Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 38


__ADS_3

"Hei... kau baik-baik saja?" Ucap Helena sambil menepuk lembut pipi John yang masih terus mengigau tidak jelas.


"Maaf dokter, bisakah saya titip tuan muda pada anda?" Pinta Evan terlihat gelisah.


"Ada apa?" Tanya Helena menatap Evan.


"Ada meeting penting yang harus saya hadiri, bisakah saya minta tolong pada anda untuk menjaga tuan muda?" Pinta Evan sambil melirik jam tangannya dan kembali menatap Helena penuh harap.


"Baiklah." Jawab Helena setelah lama berpikir dan melihat kegelisahan Evan.


"Terima kasih dokter. Saya tinggal dulu." Jawab Evan beranjak pergi meninggalkan kamar tuan mudanya. Kalau saja bukan pertemuan penting dia pasti tak akan datang apalagi keadaan tuan mudanya sedang tidak baik-baik saja.


"John, bukan matamu!" Ucap Helena sambil memeriksa denyut nadi John yang cepat dengan keringat dingin terus membanjiri seluruh tubuhnya. Helena mengusap keringat di wajahnya dengan tisu.


"Dingin... di..ngin..." Igau John dengan menggigil di ranjangnya.


"Hei, kau harus buka matamu dulu! Minumlah obatnya!" Ucap Helena yang seolah semua sia-sia karena John tak bereaksi padanya. Sepertinya dia mengalami depresi akibat terlalu banyak pikiran.


Tubuhnya dingin sekali, apa yang harus kulakukan? Batin Helena terlihat bingung. Dia belum pernah menangani langsung pasien seperti ini. Dia hanya pernah mendengar teori di kampus tempatnya dulu belajar. Bahkan saat magang sebagai dokter, dia belum pernah mengatasi orang yang menggigil seperti ini.


Apakah aku harus melakukannya? Batin Helena berkecamuk berpikir untuk menerapkan ilmunya yang didapat saat dia kuliah kedokteran dulu.


Toh kami pernah melakukannya. Sekarang hanya itu jalan satu-satunya untuk menolongnya. Batin Helena membuka seluruh pakaiannya yang hanya menyisakan pakaian dalamnya.


Ya, metode skin to skin adalah metode efektif dan efisien untuk membantu pasien yang sedang menggigil dengan tubuh berkeringat dingin. Setelah membuka seluruh pakaian John, dia pun bergegas membuka pakaiannya. Tak lupa pintu kamar itu dia kunci dengan rapat kalau-kalau ada yang tiba-tiba masuk ke dalam.


Maafkan aku John, ini jalan terakhir satu-satunya yang harus kulakukan untuk kesembuhanmu. Aku tak mungkin menghubungi calon istrimu karena kau bilang ingin menyembunyikan dirimu dari semua orang sebelum kau siap bertemu dengan mereka. Batin Helena merasa bersalah karena dia yakin jika John tahu pasti dia akan dikira mencuri kesempatan di dalam kesempitan.

__ADS_1


Helena mulai masuk ke dalam selimut mendekap tubuh kekar John yang mulai sedikit berkurang karena kurangnya asupan makanan bergizi beberapa hari terakhir ini. Sontak John langsung balas mendekap tubuh yang membuatnya sedikit hangat itu.


Hingga tanpa sadar air mata Helena menetes saat mendengar igauan lirih John terdengar di telinganya.


"Alexa..." Lirih John mendekap erat tubuh Helena masuk ke dalam pelukannya yang dirasakan hangat menjalari seluruh tubuhnya.


Setelah beberapa mereka terdiam saling mendekap satu sama lain. John sudah tidak menggigil lagi, namun dia masih setia memejamkan mata sambil mendekap erat tubuh Helena dari belakang karena niat hati Helena hendak bangun karena sudah lebih dari lima jam keduanya saling mendekap. Dan waktu menunjukkan pukul empat pagi.


