
"Kak." Panggil Hana melihat Josh muncul di mansion keluarganya. Dia melihat beberapa orang dan maidnya sibuk berlalu lalang di dalam mansion menyiapkan pernikahan John yang tinggal beberapa hari lagi.
Josh sontak menoleh menatap ke arah adiknya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Kakak pulang?" Tanya Hana yang tidak melihat kakak-kakak kembarnya pulang beberapa hari yang lalu.
"Daddy ingin bertemu dengan kakak." Jawab Josh masih dengan senyuman.
"Aku merindukan kakak." Hana memeluk tubuh kakaknya yang langsung disambut tawa oleh Josh.
"Kakak juga." Jawab Josh tertawa.
"Di rumah semua orang sibuk, seharusnya kakak membantu menyiapkannya kan?" Ucap Hana, kedua masuk ke dalam, Josh menuju dapur ingin mengambil air minum karena merasa haus. Hana mengikutinya dari belakang.
"Kakak jangan terlalu sibuk, bantu-bantu sedikit untuk mempersiapkan pernikahan kakak." Josh terdiam setelah meminum air dinginnya.
"Kakak sibuk adikku." Jawab Josh memaksakan senyumannya meski dadanya terasa sesak mendengar pernikahan kakaknya tetap berjalan meski dia sudah memohon untuk merelakan Alexa padanya.
"Jangan terlalu sibuk!" Ucap Hana pura-pura kesal sambil mempeotkan pipinya menunjukkan kekesalannya membuat Josh merasa gemas dan mencubitnya.
"Auw... sakit kak." Ucap Hana setelah Josh melepas cubitan di pipinya semakin menggembungkan pipinya menggemaskan.
"Nanti kakak pasti datang pas hari pernikahan." Jawab Josh malah membuat dadanya semakin sesak saja.
"Kakak datang denganku ya?" Mohon Hana menatap Josh dengan tatapan puppy eyes nya.
Josh hanya bisa pura-pura tertawa meski tak bersemangat dan menganggukkan kepalanya mengiyakan keinginan adiknya.
"Aku menyayangimu kak." Sekali lagi Hana memeluk Josh penuh kasih dan Josh pun membalasnya pula.
.
.
"Evan!" Ucap John saat mereka dalam perjalanan untuk kembali ke kantor setelah makan siang dengan para pegawai mall.
"Ya tuan muda." Jawab Evan.
"Lupakan!" Ucap John lagi membuang pandangannya ke luar jendela kaca mobil dan berkali-kali menghela nafas panjang dan berat seolah ada beban yang menghimpitnya.
"Tuan muda butuh sesuatu?" Tanya Evan yang melihat kegalauan John.
"Aku... Sudahlah!" Ucap John lagi sambil meraup wajahnya kasar. Evan ikut menghela nafas meski lirih, dia sendiri bingung apa yang terjadi dengan tuan mudanya itu. Karena saat makan siang, dia tidak begitu bernafsu. Dan John menatap jemari tangan kanannya sesaat mengingat wajah gadis kecil tadi.
*Kenapa aku merasa familiar pada gadis kecil itu?
Dadaku terasa berdesir hangat saat menyentuhnya tadi.
Kenapa seolah aku sudah sangat lama mengenalnya*?
Batin John sambil menatap jemari tangannya juga mencengkeram dadanya meski tidak terlalu erat. Evan hanya menatap tuan mudanya dari kaca tengah spion mobil.
__ADS_1
"Evan!"
"Ya tuan muda."
"Coba kau cari tahu tentang gadis kecil tadi! Besok pagi aku ingin sudah ada di mejaku!" Titah John tiba-tiba membuat Evan terdiam tak segera menjawab, kembali membayangkan seorang gadis kecil yang ditabraknya tadi hingga menangis kencang dan histeris membuat Evan dituduh seorang penculik.
"Evan!" Seru John karena Evan tak segera memberikan jawaban.
"Ba-baik tuan muda." Jawab Evan gelagapan.
.
.
"Iya kak ada apa?" Tanya Helena yang baru saja selesai memeriksa pasiennya melihat ponselnya berdering panggilan dari kakaknya.
"Helen, kakak akan segera kembali ke Ne* York sekarang." Jawab Anggita di seberang tanpa basa-basi membuat Helena mengernyit, pasalnya kakaknya itu mengatakan akan berada di tanah air seminggu lagi karena libur sekolah Juan masih seminggu lagi.
"Apa maksud kakak?" Tanya Helena masih belum yakin dengan pendengaran kakaknya. Di seberang panggilan, Anggita terdengar gugup dan panik. Helaan nafasnya terdengar frustasi membuat Helena juga ikut cemas dan panik.
"Tadi kakak pergi ke mall." Ucap Anggita setelah terdengar tenang dari nada bicaranya yang sudah tidak gugup.
"Lalu?"
"Kakak bersama anak-anak."
"Hehemm." Jawab Helena masih belum menemukan masalahnya.
"Kakak bertemu dengan John. Tepatnya anak-anak bertemu John. Dan kakak yakin itu John bukan Josh." Ucap Anggita tegas dan yakin dengan kepercayaannya.
