Si kembar Alensio

Si kembar Alensio
Bab 41


__ADS_3

Dua hari sebelum kejadian.


Alexa pulang diantar Evan menuju ke mansion keluarganya. Tak ada percakapan penting diantara keduanya. Alexa pun hanya terdiam memikirkan beberapa hal. Termasuk John yang sudah beberapa hari ini tidak pernah menghubunginya sama sekali. Padahal biasanya dia akan selalu menghubungi sesibuk apapun dirinya. Kadang hanya sekedar mengirim pesan sesibuk apapun dia.


Namun sudah lebih dari tiga hari ini ponselnya sepi. Hanya beberapa notifikasi spam dan grup yang tak ditanggapi olehnya. John selalu menanyakan kondisi dirinya juga kehamilannya. Kata-kata manis yang sering diucapkan melalui panggilan juga pesan membuat Alexa tersenyum bahagia sendiri saat membacanya. Namun sekarang tak ada kata-kata apapun baik pesan atau panggilan ponsel.


Bahkan pesan dan panggilan yang dilakukan Alexa tak pernah mendapat respon. Pesannya yang sudah menumpuk di room chat nya dengan calon suaminya tak ada jawaban atau respon apapun. Bahkan ponselnya tidak aktif membuat Alexa sedikit frustasi meski berusaha menepisnya kalau John mungkin sedang sibuk.


Alexa sendiri tak tahu tentang perkelahian antara kembar bersaudara itu. Dia pun juga tak mau berpikir negatif. Bukankah John sudah berjanji akan menerima dan mencintai janin yang ada dalam perutnya. Itulah kata-kata yang membuat Alexa selalu berpikir positif.


Namun karena beberapa hari tak ada kabar apapun dari John membuat Alexa nekat menghubungi asisten John yaitu Evan. Namun bukan jawaban yang memuaskan melainkan jawaban seolah mesin operator saja. Kalau John sedang sibuk tak mau diganggu. Katanya ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum hari pernikahan agar nanti saat bulan madu tidak diganggu dengan pekerjaannya.


Meski terdengar masuk akal namun Alexa merasa tak percaya. Kalau memang seperti itu kejadiannya kenapa John tak mengangkat panggilannya juga tak membalas pesannya. Lebih dari dua hari keadaannya sedikit memburuk. Mual dan muntah terjadi lagi membuat asupan gizi makanan tidak bisa masuk dengan baik ke tubuhnya. Selain faktor hormon kehamilan juga karena stres tentang pikirannya.


Hingga saat sopir John menjemputnya memberikan kabar kalau hari itu adalah hari fitting gaun pengantin untuk pernikahannya membuat Alexa sedikit bersemangat. Dikiranya dia akan bertemu dengan John nanti di butik tempat gaun mereka dipesan. Namun lagi-lagi Alexa harus rela dikecewakan lagi. John sibuk dan dia tidak datang untuk melakukan fitting gaun pengantin bersama Alexa.


Meskipun Alexa berusaha membesarkan hatinya untuk tidak marah karena kesibukan sang calon suami. Namun rasa tegang pada perutnya menunjukkan kalau keadaan Alexa tidak baik-baik saja. Namun dia berusaha untuk diam tak menunjukkan reaksi perutnya pada siapapun termasuk pada Evan, asisten John.


"Nona tidak apa-apa?" Tanya Evan saat Alexa hendak masuk ke dalam mobil yang dibukakan pintunya oleh Evan.


"Tidak apa." Jawab Alexa singkat mengubah ekspresi wajahnya yang meringis dengan senyum yang dipaksakan.


Evan tak berani bertanya lebih meski sebenarnya dia menyadari wajah pucat calon istri tuan mudanya itu. Namun melihat reaksi acuh yang ditunjukkan oleh Alexa membuat Evan menyadari kalau sebenarnya wanita tuan mudanya itu sedang menahan amarah merasa diacuhkan oleh tuan mudanya. Namun apa dayanya yang seorang bawahan, hanya mampu mengikuti apa yang dikatakan atasannya. Meski dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa ada yang nona butuhkan?" Tanya Evan sebelum mobil melaju.


"Tidak. Langsung pulang saja!" Jawab Alexa dingin tanpa menatap wajah Evan memilih untuk menatap ke luar jendela kaca mobil.