Helena berinisiatif bangun dan ingin segera pergi sebelum John bangun dan sadar apa yang terjadi pada mereka. Dia tak mau John kembali merasa bersalah padanya seperti dulu. Dan dia juga tak mau hal buruk kembali terjadi pada mereka nantinya karena Helena merasakan ada sesuatu yang berdiri tegak di bawah sana menusuk tempat di pantatnya membuat wajah Helena tiba-tiba merona memerah.


"Ale..xa.." Guman John dengan tangannya mulai menggerayangi tubuh Helena yang atas menemukan dua aset kembar Helena yang mulai mencuat pu**tingnya. Tentu saja hal itu juga merangsang Helena. Dia juga wanita normal. Meski pernah kuliah di luar negeri, dia bukan wanita yang sembarangan akan tidur dengan siapapun.


"Lepaskan John... ukh...!" Guman Helena yang mirip dengan ******* membuat John yang masih belum sadar siapa wanita yang didekapnya mulai gencar melakukan serangan intim pada tubuh Helena.


Helena hendak beringsut dari ranjang namun John malah menariknya hingga dia berada tepat di bawah kukungan tubuh besar nan kekar John membuat Helena terbelalak kaget menatap John terkejut.


"Helen?" Ucap John menatap Helena yang berada di bawahnya. Namun bukan wajah Helena yang ada dibawahnya namun wajah Alexa yang terlihat di matanya.


"Iya, aku Helena, lepaskan aku!" Mohon Helena menatap John penuh harap.


John yang masih berada jauh dari kewarasannya malah tertawa mengejek.


"Jangan berpura-pura menjadi orang lain untuk menghindariku Alexa!" Ucap John sarkas sarat akan kemarahan.


"John... aku..."


Cup...

__ADS_1


Belum selesai Helena memberontak, John sudah menyerang bibirnya dan ********** paksa.


"Kenapa kau menangis?" Air mata Helena tanpa sadar kembali menetes merasakan perlakuan paksa lagi dari John persis seperti beberapa tahun lalu hingga dirinya dipaksa oleh John padahal hal itu baru pertama kali dilakukan. Dan John saat itu dalam keadaan tidak sadar alias mabuk persis seperti saat ini.


"Aku Helen John..." Mohon Helena menatap John sendu.


"Kenapa Alexa...? Bahkan kau bisa melakukan pada orang lain kenapa denganku kau malah menangis?" Ucap John mengusap air mata Helena yang semakin deras karena John masih bersikeras mengira dirinya Alexa, calon istrinya yang sekarang Helena bisa menebak apa yang terjadi di antara mereka hingga membuat John bersembunyi.


"Apa kau lebih nikmat berhubungan dengannya dari pada denganku? Aku juga ingin merasakannya." Ucap John dan kembali mencium, melum*at dan menyerang Helena dengan tidak sabaran.


Hingga Helena tak mampu lagi menolak perlakuan John padanya. Dan lagi-lagi hal ini terjadi lagi. Bukan Helena marah pada John, ini sepenuhnya adalah salahnya. Seandainya dia tak melakukan hal itu dia tak akan bisa menyelamatkan John. Tapi dia tak menyesali karena hal ini terjadi lagi.


Hanya saja satu hal yang disesalinya, John menyebut nama wanita lain saat bercinta dengannya meski sebenarnya dia juga tak berhak protes. Karena bagaimanapun dia bukanlah siapa-siapa bagi John. Seolah dia hanya tempat pelampiasan oleh seorang John.


"Ini... nikmat...ukh.. aahhh..." Desah John.


"Ukh..." John menumpukan tubuhnya di atas tubuh Helena yang menatapnya sendu. Sesaat mata John seperti terkejut yang langsung ditepisnya.


"Terima kasih..." Helena... Guman John lembut sambil mengecup kening Helena.


Helena langsung beringsut ke samping dan masuk ke dalam kamar mandi dengan tertatih. Meski itu bukanlah hal pertama baginya namun lama tidak berhubungan intim membuat inti tubuhnya berdenyut sakit. John kembali memejamkan mata, antara mimpi dengan kenyataan, dia seolah melihat wajah wanita yang sama seperti beberapa tahun yang lalu yang telah direnggut paksa mahkotanya.


Maafkan aku Helena. Maaf.. Batin John dalam pejaman matanya.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2