
Hari hari pun berlalu, Tak terasa sudah seminggu posa tak masuk sekolah karena sedang dirawat dirumah sakit dan dihari minggu badanya mulai membaik, dan bisa diperiksa dari rumah. Maria menjenguk posa terhitung hanya dua kali setelah posa dioperasi. Posa tak tahu apa penyebabnya. Dan sampai detik ini bu isna tak memberi tahu posa siapa yang membayar biaya operasinya yang tak murah.
Hari seninpun menyongsong, posa mulai melanjutkan sekolahnya, ia bersiap siap sarapan lalu berjalan kaki kerumah econ untuk mengambil motor kesayanganya.
"Conn." Teriak posa saat sampai depan rumah econ.
"Oii." Ucap econ keras dari dalam rumah lalu berlari keluar.
"Motor ane mana?" Ucap posa dengan seperti biasanya, senyum renyah.
"Udah bisa bawa motor lu? Tanya econ.
"Bisa con udah enakkan ni badan gua."
"Itu diparkir disebelah." Ucap econ sembari menunjuk motor tuanya posa.
"Kunci?"
"Sebentar gua ambilin sekalian ambil tas terus gass." Jawab econ meninggalkan posa didepan rumah tanpa menyuruhnya duduk.
"Ah sial gua gak disuruh duduk ini." Gumam posa. Posapun duduk didepan rumah econ yang megah nan aestetic rumah idaman anak muda.
"Den econ gak makan dulu?" Tanya pembantu econ terdengar sampai luar rumah.
__ADS_1
"Makan di sekolah aja bi." Ucap econ.
"Ayo poss gas!"
"Kuy lah."
Mereka berduapun mulai menghidupkan motornya dipanaskan sebentar lalu berangkat kesekolah.
"Poss tau gak lu?" Ucap econ saat berenti dilampu merah.
"Kenapa ***?"
"Maria deket ama ketua osis sekarang?"
"Beneran lu con?"
"Iya pos, kemaren gua liat mereka habis maen."
"Pantes maria akhir akhir ini tidak nge wa gua." Gumam posa dalam hati.
"Tiinnnn." Terdengar klakson dari belakang arah motor posa, yang membuat posa tersadar dari lamunannya.
"Ayo *** udah lampu hijau." Disusul perkataan econ.
__ADS_1
Posapun melajukan motornya dengan rasa malas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya kacau pikiranya terbang. Hingga tak terasa sebentar lagi memasuki area sekolahan yang baginya menjadi samar seminggu tak memasuki sekolah.
Motorpun diparkir di sekolahan, ia berjalan bebarengan dengan econ menuju kelas yang sebentar lagi baginya sudah suram, tak ada lagi rasa semangat untuk sekolah hinggap dibadanya setelah mendengar kabar itu. Menghisap rokok di pagi hari yang biasanya ia lakukan pun malas sekali rasanya.
Tas maria tak tampak di kursinya, menandakan ia belum sampai sekolahan. Teman teman melihatinya setelah seminggu tak masuk kelas, trio tak tampak dikelas. Ia pun menaruh tasnya lalu menyenderkan kepalanya untuk tidur seperti biasa ia lakukan.
"Posaaa." Teriak maria mengagetkanya sebelum ia pergi ke alam mimpi.
Posa membalasanya dengan senyum tipis, ia tak menampakanrasa kecewanya, sebab ia sadar ia bukan siapa siapanya dan tak pantas bersanding dengan maria.
"Udah mendingan badan lu?" Tanya maria sembari manaruh tasnya lalu duduk disamping posa.
"Udah mar alhamdulillah." Jawab posa sembari menaruhkan kepalanya dimeja.
Maria tak mau kalah ia juga menaruh kepalanya dimeja sehingga berhadap hadapan dengan posa.
"Mana sini kulihat?" Tanya maria sembari mengangkat baju sebelah kiri posa.
"Buat apa mar?" Ucap posa replek sembari memegangi tangan maria.
"Liat aja masa ndak boleh!" Ucap maria murung.
"Iya iya, ni liat." Posapun luluh lalu membuka sedikit bajunya sampai terlihat sisa sisa jahitanya.
__ADS_1
"Hiii." Ucap maria meledek dan hanya posa ladenin dengan memalingkan wajahnya berlawanan dengan maria sembari menaruh kepalanya ke meja kembali.