__ADS_1


"Baik nona." Jawab Evan sopan menghela nafas berat. Sopir pun langsung melajukan mobilnya sesuai kode dari Evan.


.


.


Josh menatap Helena yang baru datang untuk bekerja. Keduanya terpaksa bertemu pagi itu karena Helena yang terpaksa tidak kembali kemarin. Josh tak berani bertanya lebih jauh. Dia hanya mengiyakan saat Helena memintanya bertemu untuk membahas operasi lanjutan pada pasien yang dioperasinya kemarin.


Josh mulai menjelaskan duduk permasalahan terkait operasi yang ditangani oleh mereka kemarin dengan jelas dan teliti. Dia juga menunjukkan tindakan selanjutnya menurut pendapatnya. Dan dia pun mulai bertanya pada Helena bagaimana menurutnya tentang pendapatnya itu.


Namun saat mata Josh mendongak setelah membaca berkas-berkas yang mereka bahas. Bukannya Helena ikut menyimak berkas itu namun Josh malah menatap wajah Helena yang menatap berkas itu dengan diam. Seolah pikirannya sedang menerawang entah kemana.


"Helen!" Panggil Josh memutuskan untuk mengakhiri pembahasannya.


Namun tak ada jawaban dari dari Helena. Dia masih tetap diam melamun.


"Dokter Helena!" Panggilan untuk ketiga kalinya Josh tak membuat Helena segera bereaksi membuat Josh menghela nafas panjang mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Helena.


"Dokter Helena!"


"Eh!" Sentak Helena terlihat terkejut saat dia merasakan pundaknya ditepuk lembut oleh Josh.


"Sepertinya anda terlihat lelah. Lain kali saja kita bahas masalah ini." Josh segera membereskan meja sofanya saat sudah berhasil membuyarkan lamunan Helena.


"Ah, maaf. I-itu... maaf." Jawab Helena lemah menundukkan kepalanya sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes di pipi menghindari tatapan Josh yang menatapnya lekat. Dia hanya berharap Josh tak menyadari air matanya.


"Jika anda merasa tidak sanggup, saya bisa menggantinya dengan dokter lain. Mungkin anda ingin istirahat sejenak." Saran Josh tak mau bertanya lebih lanjut. Itu bukan ramahnya untuk ikut campur, apalagi masalah pribadi.

__ADS_1


"Saya bisa dok." Tolak Helena tegas menatap Josh yakin. Josh balik menatap Helena yang menatapnya, keduanya saling menatap, Josh sendiri mencoba masuk ke dalam tataran mata Helena yang terlihat sembab meski tidak terlalu kentara namun dia pun segera memutuskan pandangannya.


"Anda yakin?" Helena mengangguk yakin.


"Saya yakin dok. Maaf, mungkin saya sedikit kelelahan." Jawab Helena dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan.


"Mau kita lanjutkan sekarang?" Jawab Josh.


"Tentu. Saya akan memesan kopi. Anda mau juga?" Tanya Helena meraih ponselnya.


"Tidak, terima kasih. Punyaku masih cukup." Jawab Josh menunjukkan cangkir kopi yang berada di sisi kanannya.


"Ah, tentu." Jawab Helena sudah kembali seperti biasanya. Josh hanya tersenyum simpul.


Saat Helena sibuk melakukan pemesanan kopi untuknya melalui ponselnya. Ponsel Josh berdering membuat Josh segera meraihnya menerakan nomor baru. Josh mengernyit namun dia langsung mengangkatnya seolah ada firasat buruk saat dia melihat ID pemanggil itu.


"Ya?" Jawab Josh.


"..."


"Apa? Baik. Aku akan segera kesana! Dimana kamu?" Ucap Josh sontak berdiri membuat Helena pun ikut terkejut dan berdiri juga sambil berbisik 'ada apa' namun tidak direspon Josh yang sudah berlari ke meja kerjanya melepas jas dokternya, meriah kunci mobil juga dompetnya.


Namun seketika langsung diletakkan kembali kunci mobil juga dompetnya dan langsung berlari ke luar ruang kerjanya tanpa menghiraukan Helena yang melongo melihat Josh secemas itu. Josh segera membuang jas dokternya asal sambil berlari.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2