"Apa maksudmu kak? Lalu, apa yang terjadi? Di-dia tidak tahu kan?" Berondong Helena ikut panik dan cemas.
Josh yang sibuk dengan beberapa berkas sontak mendongak menatap Helena yang ternyata juga menatapnya dengan tatapan panik dan cemas membuat Josh bergumam 'ada apa' pada Helena namun Helena hanya tersenyum sambil memberi kode kalau dia akan keluar dari meeting room untuk bicara di luar ruangan saja. Dan hanya dijawab anggukan oleh Josh hingga kemudian dia mengedikkan dia bahunya acuh.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi kak?" Tanya Helena yang kini sudah mendapatkan ruang yang tenang, di pintu tangga darurat rumah sakit.
"Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya, Juan pamit ingin mengajak jalan-jalan Celine sedang aku memilih bahan makanan. Setelah lama tidak kembali aku mencarinya ternyata mereka sudah ada di ruang informasi. Mereka juga bersama John dan entahlah siapa, sepertinya asistennya." Jelas Anggita.
"Aku akan pulang sekarang kak." Ucap Helena langsung menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban kakaknya.
"Direktur!" Panggil Helena saat melihat Josh keluar dari meeting room sambil menenteng beberapa berkas.
"Ya?" Tanya Josh menatap Helena.
"Jam makan siang kurang lima belas menit, aku izin untuk istirahat sekarang. Ada sedikit masalah di rumah. Bolehkah?" Pinta Helena penuh harap.
Josh melirik jam tangannya seperti yang dikatakan Helena.
"Tentu. Operasi akan dimulai sore hari. Kau bisa kembali sebelum operasi dimulai." Jawab Josh.
"Benarkah? Terima kasih Josh."
__ADS_1
"No problem." Helena segera berlari ke arah pintu keluar rumah sakit setelah mampir ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil dan tasnya, tak lupa dia menggantung jas dokternya di ruangannya tersebut yang ditatap Josh dengan kernyitan dahi penasaran. Namun dia segera menggeleng dan memilih untuk menuju ruangannya saja.
.
.
"Maaf nona, di luar ada ibu dan adik anda ingin bertemu dengan anda." Beri tahu maid pada Alexa yang sedang menonton TV, karena dia sendiri bingung ingin melakukan apa. Karena John melarangnya untuk beraktivitas berat.
"Ibu?"
"Iya nona."
"Katakan padanya aku sedang tidur tak mau bertemu dengannya." Jawab Alexa dingin. Dia tak mau bertemu dengan mereka karena tak ingin terjadi sesuatu dengan janinnya lagi.
Terakhir dia bertemu dia langsung kritis hingga membahayakan janinnya meski dia datang dengan ayahnya. John berpesan padanya untuk menjaga diri baik-baik. Dan menghindari ibunya mungkin itu juga termasuk. Alexa tak mau lagi ditindas, demi janinnya dia tidak akan lemah lagi.
"Baik nona." Jawab maid itu meninggalkan kamar Alexa.
Alexa memilih untuk menghubungi John dengan mengiriminya pesan kebetulan sekarang jam makan siang.
'Sedang apa sayang? Sudah makan siang?' Isi pesan yang dikirim Alexa dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
'Tentu saja. Kau juga harus makan siang!' Balasan pesan dari John membuat Alexa tersenyum bahagia mendengar notifikasi pesan.
'Aku baru saja selesai. Kau pulang jam berapa?' Tanya Alexa dalam pesan balasannya.
'Mungkin sore atau agak malam, pekerjaanku lumayan banyak. Akan kuusahakan pulang lebih cepat.'
'Terima kasih. I love you.'
'Love you too.'
Pesan seperti itu sudah membuat Alexa bahagia. Apalagi John langsung membalas pesannya tanpa membuatnya menunggu lama.
"Sombong sekali dia tak mau menemuiku. Dimana dia sekarang? Alexa!" Teriakan dia luar membuat Alexa menghela nafas panjang. Dia tahu tidak mudah mengusir ibunya. Ibunya pasti marah merasa diacuhkan. Tapi dia tak bisa lemah dan pasrah begitu saja. Dia pun menghubungi sekuriti penthouse untuk mengusir ibu dan adiknya. Dia tak mau menyesalinya karena hal ini bisa membahayakan kondisi janinnya.
Ting tong
"Ya?" Salah seorang maid membukakan pintu.
"Saya mendapat laporan dari nona Alexa kalau ada tamu yang tidak diundang mengganggu kenyamanannya." Ucap salah seorang sekuriti itu dengan tegas.
"Apa kau bilang? Tanya tidak diundang? Mengganggu kenyamanannya. Dasar anak durhaka kau Alexa, berani sekali kau memperlakukan ibumu seperti ini." Seru Maria tidak terima.
"Kakak, apa maksud dari semua ini." Sang adik tiri ikut-ikutan marah namun sepertinya Alexa tetap enggan keluar dari kamarnya.
"Bawa mereka pergi pak!" Titah maid yang membukakan pintu tadi.
"Hei kau! Pelayan! Jangan kurang ajar ya! Panggil Alexa!" Teriak Maria, sekuriti segera mendekat untuk menarik keduanya keluar dari penthouse.
.
__ADS_1
.
TBC