Simiskin Dan Wanita Kaya

Simiskin Dan Wanita Kaya
whatsaap 3


__ADS_3

"Belum, poss, kebangun aku" jawab maria.


"Posa, habis tawuran ya" terusnya, ia tahu dari mana tentang itu, aku tak bisa berkata, inginku mengelak, tapi tak apalah menurutku tak ada yang harus ditutup tutupi tentang itu selagi tidak terlalu intim bagiku. "Tadi aku liat kau dam teman teman mu di depan rumah sakit ngawal ambulance" kata kata itu semalin menguatkan argumen maria.


"Iya, mar."


"Kamu juga ya yang mengajak temanmu?" pertanyaannya lebih menjurus dan membuatku terdiam, siapa yang memberitahunya.


"Iya mar, tadi temanku di cegat anak sebelah, sampai sampai ia masuk rumah sakit sekarang, rumah sakitnya sama denganmu, di sardjito." Aku menjelaskan ke maria sedikitnya, agar ia tahu.


"Iya aku tadi liat kok."


Aku bingung harus berkata seperti apa, kata kata itu membuatku termenung dan membalas dengan apa.


Tak kusadari rasa mengantuk dimataku perlahan menghilang, lelahku sudah tak terasa lagi. Aku ingin membuat topik tapi aku tak bisa, aku bodoh, chattanku terjeda 15 menit sebab kata yang terakhir itu bagiku adalah kata kata yang di ucapkan diakhir pembahasan.

__ADS_1


"Gimana kakimu?" tanyaku, aku berbasa basi agar selalu chattan denganya hingga aku terlelap dalam tidur, tapi sialnya mataku tidak bisa bekerja sama malam ini, ia ingin membuka setiap waktu demi kenikmatan sesaat.


"Alhamdulillah pos,sudah mendingan" jawabnya.


"Allhamdulillah" kagetku dalam hati, maria beragama islam, ku kira ia non muslim, tapi semenjak itu aku menyadari bahwa ia islam, banyak pertanyaan muncul di otaku seketika.


"maria muslim?" tanyaku dengan sesekali kulihati apakah ini pantas atau tidak, tapi tak apalah.


"iya poss, kau kira aku non ya, kau tak tahu nama panjangku kan, emang sih keliatannya aku non sebab aku biasa dipanggil maria" ia membalas dengan kata kata yang tak ku kira, ia akan membalas seperti ini, ku kira ia akan menjawab simpel, ternyata tidak, ia humble, apakah denganku saja ia seperti ini, atau dengan yang lainyya juga.


"maria nur'aini."


Mungkin disekolah saat diabsen, akan disebutkan nama lengkapnya, tapi kebiasaanku setelah namaku disebut akau akan menaruhkan kepala ke meja lalu tidur sampai akhir pelajaran selesai, itu semua sebab aku dari sepulang sekolah sampai malam bekerja diparkiran.


Malam ini sedikit ada kebahagiaan muncul di didalam diriku, perasaanku yang tadinya tak terlalu memikirkan tentang percintaan, semenjak melihat maria rasa inginku memiliki kuat, tapi kasta  menghalangi perasaanku yang liar ini, sehinggga aku tak terlalu berani sat set sat set kepadanya.

__ADS_1


"Dapet nomorku dari mana?" tanyaku memecah keheningan disela sela chattan.


"Dari arhan, poss."


Aku tak mengira arhan mau memberi nomorku, apa yang diucapkan maria ke arhan sampai sampai ia mau memberi nomorku, apakah arhan sudah terlalu suka, atau sportif, ah entahlah tak uah terlalu aku pikirkan.


Fajar khadib mulai terlihat dari sela sela ventilasi jendelaku, menandakan waktu sudah mendekati sepertiga malam, mataku tak mau terlelap, ayam ayam sudah saling bersautan yang konon kata orang dulu bahwa malaikat sedang mencari hamba hamba yang sedang berdoa diwaktu itu, aku tak mau ketinggalan aku sisipka tiga atau dua doa yang sangat ingin kugapai.


"Tuhan berilah umur ibukku panjang dan berilah kebahagiaan pada diriku." jika aku terbangun disepertiga malam aku akan berdoa walaupun aku jarang melakukan sholat tahajud.


Dan doa yang kedua mungkin tuhan titipkan lewat maria, semoga saja.


"Tidur, pos, biar disekolah gak tidur aja" maria meledekku, aku suka, sedikit gembira.


Mungkin ini yang dinamakan rasa, ia tak berbentuk tapi sangat mengena.

__ADS_1


"Iya, ini mau tidur aku" aku menjawabnya, sebab mataku sudah lelah, badanku sakit, dan hatiku sedikit gembira, mungkin tidur kali ini akan nikmat walaupun hanya sesaat sampai pagi datang.


__ADS_2