadi.
"Benarkah? Terima kasih." Jawab Anggita tersenyum lebar sambil berlari ke ruang informasi mall setelah berterima kasih pada kedua pemuda itu.
__ADS_1
Anggita berlari menuju tempat yang ditunjuk pemuda tadi dan mendapati orang-orang ramai berkumpul. Anggita langsung menerobos melihat berharap kedua anaknya masih ada disana.
"Juan. Celine." Panggil Anggita dengan senyum lebarnya langsung menghampiri kedua anaknya dan memeluknya.
"Bunda." Jawab keduanya kompak menoleh ke arah Anggita datang.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya Anggita sambil menatap seluruh tubuh keduanya berharap tidak ada luka apapun. Karena dia melihat mata sembab Celine.
"Kau kenapa menangis sayang?" Tanya Anggita merasa bersalah karena Celine habis menangis entah karena apa.
"Kak Anggi?" Panggil seseorang membuat Anggita sontak menoleh ke arah suara yang sedang berdiri tak jauh darinya. Menatapnya dengan kernyitan di dahi.
"Jo...John." Guman Anggita menutup mulutnya tak percaya bertemu dengan seseorang yang tidak diduganya sama sekali.
"Kak Anggita, benarkah?" Tanya John sekali lagi mendekati Anggita dengan wajah yang antusias.
"John?"
"Ya, aku John. Kakak selalu bisa mengenali kami." Jawab John tersenyum sumringah merasa mendapatkan lotre.
"Kau lupa kalau aku lulusan psikologi?" Jawab Anggita membuat John tertawa.
"Apa kabar kakak?" Tanya John mengulurkan jemari tangannya untuk berjabat tangan.
Sesaat Anggita antusias namun sesaat itu juga benaknya langsung loading dan dia pun membelalakkan matanya terkejut. Sontak menoleh menatap Celine dan berganti menatap John.
"Kami harus pergi John, sudah terlalu siang. Permisi." Pamit Anggita terkesan buru-buru dan seolah menghindari John. Membuat John pun mengernyit heran melihat Anggita yang begitu cepat berubah seolah takut bertemu dengannya.
"Kak Anggita!" Panggil John yang tak digubris Anggita, dia langsung menarik kedua anaknya menjauh dari tempat itu.
John hanya terdiam menatap kepergian Anggita yang terkesan terburu-buru.
"Aneh." Guman John.
.
__ADS_1
.
TBC